Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 212


__ADS_3

Dua orang itu segera kabur tanpa mencoba melawan Aditya. Mereka terlihat sangat ketakutan, bagai sekumpulan anak ayam kehilangan induk.


“Yah, akhirnya loe mati juga tanpa harus membuat kami repot,” kata Aditya pelan lalu memandangi dua anak buah Gunawan yang bodoh itu lari kalang kabut dan menghilang di balik pagar pabrik.


Garry Lee, setelah diperban lukanya oleh Nancy, diperbolehkan pergi secepatnya dari situ oleh Aditya. Kalau tidak, nasibnya mungkin bisa sama dengan Gunawan.


“Lalu kenapa dia menolong gue kalau akhirnya gue juga harus mati?” tanya Garry sambil menunjuk pada Nancy.


“Sudah, jangan banyak omong!” bentak Aditya.


Garry Lee pun buru-buru masuk ke mobilnya yang terparkir di sisi gudang sejak tadi. Dia melaju sangat kencang meninggalkan area pabrik. Sayangnya, mobil itu tidak bisa dibelokkan di luar sana. Tak bisa berhenti juga dan malah terus menyeberani jalanan di depan pabrik tua ini.


“Aku sudah merusak remnya,” kata Aditya.


Teman-temannya menatap tak percaya.


Di kejauhan, terdengar suara teriakan Garry Lee yang panik.


“Orang seperti dia tak bisa dipercaya. Bahkan penegak hukum pun tidak semuanya bersih. Aku harus pastikan tak akan ada lagi di antara kita yang bertaruh nyawa karena Garry,” kata Aditya lagi.


Mobil Garry Lee lenyap ditelan jurang di depan jalanan pabrik tua. Sudah pasti ia tak akan selamat. Kini, Aditya dan Skuad Malam bisa segera membawa Frita pulang ke Indonesia.


Mereka harus segera menyingkir sebelum semua anak buah Gunawan yang sempat mencari mereka di luar sana kembali kemari. Dan, lebih buruk lagi: sebelum kepolisian setempat datang dan menangkap basah mereka mengacak-acak markas mafia di negara ini tanpa sepengetahuan pemerintah Korea.


***


Di rumah Alexander, mereka membersihkan diri ala kadarnya dan berkemas secepat mungkin. Seluruh dokumen perjalanan dan tiket serta koper sudah menunggu di meja ruang tamu.


Alexander berkata pada Aditya, “Gue gak mungkin seyakin ini kalau gak ada loe yang ikut di misi, Dit.”

__ADS_1


Aditya tampak malas menanggapi. Dia berbisik, “Sebenarnya gue sudah mundur dari semua ini.”


“Hah? Malik sudah bilang waktu itu, tapi loe berangkat ke Thailand juga akhirnya, kan? Sama sekali enggak menyangka loe sudah secepat ini cabut dari pekerjaan kita yang keren ini,” balas Alexander.


Mereka ada di teras, sementara yang lain masih berganti pakaian di dalam dan ada juga Baskara yang sedang duduk di ruang tamu menyalakan gadget-nya. Frita di ruang tamu juga, duduk agak jauh dari Baskara, sedang menenangkan diri dengan segelas susu cokelat hangat.


“Ya, gue kembali karena target misi kita kali ini,” kata Aditya.


“Loe naksir dia, ya?”


“Ah, jangan bicara soal itu. Gue malah enggak kepikiran sama sekali. Meskipun, yah, memang sempat gue kagum sama Frita.”


Aditya memelankan suaranya, sebab tidak ingin Frita mendengar itu. Lalu mereka pun berkumpul lagi setelah semua anggota Skuad Malam telah siap. Mereka terbang ke Indonesia malam itu juga. Perjalanan menuju bandara, entah kenapa, dihiasi oleh tatapan tak menyenangkan dari ‘anak-anak baru’ ini.


Mereka tampaknya tahu kisah antara Aditya dan Frita beberapa waktu lalu, dan tak diragukan mereka bisa saja akan menikah tak lama setelah ini berlalu.


Aditya tidak tahu harus menjawab apa. Ia cuma memandangi Charlie dengan tajam. Itu membuat si ‘anak baru’ ini tersenyum canggung, membuat teman-teman lainnya pun mencoba menahan tawa di belakang mereka.


Frita sendiri berjalan paling depan dekat dengan Nancy dan mereka mengobrol berdua.


Entahlah, Aditya sama sekali tak tahu. Ia bahkan tak tahu apa saja yang akan terjadi setelah misi kali ini. Ia meragukan bisa kembali pulang dan hidup dengan tenang di desa bersama Paman Salim. Entah apa yang membuatnya berpikir begitu.


***


Di dalam pesawat, Frita seperti tak ingin lepas dari sisi Aditya. Gadis itu tadinya sempat shock begitu tahu ia dibawa pergi jauh ke Korea Selatan oleh para penculik. Entah cara macam apa yang mereka lakukan untuk itu.


“Yah, beruntungnya aku masih baik-baik saja,” katanya pada Aditya saat keduanya duduk di bangku yang bersebelahan dalam pesawat.


Aditya yang tak banyak bicara membuat Frita bertanya-tanya. Ia jelas menyukai si pemuda sejak peristiwa waktu itu. Dan ia begitu senang Aditya-lah yang datang demi dirinya. Diam-diam Frita membayangkan percakapannya dengan kedua orang tuanya tempo hari.

__ADS_1


Waktu itu Frita bilang, “Mungkin hanya Aditya yang bisa membuatku yakin bakal menjadi seorang pengantin.”


Tak diragukan lagi, diam-diam itu yang ditakutkan Aditya. Ia tak sepenuhnya siap, terutama karena alasan tahun-tahun kosong yang tak ia lalui bersama sang paman enam tahun terakhir ini. Ia belum menebus itu dan kini, duduk di dekat Frita, membuatnya tak bisa bicara banyak.


“Kamu banyak berubah, Mas. Sejak kepergianmu dari Bandung waktu itu,” kata Frita.


“Oh, ya?” tanya Aditya pura-pura tenang.


“Ya, bahkan caramu menatapku juga sangat berbeda. Tapi, terima kasih sudah pergi ke sini untukku, ya?” tukas Frita yang kemudian memeluk lengan Aditya dengan hangat.


Aditya tak bisa menolak itu. Memang benar kata Amy Aurora waktu itu. Ia dan Frita memiliki sesuatu yang tak Amy Aurora miliki ketika mereka berdua: cinta. Itulah yang dimiliki. Aditya sama sekali tak bisa menyangkal.


Mereka tiba di Indonesia dengan sambutan hangat dari Pandu Saputra serta Gina Lisnia. Soal penculikan Frita tak pernah menjadi berita, meskipun itu bisa saja diangkat menjadi berita nasional, karena menyangkut sosok penting di salah satu perusahaan ternama di tanah air.


Gina berkata, “Kita pergi ke rumah kerabatku saja di Jakarta sini.”


“Tidakkah lebih baik langsung ke Bandung? Biar Frita istirahat,” kata Pandu.


“Tak ada waktu. Ini semua harus diselesaikan mumpung waktunya tepat,” tukas ibu Frita itu.


“Sudahlah, Ma. Jangan dulu,” kata Frita sambil terlihat tidak enak dengan yang lain, terutama Aditya.


“Mereka tidak perlu tahu,” kata Gina sambil memberi isyarat melirik pada anggota Skuad Malam. “Tapi, khusus untuk Aditya, kamu ikut kami, ya?”


Tentu saja Aditya tak bisa menolak.


Apa yang bisa ia katakan? Ia langsung balik ke desanya yang jauh itu? Ia langsung pergi meninggalkan Frita lagi setelah ia melihat gadis itu begitu bahagia menemuinya?


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2