Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 198


__ADS_3

“Racun ini hanya bisa diatasi kurang dari setengah jam. Kalian bisa pastikan itu?” tanya Amy Aurora melalui sambungan telepon pada Nancy.


“Bisa,” jawab wanita itu dengan cemas selagi dia sibuk memakai pakaian lab dan mencari-cari masker untuk menyempurnakan samarannya.


“Sekali lagi, ini tentang nyawa seseorang. Lebih dari setengah jam, profesor kalian itu bisa mati.”


“Ya, tenang sajalah!” kata Nancy.


Nancy sudah membawa obat penawar untuk racun yang menguasai peredaran darah Profesor Joe saat ini. Ia hanya perlu meyakinkan orang-orang untuk membawa profesor jenius itu ke sebuah mobil untuk pergi dari sini sejauh mungkin agar bisa menolongnya.


Dan, memang ia berhasil menghasut para pekerja lab untuk tak lama-lama menanti keputusan Gunawan. Ketika bos narkotika itu tiba di depan bangunan lab, mobil yang mengangkut Profesor Joe, Nancy, dan tiga pekerja lab itu sudah meninggalkan lokasi.


“Siapa saja yang berangkat?” tanya Gunawan pada para pekerja yang berdiri di situ.


“Alex, Mina, dan Kiko, Tuan,” jawab salah seorang dari mereka.


Gunawan terlihat lega. Mereka anak buah yang sangat loyal dan bisa diandalkan. Tidak akan ada pihak rumah sakit yang curiga jika yang mengantar mereka bertiga.


“Empat pekerja yang berangkat kok,” sahut pekerja lab yang lain.


“Siapa lagi satunya?” tanya Gunawan penasaran.


Para pekerja itu saling berpandangan. Mereka baru sadar mereka tak mengenali si wanita yang mengusulkan untuk segera membawa pergi Profesor Joe ke rumah sakit itu. Hanya saja Gunawan belum curiga. Ia memutuskan berjalan ke gudang tenggara untuk menonton bagaimana Aditya menggarap tugas pertamanya.


Tentu saja di mobil, Nancy segera beraksi. Begitu mereka meninggalkan markas itu, Nancy melumpuhkan ketiga pekerja lab yang sebenarnya tak terlalu bisa berkelahi. Dia dengan mudah saja menghentikan mobil setelah menghantam tengkuk Alex yang duduk di bangku kemudi.


“Hei, loe ngapain?!” tanya Mina dengan panik.


Nancy dengan sigap meraih senjata yang tersembunyi di balik celana pendeknya dan menembak dua pegawai lab yang duduk di bangku tengah bersama Profesor Joe sampai pingsan. Itu hanya obat bius dan tak akan membunuh mereka. Jadi, Nancy harus buru-buru menurunkan ketiga orang tersebut dan membawa mobil tersebut menjauh dari jalan tanah.


Nancy memasuki hutan kecil di dekat kawasan itu ketika sebuah telepon masuk.


“Ya?”


“Sudah berhasil?” tanya suara wanita di seberang telepon.

__ADS_1


“Aku belum tahu bagaimana seharusnya obat penawar ini diberikan!” balas Nancy panik. “Jadi sebaiknya kau cepat kemari!”


Amy menggerutu dalam hati dan bertanya di mana tepatnya mobil itu kini berada. “Di lokasi yang sudah kukirimkan via SMS, kan?” tanya Amy.


“Ya!”


Tak berapa lama akhirnya Amy Aurora muncul dari balik sebatang pohon. Untung saja ia berada tak jauh dari situ, jadi bisa segera memberikan penawar racun pada sang profesor.


“Kau yakin kurang dari setengah jam?” tanya Amy dengan cemas.


“Dua puluh delapan menit,” jawab Nancy.


Mereka menghembuskan napas lega. Berharap semoga profesor itu selamat.


Profesor Joe sadar tak lama setelah Nancy menghubungi Aditya untuk memastikan misi mereka hampir berhasil.


“Di mana ini?” tanya lelaki paruh baya itu.


“Di tempat yang aman, Prof!” jawab Amy.


“Sudahlah, Anda istirahat dulu,” kata Nancy menyodorkan sebotol air putih pada profesor itu.


Profesor Joe terlihat cemas, tetapi kini kecemasan yang tergambar di wajahnya jauh lebih sedikit ketimbang beberapa bulan terakhir. Entah bagaimana, ia merasa yakin saja ia kini bersama orang-orang yang melawan Gunawan Mahdi.


Sayangnya, bagi Aditya dan Rudi, pelarian ini tak mudah. Mereka hanya mendapati satu jalur kabur, yakni melalui atap gudang kosong itu. Aditya sudah mencapai bagian di atas itu ketika Gunawan menggedor pintu gudang yang sudah dia segel dengan rantai besi.


“Dit, biarin gue masuk!” teriak lelaki tua itu dari luar.


“Saya belum selesai, Tuan!” jawab Aditya.


“Bangsat, gue mau lihat langsung gimana cara loe bunuh menantu Jack itu!” kata Gunawan dari luar.


Aditya merasa masa bodo. Tak ada waktu lagi, pikirnya. Rudi masih kuat mendaki peti-peti kayu yang ditumpuk di situ, menyusul Aditya ke puncak gudang, di mana ada sebuah lubang yang membuat mereka bisa melihat puncak sebuah bukit.


“Itu hutan. Di sanalah Amy dan Nancy menunggu,” kata Aditya pelan kepada Rudi.

__ADS_1


Rekannya yang berkulit gelap itu cuma mengangguk.


Sementara mereka mencoba mencari jalan turun ke bagian belakang gudang, di luar sana Gunawan terdengar semakin ngamuk. Ia kini sadar ada yang salah pada si Aditya ini. Bocah baru itu pasti berbuat ulah yang tidak disenanginya. Setelah menyuruh para anak buahnya menjebol pintu gudang, benar saja.


Aditya dan Rudi sudah tak ada!


“Bangsat! Ke mana orang-orang itu?! Cepat buru mereka! Cari sampai dapat!” teriak Gunawan Mahdi dengan kalap.


“Boleh langsung kami bantai, Tuan?” tanya seorang anak buahnya.


Dengan kesal, Gunawan merebut senjata dari tangan orang itu dan menembaknya di kepala, membuat para anak buahnya terkejut.


“Gak ada yang boleh membunuh mereka, kecuali gue sendiri!”


Maka, pengejaran pun dimulai.


Aditya dan Rudi berhasil menuruni atap gudang tersebut melalui puncak pohon di dekatnya. Mereka berlari menyusuri hutan yang kontur tanahnya tidak rata. Hanya saja, tak lama setelah itu, terdengar bunyi mobil-mobil off road memburu mereka.


“Sial! Itu anak buah Gunawan!” kata Aditya.


Rudi tak bicara sepatah kata pun. Hanya menoleh sebentar ke belakang, dan segera Aditya tahu apa yang seharusnya mereka lakukan saat ini. Tak jauh dari situ ada sebuah sungai yang airnya mengalir cukup deras. Itulah satu-satunya kesempatan mereka agar selamat. Tak bisa mereka melawan ratusan orang bersenjata itu.


“Kau yakin?” tanya Rudi pada Aditya.


“Ya, kau bisa berenang tentunya, bukan?”


“Sejak kapan orang seperti kita belum pernah belajar berenang!”


Akhirnya mereka melompat ke aliran deras sungai itu, meninggalkan anak buah Gunawan yang tak tahu harus memburu ke mana lagi. Mereka mencari di sekitar tepi sungai, tapi tidak ketemu juga.


Dengan perasaan kesal tak terkira, orang-orang itu kembali ke markas. Mereka tak berani sebenarnya, mengingat betapa galaknya tuan besar mereka. Tuan Gunawan pasti marah dan menghukum mereka.


Tapi, bagaimanapun, mereka tetap harus memberi tahunya bahwa Aditya dan Rudi sudah berhasil melarikan diri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2