
Suatu sore beberapa hari setelah Paman Salim dan Aditya disambut dengan hangat oleh keluarga Pandu Saputra atas rencana pernikahan Aditya dan Frita.
Aditya terlihat duduk santai di pinggir kolam renang, menatap Frita yang sedang sibuk dengan laptopnya. Kini bisnis keluarga itu melaju pesat. Hampir tak ada masalah berarti seperti dulu. Seakan-akan Tuhan sengaja membuatnya begitu agar kebahagiaan mereka lengkap kali ini.
Frita menutup laptopnya setelah menyadari Aditya tidak henti memandangi.
“Kamu lapar?” tanya gadis itu.
“Lumayan.”
“Mana Paman?” tanya Frita segera setelah berdiri sambil membawa tas laptop serta buku catatannya.
Aditya menoleh ke belakang, ke tempat Pandu sedang menyiapkan barbecue untuk mereka sekeluarga. Di situ hanya ada calon ayah mertuanya. Sang paman yang tadi ada di situ, mengobrol dengan Pak Pandu, kini entah ke mana.
“Enggak tahu juga tuh,” kata Aditya kemudian bangkit, berjalan menjajari Frita.
Mereka tampak sangat serasi. Mungkin saja banyak orang akan cemburu saat nanti mereka duduk di pelaminan. Kemarin rencana itu sudah dibahas oleh kedua belah pihak keluarga.
Paman Salim terlihat paling bahagia saat itu. Aditya tak salah pilih istri, pikirnya. Beliau tentu tak melihat kekayaan keluarga Frita, tapi kebaikan mereka yang sama sekali tak ia sangka.
Setelah dicari-cari, ternyata Paman Salim sedang mencoba all terrain vehicle atau ATV, kendaraan segala medan roda empat yang berdesain hampir seperti sepeda motor itu.
Yusi dan Deri-lah yang mengajaknya. Pandu memiliki lahan yang luas di belakang halaman rumahnya untuk berkuda dan berkendara dengan ATV-nya.
Aditya dan Frita cuma bisa tertawa melihat betapa antusias sang paman.
***
Setiba di Bandung, beberapa kerabat jauh serta saudara Pandu maupun Gina Lisnia juga berdatangan. Bukan untuk rencana pernikahan Frita dan Adiya yang masih empat bulan lagi, tetapi kebetulan saja ada sepupu Pandu yang menikahkan anak satu-satunya besok lusa.
Mereka sebagian menginap di rumah Pandu dan sebagian lagi memilih menyewa kamar hotel tak jauh dari situ. Paman mendapat banyak kenalan baru yang membuatnya berkata dengan wajah lucu, “Aku harus buat catatan agar ndak lupa nama orang-orang ini!”
Memang ada saja yang mencibir pilihan Frita. Mereka tak melihat kesuksesan sang calon suami, tetapi pamannya yang datang jauh dari desa dan kabarnya berjualan ubi untuk bertahan hidup selama ini.
Siapa lagi si penyindir itu kalau bukan Tante Meilisa?
Namun Gina hanya berkata, “Setidaknya calon menantuku bersusah payah dengan keringatnya sendiri untuk mendapatkan kekayaan. Bahkan ia dan Frita sudah memiliki rencana membangun sebuah resor untuk bisnis mereka berdua di masa depan kelak.”
“Oh, ya? Di mana?”
“Di desa asal Aditya-lah!”
__ADS_1
Tante Meilisa tak percaya seorang tentara berpenampilan sederhana begitu bisa ada modal sebegitu besar untuk mendirikan sebuah resor bintang lima.
Namun, Aditya memilih duduk diam saja sambil mengunyah roti bakar waktu itu.
“Ya ampun, Meilisa!” kata Gina Lisnia nyaris menjerit heran. “Kamu pikir pergi ke Korea Selatan untuk seseorang yang diculik seperti Frita bisa dilakukan sembarangan orang?! Coba saja jelaskan, Aditya, misi apa saja yang sudah kamu lakukan!”
Aditya jelas tak menjawab dan hanya tersenyum pendek saja.
“Yah, misi yang cukup sulit, Tante, tapi tidak sehebat itu,” jawab Aditya singkat.
“Sudah kuduga,” kata Tante Meilisa.
“Kamu jangan merendah begitu. Dia entah sudah berapa kali ke luar negeri untuk misi rahasia!” lanjut Gina tak puas sambil menunjuk Aditya.
Untunglah saat itu di sekitar mereka tak ada saudara atau kerabat lainnya, jadi Tante Meilisa tidak terlalu malu. Meski Gina ingin membuatnya malu.
Tante Meilisa segera menyingkir keluar sambil menggerutu.
“Maafkan saya, Dit, dia memang patut diberi pelajaran. Sejak dulu sombongnya enggak tertolong! Aku juga enggak tahu bagaimana bisa punya saudara yang seperti itu! Selalu saja membanding-bandingkan orang lain dan menghormati orang dari uangnya saja!” kata Gina.
“Sudahlah, Ma. Lagian Tante Meilisa juga enggak ada yang mendengarkan. Biasanya dia memang selalu bicara sombong, tapi semua saudaranya paham dan enggak menyahuti,” jelas Frita pada Aditya.
“Heran juga kenapa si imut Julio itu tidak sesombong mamanya, ya?” tanya Gina hampir seperti terlihat bertanya pada dirinya sendiri.
“Kabarnya dia juga mau ke sini, ya?” tanya Frita.
“Iya. Dia kan enggak seperti saudara-saudaranya yang selalu sibuk dan jarang bisa datang ke acara keluarga.”
Maka, di kesempatan itulah Aditya berkenalan dengan Julio, yang ternyata sudah lama mendengar tentang Aditya, dan mengaguminya.
“Aku benaran senang kalian bakal menikah,” kata Julio sambil menatap wajah Frita dan Aditya bergantian.
Julio terlihat begitu imut, seperti jauh lebih muda dari usia aslinya. Tiba-tiba ponsel Julio berbunyi dan ia teringat harus pergi membeli tiket sebuah konser yang lama dia harapkan.
“Konser apa itu?”
“Penyanyi yang lagi hits, Shelly Dee,” kata Julio.
Karena melihat Aditya dan Julio begitu akrab, Frita meminta mereka berdua untuk ikut. Julio bilang itu tak masalah.
“Lagian aku enggak ada teman di Bandung sini.”
__ADS_1
Sebuah kejutan bagi Julio, karena ternyata diam-diam Frita sudah membelikannya tiket konser Shelly D.
Kata Frita, “Ini hadiah karena kamu berhasil sekolah di Prancis.”
“Wah, makasih, Kak!” kata Julio senang.
Mereka bertiga bermobil malam itu setelah memastikan Paman Salim tidak bermasalah dengan ATV yang ditumpanginya.
Perjalanan ke tempat konser terasa begitu menyenangkan. Aditya duduk di bangku kemudi sedang mengobrol seru dengan Julio soal banyak hal di Kota Bandung. Frita di bangku belakang terlihat santai menggumamkan lagu-lagu Shelly D yang sebagian ia hafal.
Hanya saja, tempat parkir area konser itu sangat padat. Antreannya panjang dan tak tahu kapan mereka bisa masuk.
“Wah, kalau begini kita nggak kebagian lagu pertama Shelly D!” gerutu Julio yang cemas.
“Tenang saja.” Aditya segera memutar balik mobilnya dengan cekatan, membuat orang-orang di sekitar menoleh kaget karena decitan ban mobilnya.
“Dit, kamu jangan coba-coba lagi deh!” seru Frita kesal, yang masih tak lupa bagaimana cara Aditya mengebut dan mengejar waktu dengan mobil.
Tentu saja mereka tidak berbalap liar di jalanan Bandung. Karena Aditya tahu ada lokasi parkir terdekat dan aman di dekat area itu, yang jarang dipakai orang dan lagi pula tidak dekat jalan raya juga dan tidak terbuka untuk semua orang.
Mereka tiba di sana semenit kemudian.
Aditya menyapa penjaga gerbang yang seperti sudah dia kenal, dan mereka dipersilakan masuk.
“Saya pinjam tempat parkirnya, Pak. Sedang ada keperluan darurat.” kata Aditya.
“Santai saja, Mas Aditya. Silakan parkir sepuasnya di sini. Hehehe,” kata orang itu.
“Kamu yakin di sini aman?” tanya Frita yang menyadari tempat itu sepi.
“Aman kok,” kata Aditya sambil menunjuk ke atas. “Lihat, itu kubah bangunan di mana konser Shelly D digelar. Kita cuma perlu jalan kaki beberapa meter saja melalui pintu belakang gedungnya.”
“Untung ada kamu, Bang,” kata Julio.
Akhirnya mereka pun sudah berada di gedung itu tanpa terlambat. Bahkan Julio pun masih sempat berfoto bersama Shelly D dengan beberapa fans lainnya tepat di belakang panggung sebelum artis itu naik memulai lagu pertamanya.
“Kurang memuaskan foto rame-rame begini. Tapi, yah, mau bagaimana lagi? Tadi ribet sekali. Banyak yang enggak sabaran ikut foto,” kata Julio.
Aditya dan Frita cuma bisa mentertawakan nasib sepupu mereka itu.
Bersambung...
__ADS_1