
Brian dan seluruh anak buahnya berpisah dengan Viktor yang berbeda arah. Mereka kemudian berhenti di sebuah terminal. Setelah cukup lama mereka kemudian berpencar untuk mengisi pos-pos yang sudah disusun oleh Brian. Namun setelah cukup lama mereka memeriksa keadaan di wilayah itu tampaknya tidak ada tanda-tanda pergerakan dari geng Serigala.
“Ada yang tidak beres dengan semua ini,” gumam Brian.
“Memangnya kenapa bos?” tanya anak buahnya. Brian tidak menjawab, dia malah termenung dengan wajah cemas tiba-tiba saja wajahnya berubah serius.
“Panggil kembali mereka yang berpencar untuk segera datang ke sini, kita akan pergi menuju wilayah Viktor,” perintah Brian dengan wajah pucat.
”Kenapa bos?”
“Panggil segera! Kita sekarang sudah dalam perangkap musuh!” tegas Brian.
Semua anak buahnya segera bergegas pergi menyusul rekannya yang sudah berpencar. Tak lama kemudian mereka semua kembali berkumpul di terminal. Brian kemudian mengajak mereka pergi menuju lokasi Viktor.
“Kenapa kita harus ke sana bos? Nanti di sini tidak ada yang melindunginya?” tanya seorang anak buah Brian.
“Menurutku jika kita tetap di sini itu hanya akan menguntungkan lawan,” jawab Brian.
“Maksudnya?”
“Maksudku, informasi yang didapatkan oleh informan kita tidaklah tepat. Kemungkinan Gerald dan Edgard berkumpul di wilayah Viktor untuk menghabisinya terlebih dahulu yang sudah kalah jumlah, setelah berhasil mengalahkan Viktor maka mereka akan membawa seluruh anggota mereka kemari,” jelas Brian.
“Aku yakin ada pengkhianat di dalam geng Merak ini, karena itu dengan segera pihak musuh juga membuat perubahan rencana. Cih! Aku benar-benar kecolongan,” gerutu Brian.
Mereka kemudian pergi menuju lokasi Viktor. Mereka semua kaget karena dugaan Brian memang benar, terlihat kelompok Viktor sedang kewalahan karena dilawan oleh dua rombongan. Yang membuat mereka lebih terkejut lagi ternyata yang memimpin rombongan geng Serigala adalah Tri dan Edgard.
“Celaka!” ujar Brian.
“Bantu rekan kita!” teriak rombongan Brian sambil maju membantu rombongan Viktor yang sudah babak belur.
“Brian?” gumam Viktor saat melihat temannya datang.
“Lu lihat kemana hah!” bentak Edgard sambil menyerang Viktor namun ditahan oleh Brian. Tri alias Arya juga ikut membantu. Pertarungan keempat petinggi itu berlangsung sengit.
“Aku tidak pernah menyangka jika rencana matangku dengan mudahnya bisa diketahui oleh para sampah seperti lu!” bentak Brian.
__ADS_1
“Hahaha lu saja yang terlalu naïf Brian!” balas Edgard.
“Asal kalian tahu, saat ini Ratna dan Verdi rekan kalian juga pasti sudah babak belur dengan penuh rasa terkejut,” timpal Tri.
“Keparat kalian! Kejadian ini tidak akan pernah gue lupakan!” bentak Viktor.
“Maafkan kami. Ketua, Ratna,” ucap Brian sambil tertunduk pasrah.
***
Aditya memilih turun dari taksi saat melihat ada mobil Ratna yang terparkir di depan restoran. Ketika dia hendak mendekat tiba-tiba saja ada beberapa geng Serigala yang maju menyerang geng Merak yang berpencar di sekitar restoran.
“Ratna?” gumam Aditya ketika melihat Ratna dibawa menuju mobil Gerald.
“Cih, aku terlambat.” Gumam Aditya sambil melihat mereka dari kejauhan.
Orang-orang geng Serigala itu segera pergi meninggalkan restoran itu sambil bersorak karena sudah merasa menang. Aditya segera mendekati mobil Ratna. Lalu dengan keterampilannya dia bisa membuka pintu mobil dan menghidupkannya. Kemudian dia mengemudikannya untuk mengejar Gerald.
“Bos ada yang mengikuti kita,” lapor anak buahnya yang sedang menyetir.
“Itu?” gumam Ratna terkejut karena ternyata mobilnya yang sedang mengikuti dari belakang.
“Cih! Kenapa dia dibiarkan begitu saja!” gerutu Gerald ketika melihat anak buahnya yang ada di belakang hanya membiarkannya saja.
Sebelum Gerald memerintahkan anak buahnya yang ada di belakang menjegal, Aditya sudah berada di samping mobil Gerald. Anak buahnya yang sedang menyetir segera berusaha mengemudikan mobilnya dengan maksimal. Kedua mobil itu melesat bergandengan di jalan. Tapi kemampuan menyetir Aditya memang tidak ada tandingannya.
“Dia benar-benar gila!” ucap anak buah Gerald ketika Aditya berhasil menyalipnya.
“Cih! Mau tidak mau kita harus berhenti menghajarnya!” gerutu Gerald.
“Kelihatannya dia akan menghadang kita di jalan yang sepi,” ujar Gerald.
“Apa itu kamu? Aditya?” batin Ratna setelah melihat gaya mengemudikan mobilnya yang mirip dengan Aditya.
Di sebuah jalan yang cukup sepi Aditya menghentikan mobilnya menghalangi jalan. Semua rombongan Gerald berhenti karena tidak bisa lewat. Hati Ratna mulai berdebar saat pintu mobilnya terbuka. Seorang pria yang mengenakan topi dan masker keluar dari dalam mobil, Ratna tersenyum bahagia karena ternyata pria yang ada di depannya adalah Aditya.
__ADS_1
Gerald dan anak buahnya segera turun dari kendaraannya masing-masing. Dia kemudian menatap tajam Aditya dengan raut wajah kesal. Semua anak buahnya berkumpul di belakang Gerald.
“Siapa lu?” tanya Gerald.
“Ho, hanya dengan atribut seperti ini saja lu sudah nggak bisa mengenali gue? Gerald,” jawab Aditya.
“Lu?” ucap Gerald terkejut dia tahu betul suara dan gaya bicara Aditya.
“Kelihatannya kalian berhasil mengelabui geng Merak ya, sayangnya rencana kalian tidak cukup matang di mataku.”
“Apa maksud lu?”
“Sejak awal di perang kali ini kalian memang mengincar Ratna untuk melemahkan geng Merak. Kalian dengan baik bisa memerankan posisi si pengkhianat untuk mengacak acak rencana yang telah geng Merak susun, ide licik kalian memang tidak pernah habis,” jelas Aditya sambil bertepuk tangan.
“Lu tahu apa dengan keadaan sekarang ini?”
“Aku memang tidak tahu apa yang memicu kejadian ini, tapi semua kuncinya ada pada salah satu tangan petinggi geng Merak, Verdi.”
“Cih, jadi lu tahu juga identitasnya ya?”
“Hahaha itulah kenapa aku bilang rencana kalian tidak cukup matang bagiku. Kalian sejak dulu memang sengaja menyusupkan dia ke geng Merak hingga akhirnya bisa dipercaya oleh Bima menjadi seorang petinggi. Namun dia malah berusaha meracuni Bima dan membocorkan rencana geng Merak kepada kalian,” tutur Aditya.
“Aku yakin saat ini anak buah Verdi yang masih loyal kepada geng Merak sedang dihajar oleh bosnya sendiri. Ironis sekali memang karena di wilayah yang dia jaga sebenarnya tidak ada geng Serigala, kemungkinan yang ada di sana hanyalah Gilang seorang. Sebagai gantinya anak buah Gilang bergabung dengan rombonganmu untuk mengalahkan rombongan Ratna yang jumlahnya banyak,” tambah Aditya sambil tersenyum.
“Lumayan pintar juga ternyata. Sayangnya lu dengan gegabah malah menampakan diri di hadapanku. Apa lu percaya diri bisa menghadapi kami yang sebanyak ini?” tanya Gerald sambil tertawa puas.
“Aku memang tidak pernah menyangka akan menghadapi orang sebanyak ini, hanya saja sebanyak apapun orangnya jika hanya sekelas sampah doang mah aku yakin bisa menang,” ledek Aditya sambil tersenyum meremehkan.
“Lu pasti menyesal di alam baka karena sudah meremehkan kami!” bentak Gerald.
“Kita lihat saja nanti, Gerald.”
“Serang dia!” teriak Gerald. Semua anak buahnya segera maju menyerang Aditya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1