
Clarissa saat itu baru saja datang dari Bali, ke acara seorang sahabatnya. Ia terlihat sangat lelah dan tak terlalu gembira melihat wajah Julio yang baru saja masuk lewat pintu samping.
“Lihat, siapa yang datang!” seru Julio sambil berlagak seolah-olah dia si tukang sulap yang akan mengeluarkan keajaiban paling hebat di dunia.
“Apaan sih?” sahut Clarissa yang cuek sambil membuka pintu kulkas.
Gadis itu akhirnya melongo setelah melihat siapa yang Julio ajak ke rumahnya. Ia pun menjatuhkan gelas plastiknya yang berisi jus buah, membuat Aditya dan Frita pun tertawa.
“Shelly D! Kok bisa!” jerit Clarissa tak keruan senangnya.
Ya, tentu saja Clarissa yang juga fans berat Shelly D sebenarnya ingin menghadiri konser itu, tapi acara di Bali tak bisa ditunda. Seorang teman merayakan ulang tahun dan teman itu sudah dua tahun tak bisa menjalani kehidupan normal laiknya para remaja lain karena menderita penyakit kanker.
Frita mengerti Clarissa, sang adik kandungnya, tak mungkin menolak ajakan para teman-temannya untuk ke Bali demi sahabat mereka yang sakit. Itulah kenapa Clarissa tak ada di sini akhir-akhir ini.
Kini, melihat Aditya dan Shelly D datang bersamaan kemari, Clarissa tidak dapat menggambarkan kebahagiaannya. Ia berfoto sepuasnya dengan artis idolanya itu dan tak lupa menagih janji-janji Aditya padanya tempo hari.
“Entah apa saja yang sudah kujanjikan padamu,” kata Aditya sambil menggaruki kepalanya yang tidak gatal.
Clarissa segera menyebutkan beberapa daftar kegiatan yang harus mereka lakukan besok pagi sebab ia berhasil lolos ke universitas ternama untuk melanjutkan kuliahnya.
Julio bilang, “Wah, kebetulan aku juga belum ada rencana pulang ke rumah atau ke Prancis sampai minggu depan. Sebaiknya besok kita berangkat pagi-pagi.”
“Siapa juga yang ajakin kamu?” sembur Clarissa yang segera dibalas tatapan mata tajam oleh Julio.
“Lah, siapa yang ajakin Shelly D ke sini?” balas Julio tak mau kalah.
Shelly D hanya geleng-geleng kepala saja melihat ulah dua orang sepupu itu. Frita segera menyingkir dari ruang tengah di mana mereka berempat kini mengobrol. Entah ia sedang apa, pikir Aditya. Terlihat Frita sibuk menelepon seseorang di ruangan lain di bagian belakang rumah dan sepertinya serius.
Aditya perhatiannya segera kembali lagi pada Clarissa, Julio, serta sang penyanyi yang memutuskan tak pulang ke apartemen mewahnya malam ini.
Shelly D bilang, “Entah tumben sekali tadi aku merasa harus kabur saja. Mungkin setelah kejadian minggu lalu.”
“Minggu lalu? Kenapa, Kak?” tanya Clarissa yang segera duduk di dekat penyanyi itu setelah mengambilkan botol jus dingin beserta gelas untuknya.
__ADS_1
“Yah, minggu lalu turun dari panggung aku langsung ‘diserang’ oleh salah seorang fans. Dia benar-benar menggila. Petugas keamanan dibuat kewalahan. Ini, coba kalian lihat,” jawab Shelly D sambil menunjukkan bekas sayatan tipis yang tertutupi make up di jidat dan janggutnya yang tirus.
“Wah, iya. Kok begitu sih!” kata Julio.
“Ya, namanya juga fans. Kadang aku sendiri juga ingin menerkam artis favoritku kalau kebetulan ketemu. Itu wajar. Tapi waktu itu aku sedang tidak enak badan dan ada sedikit trauma oleh cakaran,” terang Shelly D yang membuat Clarissa dan Julio segera mengangguk paham.
“Jadi, kamu punya artis favorit, Kak?” tanya Julio penasaran setengah mati.
“Siapa, siapa?” tanya Clarissa juga.
“Hmm, kasih tahu nggak, ya,” balas Shelly D dengan tertawa.
Maka, malam ini Aditya mengantar Shelly D ke rumah lamanya. Ada di sekitar sini juga, malah tak jauh ternyata. Dan itu membuat Clarissa semakin girang tak karuan saja. Tentu Shelly D tak keberatan ikut serta dengan rencana ‘jalan-jalan’ Clarissa besok pagi, asalkan dia menyamar jadi orang lain.
“Yah, aku setuju, Kak. Biar tidak ada yang menganggu kita,” sahut Clarissa senang.
Julio menyahut dengan wajah pura-pura masam, “Yah, sekarang siapa yang jadi senang karena diriku?”
Aditya tersenyum saja sambil berdiri membukakan pintu untuk Shelly D. mereka menumpang mobil tak lama, hanya lima menit, bahkan kurang dari itu. Lalu penyanyi tersebut turun di depan sebuah rumah yang terlihat sederhana.
“Jadi di sini rumah lamamu?” tanya Aditya.
“Ya, enggak banyak orang yang tahu. Bahkan mungkin seluruh fansku tidak ada yang tahu. Lagian aku juga jarang ke sini.”
“Baiklah, besok kita berangkat jam 8?” tanya Aditya.
“Oke.”
Aditya pun berlalu setelah melambaikan tangan pada Shelly D.
***
Glow & Shine. co sebenarnya sedang mengalami masa-masa sulit saat ini. Dan itu belum disadari Aditya sampai besok siangnya.
__ADS_1
Pagi itu Aditya, Clarissa, dan Julio menjemput Shelly D ke rumah lamanya untuk pergi jalan-jalan. Sementara Frita dan kedua orang tuanya sudah membuat janji temu dengan seorang pebisnis yang belum pernah Aditya dengar namanya: Christian Santoso.
“Ya, ampun. Benar, kamu memang belum tahu keseluruhan keluarga kami, Mas,” kata Frita.
Gadis itu segera menjelaskan bahwa Christian Santoso adalah suami Tante Meilisa. Mereka menikah setelah sang tante bertahun-tahun cerai dengan suami pertamanya. Ini pengetahuan baru bagi Aditya. Ia mengangguk-angguk paham.
Kata Frita, “Om Christian dulu teman kuliah papaku juga di luar negeri. Mereka tak terlalu dekat sih, tapi setelah dengar masalah perusahaan kita, dia tiba-tiba telepon saat itu.Yah, waktu kita ada di kantor polisi untuk memberi pelajaran Pak Lurah korup itu.”
“Lalu, bagaimana? Maksudku, Tante Meilisa,” kata Aditya penasaran.
“Yah, Tante Meilisa diam saja. Ia membiarkan saja suaminya membantu perusahaan ini. Toh, dia sebenarnya tak sebenci itu padaku. Hanya pada mama saja,” jelas Frita.
Kenyataannya, Christian Santoso tak hadir di ruang meeting yang sudah ditentukan di kantor cabang mereka, melainkan perwakilannya yang bernama Gagas Darmawan dan Lukcy Wicaksono. Mereka pemuda ambisius yang diberikan kepercayaan untuk turut campur tangan di bisnis Christian. Keduanya adalah keponakannya sendiri.
Setelah diskusi dan tanda tangan kerja sama yang ternyata tak berlangsung alot itu, Frita dan kedua orang tuanya diminta tidak pulang dulu. Mereka berdua bilang, “Harus dirayakan kerja sama antara dua perusahaan besar ini. Glow & Shine. Co dengan PT. Vision Putra Semesta. Apa lagi yang bisa membuat media massa heboh?”
Frita, Pandu, dan Gina setuju saja. Seorang pelayan masuk membawa botol mewah champaign yang jelas sangat mahal. Mereka tidak menyadari dalam minuman itu sudah diberikan sesuatu hingga ketiganya pun tertidur pulas setelah menenggak jamuan itu.
Setelah keadaan ruangan benar-benar sunyi, sebab Gagas dan Lucky terdiam (jelas mereka tak ikut minum karena ini rencana mereka), dari kantor kecil di pojok ruangan terdengar siulan pendek seorang lelaki jangkung dan kekar. Sebuah siulan tanda puas atas kemenangan.
Dialah sosok Christian Santoso.
Dia bilang, “Kau boleh menikah dengan perempuan yang kau cintai itu, Lucky. Ya, sangat boleh. Apalagi jika kalian sudah berhubungan badan.”
Lucky terlihat tidak yakin.
Gagas dan Christian memandanginya dengan dingin.
“Kita sudah sampai sejauh ini,” kata Gagas.
Akhirnya, mereka pun menggendong tubuh Frita ke kantor tertutup di sudut ruang meeting itu, di mana tadi Christian bersembunyi. Gagas dan omnya saling menatap tanpa bicara apa-apa, selagi Lucky merenggut keperawanan Frita saat gadis itu tak sadarkan diri!
Bersambung...
__ADS_1