
“Put, aku butuh bantuanmu,” sapa Aditya ketika panggilannya sudah tersambung dengan putra.
“Apa yang bisa aku bantu, bos?”
“Aku ingin geng Kujang mengawasi gerak gerik tiga orang. Pastikan kalian jangan sampai ketahuan apalagi tertangkap oleh mereka.”
“Siapa saja orangnya?”
“Orang pertama adalah Daniel, dia adalah Presdir Laksana Group. Kedua adalah Presdir Unesia Corp, Jaya Sebastian. Ketiga adalah wakil Presdir Glow & Shine, William Janaka. Aku ingin mendapat informasi terkait aktivitas mereka terutama yang berurusan dengan kejahatan.”
“Mereka bertiga adalah orang yang cukup dikenal. Aku sedikit paham dengan penyelidikan Daniel karena dia memang beberapa kali muncul di pasar gelap, tapi ada apa dengan kedua orang lainnya?”
“Saat ini aku merasa jika mereka bertiga cukup dekat akhir-akhir ini. Aku yakin ada hubungan diantara mereka bertiga.”
“Hubungan?”
“Ya, saat ini William sedang mencoba mengambil alih perusahaan Glow & Shine milik kenalanku. Aku merasa dia mendapat dukungan dari kedua orang itu. Meski ini baru sekedar perkiraanku saja. Karena itulah aku membutuhkan beberapa bukti kuat untuk meyakinkan analisisku.”
“Baiklah, akan kubantu semampuku.”
Panggilan berakhir. Aditya kemudian pergi untuk menemui Frita. Rani baru saja keluar dari ruangan Frita sambil membawa beberapa berkas di tangannya. Dilihat dari ekspresi Rani mungkin saja Frita tidak memberitahu hasil dari rapat tadi. Aditya mengurungkan niatnya untuk bertemu Frita.
Aditya kembali menuju gedung bagian keamanan, tadi dia lupa meminta alamat rumah Dani. Dia berniat hari sabtu besok baru akan menjenguknya. Hari ini Aditya menghabiskan jam kerjanya dengan mondar-mandir, mengobrol dan bersantai seperti pekerja yang lain.
Sore harinya Aditya pulang bersama Frita, sepanjang jalan hingga sampai ke rumahnya Frita terlihat begitu murung. Ketika Aditya bertanya pun dia hanya menjawab seadanya dengan senyuman yang dipaksakan. Aditya pikir mungkin dia sedang berusaha untuk terus menyembunyikan kesedihannya saat ini.
“Kakak kenapa ya? Dia kelihatan tidak semangat banget hari ini,” tanya Clarissa.
“Mungkin dia cuma kelelahan doang Ris,” jawab Aditya.
“Biasanya juga nggak semurung itu. Aku tanya dia langsung saja deh,” ujar Clarissa.
“Jangan, biarkan kakakmu istirahat hari ini. Jangan diganggu, nanti kamu malah diomelin lagi,” cegah Aditya sambil tersenyum. Clarissa hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Malam harinya Aditya menerima telepon dari Pandu. Ternyata dia sudah tahu permasalahan kalau William diangkat jadi Presdir baru perusahaan. Dia bilang jika tadi siang para pemegang saham beserta William sudah mengabarinya.
“Menurutmu sendiri bagaimana dengan masalah ini Dit?” tanya Pandu.
“Entahlah, saat ini saya masih bingung. Tapi kelihatannya William memang sudah sejak lama merencanakan hal ini.”
“Kamu benar, aku bahkan tidak menyangka akan seperti ini. Selama ini aku tidak merasakan niat jahat darinya, walaupun tadi dia berusaha bilang bahwa itu seolah terjadi atas kehendak para pemegang saham, tapi aku menangkap ketidakjujuran dari perkataannya.”
“Lalu, para pemegang saham sendiri bagaimana pak?”
“Mereka membuat alasan yang logis untuk menggantikanku, tapi alasan mereka menolak Frita tidaklah memuaskan. Aku juga sudah berusaha bernegosiasi dengan mereka tapi gagal, aku tidak bisa apa-apa lagi sekarang. Mungkin jika sudah pulang nanti aku akan mencobanya lagi,” jelas Pandu.
“Lalu bagaimana keadaan Frita saat ini?” tanya Pandu.
“Memangnya dia belum mengabari anda hari ini?”
“Tidak, sejak tadi siang dia tidak menghubungiku lagi. Aku rasa sebaiknya aku membahas masalah ini ketika pulang nanti saja.”
“Kamu benar, walaupun begitu aku sekarang tetap cemas, sejak dulu Frita sangat ingin membuat perusahaan maju karena itulah dia terus berusaha keras sampai saat ini. Aku tidak bisa membayangkan sesedih apa dia saat ini.”
“Anda tidak usah cemas, saya akan berusaha membuatnya tersenyum kembali.”
Panggilan berakhir setelah Pandu bilang bahwa dalam waktu dekat dia akan segera pulang. Aditya melihat Frita sedang duduk di tepi kolam renang sambil menatap langit malam. Aditya kemudian menghampirinya.
“Hari ini kelihatannya kamu terlihat sangat murung,” ujar Aditya pura-pura tidak tahu.
“Aku hanya sedang tidak semangat saja hari ini,” jawab Frita tanpa menoleh.
“Kalau begitu pasti ada alasan kenapa kamu tidak semangat hari ini. Aku perhatikan tadi pagi kamu masih sangat semangat,” kata Aditya namun Frita hanya diam saja sambil menatap langit yang mendung.
“Hemh, jika ada sesuatu yang membuatmu murung seperti itu kamu bilang saja kepadaku, mungkin aku bisa ikut membantu,” bujuk Aditya sambil duduk di samping Frita yang masih terdiam membisu.
“Apa ini karena masalah William? Aku perhatikan kamu menjadi murung seperti ini sejak mengikuti rapat tadi siang,” ucap Aditya. Frita terlihat terkejut mendengarnya.
__ADS_1
“Jika ada hal yang membuatmu sedih, sebaiknya ceritakan saja kepadaku. Jangan dipendam sendiri, nanti sakit loh.”
“Aku hanya merasa jika usahaku selama ini sia-sia saja Dit, aku tidak menyangka jika pada akhirnya semua usahaku tidak dihargai,” ucap Frita mulai terbuka.
“Semua orang di perusahaan menghargaimu kok, jika orang yang tidak mernghargaimu itu bukan orang yang setiap pagi datang ke kantor untuk apa kamu menanggapinya? Mereka behkan tidak pernah melihat kerja kerasmu di kantor selama ini. Mereka hanyalah orang-orang bodoh.”
“Mungkin aku yang bodoh Dit, selama ini aku bahkan tidak sadar jika ada orang yang berniat menguasai perusahaan sendirian.”
“Maksudmu William?”
“Ya, saat ini dia bahkan ditunjuk oleh para pemegang saham sebagai Presdir baru perusahaan,” jawab Frita. Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.
“Jadi itu yang membuatmu sedih, kamu sebaiknya jangan menyalahkan diri sendiri, aku yakin semua orang di perusahaan juga tidak akan menyangka hal itu akan terjadi.”
“Sekarang aku bingung Dit harus bagaimana lagi, aku tidak ingin perusahaan yang sejak dulu ayahku bangun menjadi berantakan hanya karena orang yang serakah. Aku.. aku merasa malu pada diriku sendiri, apa yang harus aku katakan kepada ayahku nanti, aku tidak mau jika orang-orang yang loyal pada perusahaan pada akhirnya dibuang begitu saja,” ujar Frita sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.
“Untuk apa kamu memikirkan hal seperti itu, aku yakin ayahmu sendiri tidak akan menyalahkanmu atas kejadian ini. Sebaiknya jangan jadikan hal seperit itu sebagai beban pikiranmu karena yang memikul tanggung jawab perusahaan bukan hanya kamu seorang,” hibur Aditya sambil mengelus pundak Frita.
“Jika kamu ingin menangis sebaiknya menangis saja jangan ragu,” kata Aditya.
“Tapi airmata tidak akan mengubah apapun Dit.”
“Memang benar airmata tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi, tapi jika itu bisa meringankan bebanmu kenapa harus ragu?”
“Selama ini aku terus berusaha untuk membuat perusahaan semakin maju, aku tidak mau dianggap cengeng kerena menangis hanya disebabkan masalah seperti itu.”
“Kamu tahu, pada dasarnya wanita itu memang mudah menangis, karena itulah mereka membutuhkan peran seorang pria di sampingnya untuk menyeka airmata yang keluar. menangis juga merupakan salah satu cara agar bisa meringankan beban pikiran. Karena itu jangan malu atau takut disebut cengeng,” ucap Aditya. Frita terdengar mulai terisak.
“Jika kamu sedih bilang saja sedih, jika ingin menangis, menangis saja jangan ragu. Biarkan aku memainkan peranku sebagai seorang pria disaat ini, menangislah agar nanti aku bisa menyeka airmatamu,” ucap Aditya dengan lembut.
Frita kemudian memeluk erat Aditya. Airmatanya mengalir deras seiring isak tangisnya yang tak bisa dibendung lagi. Clarissa hanya termenung sambil melihat mereka dari lantai dua.
BERSAMBUNG...
__ADS_1