
Sean menoleh ke arah belakang. Dia melihat Ellena yang tidak ada di sebelahnya. Ternyata Ellena berjalan di belakangnya. Dan Sean melihat kekasihnya itu tersenyum sambil memamerkan giginya. Sean tahu, sepertinya Ellena sengaja berjalan di belakangnya di depan umum.
Tapi tidak dengan orang yang memergoki Ellena keluar bersama Sean dan Mathias dari lift atasan. Sepertinya Ellena tampak sangat akrab, bukan hanya seperti seorang atasan dan bawahan.
“Kok Ellena ga bilang ama aku sih. Emang dia beneran ya pacaran sama Pak Sean. Apa perubahan Ellena beberapa hari ini karena Pak Sean juga. Duh Ell, kamu tuh ga pernah pacaran tapi sekalinya suka sama orang kok ke calon suami orang. Duh, kamu sadar ga sih kalo semua orang sekarang lagi ngomongin kamu,” gerutu Arina yang melihat sahabatnya itu bersama dengan atasan mereka berdua.
“Besok aku tanyain lah. Masa iya dia ga mau cerita sama aku sih,” ucap Arina sambil terus melihat punggung Ellena yang semakin menjauh.
Sementara itu di depan lobi kantor, mobil yang biasa dinaiki oleh Sean sudah terparkir di sana. Seorang penjaga keamanan juga sudah membukakan pintu mobil untuk Sean. Sedangkan Ellena masih berdiri di depan pintu lobi karena ragu untuk mendekati Sean.
“Ell, ayo,” panggil Sean.
Ellena menoleh ke arah petugas keamanan yang kini tampak sedang bersama dengan Mathias. Lalu dia kembali melihat ke arah Sean yang sudah ada di samping mobil. Sean tampak menganggukkan kepalanya tanda dia semua aman.
Dengan langkah sedikit ragu, akhirnya Ellena melangkah mendekati Sean. Demi keamanan dari kemungkinan orang lain tahu, Ellena pun melangkah lebih cepat dan segera masuk ke dalam mobil. Sean yang melihat Ellena sudah masuk pun segera bergabung ke dalam mobil yang segera di ikuti oleh Mathias yang duduk di balik kemudi. Salam sekejap saja, mobil itu meluncur meninggalkan kantor.
“Mau makan apa kita?” tanya Sean.
“Ga tau ... makan apa ya enaknya?” tanya Ellena balik sambil melihat ke arah Sean.
“Kamu di cari ga sama orang rumah?”
“Ga juga sih. Tadi aku udah cek dan ga ada pesan. Trus aku bilang aja kalo aku pulang rada telat malam ini.”
“Kamu udah cerita soal aku sama ibu kamu?” tanya Sean berharap.
“Baru cerita kalo kita ketemu lagi. Tapi kalo cerita kita deket, belum. Aku pengen pelan-pelan sambil kenalin kamu sekalian ke Nathan.”
“Iya ... aku udah pengen banget ketemu sama Nathan. Semoga aja nanti dia maunya sama aku.”
“Nathan ga gampang deket sama orang yang dia ga pernah liat. Semoga aja nanti dia bisa klik waktu liat kamu. Kan dia anak kamu, harusnya kalian punya ikatan batin yang tersambung nantinya,” jawab Ellena sambil tersenyum pada Sean.
“Ok, aku paham. Semoga aja Nathan nanti bisa terima kehadiran aku. Aku mau kalian berdua temani hidup aku sampe akhir.”
__ADS_1
Pasangan yang sedang dimabuk cinta itu saling bertatapan. Sean meraih tangan Ellena dan menggenggamnya erat. Sedangkan Ellena menyandarkan kepalanya di bahu Sean, dia ingin menyandarkan hidupnya yang terasa sangat berat ini pada sang kekasih.
Setelah makan malam bersama Sean, Ellena pun diantarkan sampai ke rumahnya. Kali ini karena masih belum terlalu malam, Sean mengantarkan Ellena sampai masuk ke dalam gang rumahnya. Di sana masih ada beberapa warga yang masih tampak beraktivitas termasuk Siska dan Nathan yang tampak sedang mencari angin di teras rumah mereka.
“Kok udah malam masih di luar, Ell,” tanya Sean saat melihat punyanya sedang bermain dengan ibu Ellena hanya dengan memakai kaos dalam dan celana pendek.
“Panas kayanya di dalam. Nathan ga bisa terlalu lama pake kipas angin, bisa masuk angin dia,” jawab Ellena tentang kondisi Nathan
“Kamu ga pasang AC?”
“Duh, mau duit dari mana. Lagian daya listrik kami juga ga banyak kok,” jawab Ellena sambil melihat ke Sean.
“Serahkan ke Papa Nathan. Ini urusan laki-laki!” ucap Sean sambil melihat ke arah rumah minimalis Ellena.
“Eeh ... jangan, Sean.”
“Ga usah banyak protes, Ell. Aku paling ga suka dibantah!”
“Duh,” gumam Ellena pelan.
“Ibu,” panggil Ellena.
Siska mendekat ke arah pagar kecil di depan rumah mereka. Dia tersenyum melihat pria tampan di samping putrinya yang memang mirip dengan cucu kesayangannya itu. Sean tampak tersenyum ramah pada Siska yang datang menyambutnya.
“Kamu baru pulang, Ell,” tanya Siska basa-basi.
“Maaf Bu, tadi kami mampir makan malam dulu,” ucap Sean.
“Oh iya ... ga papa.”
“Oh iya ... Bu, ini Sean. Dia ...,” jeda sebentar saat Ellena melihat putranya yang sedang asih bermain di teras, “Ini Papa Nathan, Bu,” lanjut Ellena memperkenalkan Sean.
“Oh iya, kalian emang mirip banget ya. Kamu mau ketemu anak kamu?” tanya Siska.
__ADS_1
“Kalau diijinkan, akan dengan senang hati saya terima, Bu,” jawab Sean sambil memasang wajah penuh harap.
“Nathan, sini. Kenalan sama temennya mama,” panggil Siska pada Nathan yang masih bermain.
Nathan pun berlari lalu segera memeluk kaki Siska. Wanita paruh baya itu segera menggendong Nathan namun Nathan mengulurkan tangannya ingin digendong Ellena. Dengan senang hati Ellena segera mengambil putranya dari gendongan ibunya.
Hati Sean tidak karuan saat dia melihat Nathan dalam jarak yang sangat dekat seperti ini. Dia rasanya ingin sekali mengendong dan memeluk putranya itu saat ini juga.
“Nathan, kenalin ini temen Mama. Namanya Om Sean. Kenalan donk?” ucap Ellena sambil mengecup pipi Nathan dengan hidungnya yang mancung.
“Temennya Mama ya. Baik ga, Ma?” tanya bocah di gendongan Ellena itu.
“Baik dong. Kalo ga baik kan ga mungkin Mama jadiin temen.”
“Om Sean kaya Daddy long feet?” tanya Nathan sambil menoleh ke arah Sean.
“Yes of course. Hi Boy!, can you call me like that?” tanya Sean sambil sedikit mendekatkan wajahnya pada Nathan.
“Like Daddy,” ucap Nathan polos sambil menyentuh wajah Sean sebentar.
Mendengar apa yang diucapkan Nathan tadi, hati Sean menjadi sangat hangat. Mata Sean tampak berkaca-kaca. Sean juga memberanikan diri menyentuh punggung Nathan untuk sekedar mengusap punggung mungil itu.
Melihat pertemuan itu, air mata Ellena tidak bisa terbendung lagi. Dia tidak menyangka kalau putranya akan bertemu dengan papa kandungnya seperti ini. Dulu dia selalu menutupi sosok Sean saat putranya itu bertanya.
Tapi sekarang kenyataan berkata lain. Ternyata Sean memang mencari mereka berdua selama ini dan takdir mempertemukan mereka lagi. Ellena tersenyum pada Sean dengan air mata berderai.
“Mama nangis kenapa?” tanya Nathan memecah keheningan.
“Hmm ... ga papa kok. Mama ga nangis, cuma kelilipan aja kok.”
Sean tersenyum mendengar jawaban Ellena. Tangan Sean sudah sangat nyaman membelai punggung mungil Nathan yang ada di gendongan mamanya. Sean sudah sangat senang dengan keadaan ini sekarang.
“Oh iya ... Ell, akhir pekan bisa ga kamu sama Nathan dan ibu kamu pergi ke hotel dulu. Nginep sana sekalian,” ucap Sean sambil melihat ke arah Ellena dan Siska secara bergantian.
__ADS_1
“Hotel? Mau ngapain?” tanya Ellena tidak mengerti.
Bersambung....