
Ellena dan Siska saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sean. Kenapa pria muda yang baru memperkenalkan dirinya pada Siska itu tiba-tiba memberikan perintah begitu saja.
“Sean, mau ngapain ke hotel?” tanya Ellena.
“Maaf kalo kayanya ga sopan. Tapi tadi kan kamu bilang kalo Nathan sering kepanasan dan juga dia ga bisa pake kipas angin terlalu lama. Kita pasang AC aja ya di rumah ini. Nanti aku suruh Mathias hubungi orang yang biasa kerjain,” jawab Sean menjelaskan.
“Eh ... kok jadi merepotkan. Ga usah, lagian mana kuat dayanya. Kan di sini pakai daya standart aja. Ga yang mewah-mewah kok.”
“Nanti biar Sean yang urus semuanya, Bu. Saya mau kalian semua nyaman. Atau mau pindah apartemen aja ato rumah mungkin. Saya bisa kasih semua kok.”
“Eeh ... kok malah begitu. Ga usah, aduh ... Ell gimana ini,” ucap Siska yang bingung dengan apa yang ditawarkan oleh Sean.
“Sean ga usah ih. Kamu nih kalo udah ada maunya selalu gitu deh. Udah ga usah pake apartemen segala. Rumah ini aja udah nyaman buat kami kok.”
“Bearti di renov aja ya dikit. Boleh ya, Bu. Biar makin nyaman. Kebetulan aku punya temen ahli interior.”
“Ell, gimana?” tanya Siska ragu.
Siska sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Sean. Bagaimana mungkin pria yang baru saja datang ke rumahnya itu malah menawarkan untuk renovasi rumahnya. Mungkin Sean memang terlalu senang karena dia bertemu dengan anak kandungnya, tapi untuk menghamburkan uangnya masih tidak dipercaya.
Ellena memanyunkan bibirnya. Tatapan mata Sean sudah mengisyaratkan kalau dia tidak menerima sebuah penolakan. Ellena yang masih menggendong Nathan segera mengecup pipi gembul Nathan.
“Than, Daddy mau kasih AC di rumah, Nathan seneng ga?” tanya Ellena.
“Mau ... kaya yang di kelas Nathan sekolah itu ya?” tanya bocah tampan itu.
“Iya ... jadi nanti Nathan kalo mau liat TV bisa ga kepanasan lagi, mau ga?”
“Mau. Nanti kalo bobo sama Mama juga ga kepanasan ya?”
“Iya ... bobonya biar makin nyenyak ya. Bilang apa sama Daddy kalo udah dikasih AC.”
__ADS_1
“Makasih Daddy,” ucap lucu Nathan sambil menoleh ke arah Sean.
“Sama-sama, sayang. Nathan mau apa lagi di rumah? Mau mainan ga?” tanya Sean yang mengambil kesempatan untuk mengetahui apa yang diinginkan putranya itu.
Nathan bertutur tentang mainan kereta dan pesawatnya yang rusak setelah dia bermain bersama dengan teman-temannya di rumah. Sean yang mendengar cerita itu merasa sangat senang, dia akan mengingat apa saja yang diinginkan putra kebanggaannya itu.
Menyadari Nathan sudah banyak bicara pada Sean, bocah kecil itu segera memeluk Ellena karena dia malu. Tangannya melingkar di leher Ellena yang membuat Sean semakin gemas. Tangan Sean refleks mengacak rambut hitam legam milik Nathan yang menurun darinya.
Hari sudah mulai malam, Sean pun berpamitan dan meminta ijin dari Siska dan Ellena untuk memperbolehkan dia main ke rumah Ellena lagi. Tentu saja niatnya selain untuk menaklukkan Ellena dan ibunya adar dia bisa segera menjadi menantu di rumah sederhana itu, dia juga ingin segera bisa akrab dengan Nathan, buah hatinya bersama Ellena.
Setelah Sean berpamitan, Nathan segera minta turun dan segera berlari masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Ellena masuk paling akhir sambil mengunci pintu gerbang rumah mereka. Sean yang berjalan keluar gang rumah Ellena pun berjalan dengan hati sangat bahagia dan senyum lebar.
“Yes!! Bentar lagi kamu akan jadi milik aku Nathan. Aku bakal ajak kalian semua pindah ke rumah besar dan mewah. Iya ... aku harus mulai cari rumah mewah untuk mengajak mereka pindah ke sana setelah aku menikahi mama cantik itu. Nathan udah besar banget, kayanya udah pantes kalo dia punya adik lagi,” ucap Sean sendiri sambil terkekeh.
Sementara itu di dalam rumah Ellena, Siska segera mendatangi kamar putrinya. Dia ingin mendengar cerita sejauh mana hubungan putrinya itu dengan Sean. Dia ingin tahu semuanya sekarang, dia tidak ingin Ellena menyembunyikan apa pun lagi.
Sambil membersihkan make up yang ada di wajahnya, Ellena menceritakan sedikit tentang kedekatan dia dan Sean yang dimulai saat Ellena pulang tengah malam itu. Siska menyimak semua cerita putrinya itu dengan seksama agar dia tidak salah tanggap.
“Ell, orangnya kayanya egois gitu sih. Dia tukang marah ga sih? Kok Ibu takut nanti kamu dimarahin mulu ama dia,” tanya Siska sedikit mengkhawatirkan putrinya.
“Huuu dasar kamu itu ya! Kalo udah jatuh cinta pasti gitu. Buruan mandi sana, bau!” ucap Siska sambil memukul pelan punggung putrinya dengan guling.
Ellena tertawa mendengar apa yang dikatakan ibunya. Tapi memang benar apa yang dikatakan ibunya kalau dia sudah jatuh cinta. Dia jatuh dalam pesona Sean yang memabukkan dia itu. Bahkan mungkin kalau ini memang hanya sebuah mimpi, Ellena tidak ingin bangun dari mimpi indah ini.
“Eh tapi Ell, itu ga papa kita terima masalah renovasi rumah?” tanya Siska lagi saat dia ada di pintu depan pintu kamar Ellena.
“Aduh Bu, Ellena juga ga tau tapi ikutin aja lah. Ini aja Ellena juga bingung sama Sean, masa iya dia kasih Ellena kartu ATM dia. Kalo sampe ga ada laporan pembelanjaan, Ellena bakal dimarahi. Kan aneh banget itu,” ucap Ellena mengadu.
“Eh kamu dikasih kartu ATM juga?”
“Iya ... baru tadi.”
__ADS_1
“Ell ... kalo kamu belanja pake kartu itu hati-hati ya. Trus kamu simpen semua struknya kalo perlu kamu catet kamu belanja apa, tanggal berapa dan habis berapa. Kaya pembukuan gitu loh.”
Ellena melihat ibunya dari pantulan kaca, “Emang perlu ya kaya gitu? Emang buat apa?” tanya Ellena.
“Biar kamu punya catetan pengeluaran. Itu anaknya Bu Bambang putus dari pacarnya, eh malah di suruh balikin semua yang pacarnya kasih dulu. Takutnya nanti Sean gitu juga,” jawab Siska sambil menceritakan tentang tetangga mereka.
“Ih Ibu, Sean bukan orang kaya gitu. Lagian kok doainnya putus sih. Doain langgeng gitu lho.”
“Eeh ... waspada itu perlu jaman sekarang. Dah buruan mandi, udah malam ini.”
Ellena memanyunkan bibirnya sambil melihat punggung ibunya yang pergi meninggalkan kamarnya. Dia kemudian melihat pantulan dirinya sendiri di sana.
"Masa sih Sean bakalan perhitungan kaya gitu? Kok jadi takut aku ya kalo mau belanja. Ih ga mungkin, lagian kan aku belanja juga buat Nathan ... anak dia sendiri. Ga mungkin ah," gumam Ellena sendiri yang lalu kembali membersihkan wajahnya lagi.
***
Ellena duduk di halte tempat biasa dia akan menunggu mobil jemputan. Dia masih belum melihat Arina yang selalu ada bersamanya di tempat itu. Topik yang pagi ini dia dengar dari pekerja lain masih tentang pelakor yang malas Ellena dengar. Wanita itu segera memasang earphone di telinganya yang dia sambungkan ke ponselnya.
“Ell,” ucap seseorang yang sudah duduk di sebelah Ellena.
Ellena menoleh dan melihat Arina di sampingnya, “Tumben telat, bangun siang ya?” tanya Ellena sambil melepaskan earphone di telinganya.
“Biasalah. Eh itu apaan?” tanya Arina yang melihat ada tas bekal di samping Ellena.
“Eh ini ... bekal aku kok. Perut aku rada ga enak pagi ini, jadi nanti sarapan di kantor aja,” jawab Ellena yang sengaja membawa bekal untuk dia dan Sean.
“Oh gitu ya. Eh iya ... kemaren kamu pulang jam berapa?” tanya Arina.
“Jam berapa? Kan aku pamit sama kamu kemaren pas mau pulang.”
“Oh iya lupa. Biasanya aku duluan ya yang pulang, sampe lupa aku,” ucap Arina sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
“Ell, maaf ya. Kemaren kamu beneran pulang sore? Aku liat kamu keluar dari lift bareng Pak Sean. Kamu beneran yang dibilang digosip kantor kan?” tanya Arina memberanikan diri.
Bersambung....