Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 183


__ADS_3

“Harap semuanya parkir di lapangan dengan rapi,” sambut seorang anggota geng Serigala dengan ramah, dia menunjuk lapangan luas yang berada di tengah perkebunan teh.


“Gila banyak banget yang hadir,” ucap seorang anggota geng Merak.


“Jika sesuatu yang buruk terjadi di sini maka semuanya akan benar-benar menjadi gawat,” gumam Ratna sambil keluar dari mobil.


“Wuih Villanya gede amat inimah sudah kayak keratin,” ucap Viktor.


“Mereka benar-benar mendapatkan keuntungan yang besar kelihatannya,” gumam Brian.


Mereka bertiga dan beberapa anggota geng Merak lainnya masuk ke dalam Villa. Yang diperbolehkan masuk ke dalam hanyalah sepuluh orang dari setiap geng. Suasana di kediaman Jaja saat itu terlihat benar-benar seperti pesta besar.


“Silakan nikmati hidangannya sampai waktu pertemuan tiba,” ucap anggota geng Serigala yang bertugas menyambut para tamu.


“Kelihatannya si tua bangka masih tertidur pulas di kasurnya,” ledek Goni yang datang bersama Vendi, Egi, Arfa, Adrian serta beberapa anak buahnya.


“Apa lu bilang!” teriak Viktor sambil mengepalkan tinjunya namun ditahan oleh Brian.


“Sebaiknya kita jangan melayaninya. Mereka cuma mencoba memprovokasi kita,” kata Brian.


“Hahaha kelihatannya mereka benar-benar sudah lemah,” ujar Goni kemudian pergi meninggalkan geng Merak yang sedang menahan emosi. Semua percakapan mereka itu juga terdengar oleh Aditya lewat ponsel Ratna. Semua tamu di sana menikmati hidangan yang sudah disediakan sambil menunggu pertemuan dimulai.


Malam harinya, semua petinggi dan ketua geng yang datang ke kediaman Jaja berkumpul di sebuah ruangan yang sudah disiapkan untuk pertemuan. Mereka duduk berkelompok dengan gengnya masing-masing.


Pertemuan itu juga diawasi oleh empat orang elit pasar gelap dari ruangan lain di Villa itu, Hans dan Ketua Black Mafia sendiri tidak hadir di ruangan itu.


“Apa ada yang tahu Hans kemana? “ tanya ayah Fred.


“Entahlah aku tidak bisa menghubunginya,” jawab seorang pria yang memakai jam mahal.


“Ketua juga tidak ikut duduk di sini, padahal aku sangat penasaran ingin melihat sosok aslinya,” kata ibu Fred.


“Dia benar-benar orang yang misterius,” ujar Daniel. Perhatian mereka berempat kembali tertuju ke layar proyektor, terlihat Jaja mulai berbicara di depan semua perwakilan geng.


“Terima kasih kepada kalian semua yang sudah hadir dalam pertemuan kali ini. Terimakasih juga karena sudah menghormati kami dengan tidak memakai atribut geng masing-masing. Langsung saja tujuanku mengumpulkan kalian semua di sini adalah untuk meminta semua wilayah yang kalian miliki,” ucap Jaja sambil tersenyum.


Mendengar kata-kata Jaja seperti itu sontak membuat semua orang yang hadir saling pandang dan menyangka kalau Jaja hanya bercanda. Namun ketika Jaja menegaskan kalau yang dia katakan adalah hal yang serius membuat semua perwakilan geng mulai marah dan berteriak tidak setuju.

__ADS_1


“Apa lu sudah gila hah?!”


“Beraninya lu berkata seperti itu di depan kami!”


“Kami akan segera pergi dari ruangan ini!”


“Sayangnya kalian tidak akan bisa pergi dengan mudah,” ucap Jaja sambil tersenyum. Beberapa anggota geng Serigala dengan membawa tongkat dan pisau masuk ke ruangan itu untuk menjaga semua pintu keluar.


“Brengsek! Lu pikir kami bakalan takut hah!” teriak Goni sambil berdiri, Vendi juga ikut berdiri.


“Kami pasti akan menghancurkan geng Serigala!” teriak Viktor sambil menggebrak meja.


“Lu pasti mat-“ belum sempat Goni menyelesaikan teriakannya tiba-tiba saja Vendi menusuk dadanya dengan pisau hingga bersimbah darah.


“Vendi,” gumam Goni. Tubuhnya ambruk ke lantai bersimbah darah.


“Keparat lu penghianat!” teriak Egi. Sanbil menyerang Vendi namun berhasil ditahan olehnya, suasana di sana semakin memanas. Beberapa perwakilan geng yang mencoba melawan mulai roboh satu persatu karena dikeroyok oleh anggota geng Serigala, Gilang, Edgard dan Gerald juga mulai turun tangan untuk menghadapi para petinggi geng.


“Hahaha sebaiknya kalian menyerah saja, dengarlah di luar juga anak buah kalian sedang saling baku hantam. Karena tidak tahu mana lawan dan mana kawan,”


“Cih, jadi mereka sengaja melarang kita untuk memakai atribut geng agar mudah diadu domba ya,” gumam Brian.


“Aku akan melepaskan geng Merak agar tetap hidup. Tapi sebagai gantinya kamu harus menikah denganku,” tambah Jaja.


“Jangan mimpi!” teriak Viktor sambil berdiri di depan Ratna.


“Kalau begitu, aku akan menggunakan kekerasan untuk mewujudkan mimpi itu, Serang mereka semua yang tidak mau bergabung dengan kita!” perintah Jaja.


Semua anak buahnya maju menyerang. Arfa, Egi dan Adrian menunjukan kemampuan mereka. Dengan beringas membabi buta menyerang para anak buah Jaja. Vendi, Edgard dan Gilang tidak membiarkan mereka begitu saja. Mereka bertiga mulai baku hantam dengan kemampuan terbaik mereka. Gerald sendirian menghadapi Brian dan Viktor.


Walaupun menghadapi dua orang tetap saja kemampuan Gerald yang luar biasa mampu membuat Brian dan Viktor kewalahan. Ratna juga sibuk menghadapi anak buah Jaja yang mencoba menangkapnya. Di tengah suasana yang mencekam itu tiba-tiba beberapa orang di luar ruangan itu terdengar menjerit keras. Pintu ruangan itu tiba-tiba rusak dan ambruk.


“Jaja!” teriak Aditya dengan penuh amarah. Di sampingnya ada Bima dan Putra berdiri, semua orang yang ada di dalam ruangan mulai melirik ke arah mereka.


“Tidak akan kubiarkan lu menyentuh cucu gua seujung jari pun!” teriak Bima.


“Black Mafia! Gue tahu kalian juga ada di villa ini! Jika kalian memang punya nyali keluar sekarang juga!” teriak Putra.

__ADS_1


“Tidak kusangka kalian malah akan datang kemari dalam situasi seperti ini, Belati Maut, pak tua bangka dan bocah kemarin sore,” ledek Jaja sambil tertawa puas.


“Aku menantang kalian semua yang ada di sini! Siapapun yang mampu mengalahkanku maka dialah yang akan menjadi bos besar seluruh geng yang ada di kota Bandung!” tantang Jaja sambil tersenyum licik.


“Aku akan menghadapi si brengsek itu,” ucap Bima.


“Tidak! Aku yang akan menghadapinya, anda sebaiknya segera pergi dari sini bersama Ratna. Putra kamu sebaiknya kamu pergi dari ruangan ini untuk menangkap para anggota Black Mafia yang bersembunyi, kamu harus waspada dengan mereka terutama Ketuanya,” perintah Aditya.


“Baik bos,” jawab Putra sambil berlari keluar kembali dari ruangan itu.


“Berhati-hatilah, dia bukan orang yang bisa kamu kalahkan dengan mudah,” kata Bima dengan raut wajah cemas.


“Ya, tapi ini adalah pilihan satu-satunya yang paling baik,” jawab Aditya sambil mengepalkan tinjunya dia menatap tajam Jaja.


***


Jimmy sedang sibuk di kantornya mengurus beberapa berkas. Kepolisian Bandung tidak ada yang tahu kalau saat ini sedang terjadi perang besar antar geng di markas besar geng Serigala. Tiba-tiba saja telepon di ruangannya berdering.


“Selamat malam,” sapa Jimmy.


“Lapor pak, sekarang saya sedang berada di salah satu bar karena mendapat laporan ada penembakan dari pemilik bar,” lapor seorang polisi.


“Oke saya akan segera ke sana sekarang,” kata Jimmy.


“Cepat pak, karena ini.. Pak Arya..” ucap polisi itu namun panggilan terputus.


“Halo, halo,” teriak Jimmy namun panggilan sudah terputus.


Hatinya entah kenapa mendadak berdebar hebat. Dia segera pergi menuju mobil bersama beberapa anak buahnya. Sepanjang jalan dia benar-benar gelisah. Bayangan Arya selalu terbayang di pelupuk matanya. Tak lama kemudian dia sampai di lokasi kejadian. Di sana sudah terdapat garis polisi, beberapa polisi juga sedang mondar-mandir.


“Apa ada korban di kejadian ini?” tanya Jimmy kepada beberapa polisi, namun mereka malah tertunduk dengan mata berkaca-kaca.


“Sebaiknya kita segera masuk saja pak,” ajak seorang polisis senior.


“Baiklah,” ucap Jimmy sambil mengikuti polisi itu. Ketika masuk ke dalam bar tubuhnya seakan lemas. Jantungnya berdegup kencang melihat sosok mayat yang bersimbah darah.


“Aryaa..” teriak Jimmy. Tanpa sadar air matanya keluar membasahi pipi melihat sosok sahabat karibnya sudah terbujur kaku bersimbah darah. Tangan kanannya masih menunjuk nama Rafa yang dia buat untuk calon putranya yang belum lahir.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2