
Aditya baru kali ini menyadari hidupnya benar-benar lucu. Entah berapa kali sudah ia menyamar demi menjalankan misi atau tugasnya. Entah berapa ‘peran’ yang sudah ia mainkan. Hanya saja, kali ini ia seperti diseret kembali ke situasi ketika harus menipu Si Leo Tua.
Hanya saja, targetnya kali ini adalah Rai Siluman yang tak banyak omong. Entah Aditya tak perlu tahu siapa nama asli si Rai itu. Ia hanya tahu ia harus melakukan segala cara agar Rai mau mengatakan di mana harta atau benda berharga terakhir yang ia curi itu disimpan.
Sayangnya, Rai Siluman memang benar-benar tutup mulut.
Ketika pertama bertemu, Rai Siluman hanya melirik Aditya datar. Waktu itu lelaki paruh baya itu terlihat duduk dalam posisi bersila seperti sedang bermeditasi di sudut sel. Seorang petugas penjara di area paling pengap itu mendorong Aditya dengan kasar.
“Masuk kau, dasar hacker ingusan!” bentak si penjaga pada Aditya. Ia bahkan tidak hanya didorong, melainkan juga ditendang dengan kasar.
Pada saat itulah Aditya tahu ia harus mengikuti permainan sandiwara yang sengaja dibuat oleh sang kepala sipir, Jim. Ia harus mengikuti apa yang mejadi kehendak setiap penjaga penjara ini dan cara mereka.
Maka, Aditya tak melawan.
Aditya terjungkal, menabrak tembok sel sempit itu persis di depan Rai Siluman.
“Halo, apa kabar, Bung?” sapa Aditya pada pencuri ulung itu setelah para penjaga yang mengantarnya sudah pergi.
Rai Siluman hanya mengangguk saja, dan tak mengucapkan sepatah kata pun.
“Kau bisu, ya? Atau, apa?” tanya Aditya pura-pura bingung.
Rai Siluman tersenyum pendek, lalu kembali konsentrasi pada pikirannya sendiri.
Mereka tak banyak bicara selain hanya terdengar suara Aditya saja di sel itu. Para penghuni sel-sel lain di sekitar sel mereka juga tak banyak bicara. Benar kata Jim bahwa para napi di sini kebanyakan orang-orang pendiam yang tak banyak cakap, dan mungkin juga jenius, serta kejam.
Aditya sudah menduga ia tidak akan dipedulikan oleh para napi lain, terutama oleh si Rai Siluman ini.
Apa pun itu, Aditya tetap harus menjalankan semua ini demi membayar janjinya di masa lalu. Dan demi bisa segera menyudahi kehidupan yang seperti ini. Ia ingin supaya bisa segera hidup normal bersama Frita dan sang paman.
Maka, ia tetap mencoba mengajak bicara Rai sehari, dua hari, tiga hari, tetap tak ada hasil.
__ADS_1
Entah berapa hari sudah berlalu. Rai tetap bungkam. Memang beberapa napi lain di sel lain sempat Aditya dengar berbicara sepatah dua patah kata, meski singkat. Hanya Rai yang total membisu.
Suatu kali Aditya dengan kesal berteriak, “Kalian semua di sini bisu, ya? Penjara ini tempat yang benar-benar aneh! Apa hanya aku yang mengerti bahasa manusia?!”
Di ruang makan Aditya melontar kata-kata itu. Seorang napi kurus berkacamata di dekat pintu masuk menghampirinya dengan tenang, lalu berkata, “Kami tidak bisu, tapi hanya malas saja bicara. Lagi pula di sini kami tidak saling percaya satu sama lain.”
Seorang napi lain yang berbadak gemuk dan sedang asyik mengunyah roti bakarnya yang gosong menyahut, “Benar, Nak. Sebaiknya kau lebih banyak diam dan hati-hati di sini. Jim bukan orang yang akan membiarkan bacotmu lolos begitu saja dari ambisinya yang tak masuk akal.”
“Ambisi? Siapa Jim itu?”
“Kepala sipir di sinilah, Bodoh! Kau tak tahu namanya? Napi sebodoh kau sampai bisa ditempatkan di penjara istimewa macam ini?” tukas si napi kurus berkacamata.
“Oh, ya? Aku nggak terlalu peduli namanya, Bro! Dan aku enggak bodoh!” jawab Aditya dengan kesal.
Kini ia mulai tahu bagaimana memancing agar Rai Siluman memperhatikannya, lalu bisa memberinya kepercayaan. Ini jelas sebuah proses yang panjang.
Aditya bersabar untuk itu. Sebab ia tahu saat itu Rai menatapnya dari jauh ketika ia dan napi kurus serta napi gemuk berbicara.
***
“Aditya, kudengar kau punya sedikit kemampuan jadi hacker. Itulah peran yang akan kau jalani, bukan?” tanya Jim.
“Ya, Amy sempat menyinggungnya sedikit saat perjalanan kemari di helikopter tadi subuh,” kata Aditya.
“Baguslah. Jangan lupa siapa namamu di sini. Nama barumu yang kumaksud.”
“Feri. Namaku di sini Feri. Seorang hacker yang sudah membobol rekening banyak perusahaan bersih sampai mereka rugi jutaan dollar,” tukas Aditya dengan mantap.
“Ya, bagus. Apa ada yang kita lupakan?”
“Sejauh ini peranku cukup bagus. Rai tidak akan tahu aku bekerja untuk siapa atau apa aku benar-benar dipenjara atau tidak. Aku akan bersikap sesantai mungkin, Pak. Anda tenang saja,” ujar Aditya mencoba terlihat rileks, meski sejujurnya ia tak setenang itu.
__ADS_1
Jim segera memerintah dua orang penjaga untuk mengantar Aditya dengan cara yang cukup kasar. Aditya mendengar itu dan diam saja.
“Ini yang terakhir, Dit. Kami di sini akan memperlakukanmu agar mau menuruti apa yang kuminta. Dalam sandiwara ini, kau kuminta untuk bekerja denganku, menjadi hacker di perusahaan pribadiku. Paham?” kata Jim.
“Baiklah, itu peran tambahan yang sama sekali tak membuat saya kesulitan. Ada lagi?”
“Tidak, Dit. Aku hanya berpesan kau mesti berhati-hati saja. Tidak semua penghuni penjara ini yang terlihat lemah itu benar-benar aman untukmu.”
“Tenang, Pak. Saya bisa menjaga diri.”
***
Begitulah, dialog sebelum Aditya dipertemukan Rai Siluman.
Kini dua minggu sudah mereka bersama dalam satu sel. Aditya mencoba memberi kisah hidupnya yang palsu sebagai Feri sang hacker pada Rai Siluman dengan harapan mereka bisa berteman dekat.
Tapi, Rai tetap bungkam.
“Aku nggak tahu apa yang membuat dirimu membisu begini, Bung. Semua orang bilang kamu bukanlah orang yang bisu atau tuli. Kamu sehat-sehat saja, telinga serta lidahmu sehat saja. Tapi, kenapa? Jangan sampai aku bisa gila di sini karena nggak ada teman ngobrol,” kata Aditya memasang tampang memelas di depan Rai Siluman.
Bibir Rai tetap saja tertutup rapat.
Bibir itu mungkin baru terbuka setelah ancaman dan perlakuan kasar terbaru Jim pada mereka berdua nanti.
Oh, ya, inilah yang belum terkisahkan tentang penjara rahasia yang satu ini.
Jim secara rutin mengancam dan menyiksa para napinya, agar mereka mengatakan apa yang belum mereka katakan. Dalam hal ini, hanya para napi seperti Rai Siluman saja yang mendapat perlakuan khusus ini. Biasanya ini berguna untuk membongkar info baru terkait mayat para korban pembunuhan atau seperti barang berharga yang tak bisa ditemukan.
Dua bulan berlalu setelah Aditya dikurung bersama Rai.
Suatu kali Jim habis kesabaran. Ia memutuskan untuk menembak mati Rai Siluman saat itu juga.
__ADS_1
Bersambung...