Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 87


__ADS_3

“Ini semua sudah sesuai, lepaskan ikatan anak itu!” ucap penculik.


“Kak Aditya,” ujar Clarissa sambil menangis.


“Kamu akan baik-baik saja kok,” kata Aditya sambil mengelus kepala Clarissa.


Setelah lepas dari ikatan Clarissa langsung memeluk erat Aditya. Dia tidak menyangka jika Aditya mau mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyelamatkannya. Aditya kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berhiaskan pita dari saku bajunya.


“Selamat ulang tahun ke tujuh belas Clarissa, kakak hanya bisa memberikan ini kepadamu,” ucap Aditya sambil memberikan kotak kecil itu kepada Clarissa.


“Lu jangan banyak tingkah! Cepet ikat dia lalu pergi dari sini!” bentak penculik namun Aditya masih bersikap tenang.


“Kamu sebaiknya segera pulang bersama kakakmu.”


“Tapi kak.”


“Aku akan baik-baik saja.”


“Kalian semua para polisi sebaiknya jangan coba-coba mengikuti kami! Jika ada yang berani mendekat, nyawa orang ini akan melayang!” ancam penjahat.


Para penculik pergi membawa Aditya yang terikat. Clarissa langsung berlari memeluk Frita, keduanya menangis. Bagi Clarissa kejadian ini ibarat kado pahit di malam ulang tahunnya. Jimmy kemudian mengumpulkan semua anak buahnya untuk menyusun rencana.


“Kamu dan adikmu sebaiknya segera pulang,” kata Jimmy.


“Tidak Jim, aku tidak bisa pulang sekarang. Tolong lakukan sesuatu untuk menyelamatkan Aditya. Aku yakin polisi pasti bisa melakukan sesuatu,” ucap Frita dengan berurai airmata.


“Baiklah, aku akan mencoba semampuku.”


“Kalian semua segera persiapkan persenjataan kalian,” perintah Jimmy sambil pergi menjauh untuk menelepon Arya.


“Ada apa Jim? Apa kasus penculikannya berhasil ditangani?” sapa Arya.


“Malah semakin rumit Ar, penculiknya tahu jika polisi sudah mengepungnya. Kami sekarang menukar adik Frita dengan sopir pribadinya.”


“Oh laki-laki yang sering bersama Frita itu ya?”


“Ya, dia menggantikan posisi adik Frita sebagai sandera. Aku bingung harus bagaimana.”


“Sulit sekali kalau begitu, dalam kasusu seperti itu biasanya hanya ada satu kali kesempatan saja untuk menyelamatkan sandera sekaligus merebut uang tebusan. Jika mereka memberi kesempatan kedua berarti memang mereka bukan penculik biasa.”


“Kata-katamu membuatku sebal karena terdengar seperti kata-kata pria yang jadi sandera.”

__ADS_1


“Begitu ya, kelihatannya menarik juga. Sebaiknya sekarang kamu bersama beberapa anak buahmu perlahan berjalan mengikuti penculik. Tapi pastikan dengan jarak yang sangat jauh. Apalagi jika suasananya sepi. Para penculik pasti akan lebih mudah mendengar suara kalian dari radius jarak yang jauh saat berada di tempat sepi. Pendengaran mereka sangatlah tajam.”


“Lalu selanjutnya bagaimana?”


“Suruh beberapa orang sesuai jumlah penculiknya kembali ke kantor untuk membawa beberapa senjata tipe jarak jauh. Pastikan orang yang mengambilnya punya keahlian sebagai sniper. Hanya itu cara satu-satunya saat ini.”


“Oh, jadi mereka nanti akan menembak para penculik secara serentak.”


“Ya itu satu-satunya cara terbaik saat ini. Jika meleset satu saja maka nyawa sandera pasti akan berada dalam bahaya.”


“Kamu memang bisa diandalkan dalam hal seperti ini Ar.”


“Aku hanya berkaca kepada pengalamanku ketika bethadapan dengan beberapa geng besar dan mafia kelas kakap.”


Jimmy mengakhiri panggilannya. Dia juga menyuruh tujuh anak buahnya yang ahli dalam menembak jarak jauh untuk secepatnya kembali ke kantor polisi membawa senjata. Sisa anggotanya di bagi dua. Sebagian mengikuti jejak para penculik bersamanya, sisanya tetap tinggal di sana untuk menjaga mobil, Frita serta Adiknya.


“Aku akan ikut bersamamu mengikuti Aditya,” ucap Frita.


“Aku juga akan ikut,” kata Clarissa.


“Kalian sebaiknya diam di sini sambil istirahat.”


“Tapi-“


Setelah memperkirakan jika jarak mereka dan penculik sudah cukup jauh Jimmy beserta sebagian anak buahnya berjalan mengikuti jejak penculik. Dia memerintahkan agar para polisi yang nanti datang membawa senjata segera menyusulnya. Frita dan Clarissa diam di mobil dengan perasaan cemas.


Aditya berjalan di tengah tengah para penculik. Mereka sejak tadi terus tertawa senang karena mendapatkan uang yang sangat banyak. Mereka terus membicarakan tentang barang apa yang akan mereka beli nanti. Aditya hanya tersenyum mendengarnya.


“Eh lu kenapa senyum-senyum sendirian?”


“Jangan harap lu bakalan gue bebasin. Begitu kami sampai di mobil nyawa lu pasti melayang!”


“Jika pada akhirnya aku akan dibunuh kenapa tidak sekarang saja?”


“Setidaknya sekarang lu masih berguna buat jadi perisai kalau diantara polisi itu ada sniper yang ingin membidik kami,” jawab penculik yang membawa pistol.


“Oh, jadi karena itu sejak tadi kalian terus bergantian mengubah tempat kalian denganku.”


“Ya, dengan begitu polisi tidak akan berani asal tembak saja.”


“Menyedihkan. Pada akhirnya aku akan tetap mati,” ujar Aditya sambil menghela nafas.

__ADS_1


“Hoi setidaknya tertawalah sedikit sebelum lu jadi mayat.”


“Jika memang bisa, aku lebih suka mencaritahu sebenarnya siapa yang menyuruh kalian menculik gadis itu sebelum aku mati.”


“Hahaha kami disuruh oleh-“ seorang penculik hendak menjawab pertanyaan Aditya namun langsung dihajar oleh penculik yang membawa pistol, kelihatannya dia memang bos dari para penculik.


“Buat apa lu tahu hal itu, pada akhirnya informasi seperti apapun hanya akan dibawa mati.”


“Begitu ya, gue Cuma penasaran. Padahal awalnya gue pikir kalian itu anggota geng besar. Tapi ternyata kalian hanya cecunguk yang bahkan malu karena bukan anggota geng besar.”


“Keparat!” bentak seorang pria sembari menghajar Aditya hingga tersungkur.


“Sudah! Kita tidak boleh buang waktu di sini. Abaikan semua kata-kata tikus ini.”


“Hahaha, hal itu membuktikan jika kalian memang bukan anggota geng besar.”


Aditya terus mencoba menggali informasi mengenai dalang penculikan kali ini, dia juga terus-terusan dihajar oleh para penculik karena terus memanasi mereka. Mereka masih bungkam perihal dalang penculikan ini. Aditya yakin jika dibelakang mereka ada orang yang menyembunyikan dirinya dibalik bayangan.


Pola penculikan yang matang, rencana pertukaran yang matang, hingga sikap santai meski mereka tahu sedang berhadapan dengan banyak polisi itu sudah membuktikan jika memang mereka sudah terbiasa melakukan kejahatan besar seperti ini. Terlebih pistol yang dibawa bos penculik itu bisa dipastikan berasal dari pasar gelap yang dikendalikan oleh geng besar.


Apa mungkin mereka itu masih komplotan penculik Frita? Tidak, jika memang iya maka mereka akan berusaha mendapatkan Frita sebagai kunci formula yang dikembangkan oleh perusahaannya. Jika bukan. Tunggu, mungkin saja masalah ini berkaitan dengan peringatan Ratna waktu itu. Aditya mengepalkan tangannya kuat-kuat.


“Aku ingin kecing sebentar,” ucap Aditya.


“Kencing saja di celana! Lu pikir gue orang bodoh! Lagian lu sebentar lagi bakalan mati jangan banyak tiingkah deh!” bentak penculik yang membawa pistol.


“Duh, nggak jadi deh kalau begitu. Gimana kalau gue gabung jadi anggota kalian,” bujuk Aditya.


“Hahaha lu pikir bisa apa hah! Gue nggak butuh tikus rendahan kayak lu!”


“Sini giliran lu di sini!” tukas seorang penculik sambil menarik Aditya untuk bertukar menggantikan posisinya berjalan.


“Hahaha,” Aditya tertawa terbahak-bahak.


“Diem lu!”


“Lah tadi lu semua nyuruh gue buat tertawa.”


“Cih! Nih orang mentang-mentang mau mati berani juga dia ngeledek kita.”


“Sudah biarin, nanti dia juga mati. Yang penting kita selamatkan diri kita dulu,”

__ADS_1


Aditya berjalan ke posisi yang berbeda sambil terus menghina para penculik hingga akhirnya dia kembali terseungkur karena dihajar oleh penculik. Aditya bangkit kembali sambil tersenyum puas. Kelihatannya dia masih punya harapan untuk membalikan keadaan.


BERSAMBUNG…


__ADS_2