
Sore ini para sopir sedang bersiap hendak pulang. Tiba-tiba Yana masuk ke kantor sopir. Dia mencari Hadi ke dalam ruangannya. Tak lama kemudian dia kembali keluar dari ruangan Hadi. Dilihat dari raut wajahnya Aditya pikir mungkin ada masalah serius. Hadi kemudian datang menghampiri Aditya.
“Dit kamu disuruh membeli beberapa barang oleh pak Yana,” ucap Hadi sambil memberikan list barang beserta uang kepadanya.
“Kenapa harus saya?” tanya Aditya heran, padahal sopir lain juga banyak.
“Kan bu Frita katanya masih harus rapat sampai petang nanti, jadi kamu doang sopir yang masih ada di sini. Lagian lumayan kan biar nggak bosen nungguin bu Frita selesai rapat.”
“Oh, baiklah kalau begitu,” jawab Aditya terpaksa.
“Nanti barangnya taruh di ruangan saya ya, soalnya pak Yana juga sudah pulang. Biar besok saya sendiri yang memberikannya. Itu buat pak Yana sendiri masalahnya.”
“Loh kalau begitu kenapa dia tidak sekalian pulang saja membeli barangnya?”
“Katanya dia sudah terlanjur bilang kepada tokonya hari ini akan membeli barang itu di sana, dia juga bilang tidak akan sempat pergi ke toko itu karena harus buru-buru pulang. Ini kunci ruangan saya, nanti kalau mau pulang kunci lagi ya, terus kuncinya taruh saja di loker saya,” jelas Hadi.
Aditya menerima list barang dan uang dari Hadi. Dia kemudian mengemudikan mobilnya bersama para sopir lain yang hendak pulang. Dia sampai di alamat toko yang tertera di kertas.
“Permisi pak, saya ingin membeli barang-barang ini,” ucap Aditya kepada penjaga toko sambil memberikan list barang.
“Oh disuruh pak Yana Glow & Shine ya?” tanya penjaga itu setelah membaca tulisan di kertas.
“Iya pak, katanya pak Yana nggak bisa datang ke sini.”
“Pak Yana memang sering ke sini, tapi hari ini dia bilang jika ada keperluan mendadak hingga tidak bisa datang ke sini langsung,” jelas penjaga toko. Sambil mengumpulkan barang yang ada di list.
Setelah selesai membayarnya Aditya kembali ke perusahaan. Setelah sampai dia kemudian meminta satpam untuk membuka pintu kantor sopir. Aditya kemudian masuk ke ruangan Hadi untuk menaruh barang milik Yana. Tiba-tiba dia mendengar suara kipas komputer masih berputar.
“Dasar ceroboh, masa cuma monitornya saja yang dimatiin,” gerutu Aditya. Dia kemudian menghidupkan kembali monitor dan mengshut down CPU nya. Setelah semuanya mati barulah Aditya keluar dari ruangan lalu menguncinya sesuai pesan Hadi.
“Kamu belum pulang Dit?” tanya Sherly, ketika dia sedang mengelap kaca mobil.
“Eh kirain siapa, belum nih aku masih menunggu Mbak Frita.”
“Oh iya aku lupa kalau kamu sopir pribadi Mbak Frita, tadi sih dia sudah keluar juga. Btw terimakasih ya buat waktu itu.”
“Sama-sama Sher. Itu kan sudah jadi tugasku.”
__ADS_1
“Malam ini kamu mau nggak kalo aku ajak makan bareng? Ya sebagai ucapan terimakasih dariku.”
“Duh, mala mini kayaknya nggak bisa deh. Mungkin kapan-kapan saja ya.”
“Yaudah aku minta no WA kamu saja deh, nanti kita tentuin waktunya.”
Mereka kemudian bertukar nomor, Frita dan Rani yang baru keluar dari kantor terkejut melihat keakraban Aditya dan Sherly, tersirat kekesalan di wajah Frita. Sherly kemudian pulang duluan. Frita masuk ke dalam mobil tanpa berkata sepatah katapun.
Esok harinya terjadi kegaduhan besar di perusahaan Glow & Shine Co. Frita yang baru datang ke kantor segera diajak Rani menemui William di ruang meeting. Aditya heran melihat keributan yang terjadi di sana.
“Ada apa sih Ran?” tanya Frita sambil berjalan cepat menuju ruang meeting.
“Darurat Fri, darurat ini,” jawab Rani dengan wajah cemas.
“Oh Frita, selamat pagi. Maaf jika pagi-pagi begini aku sudah menyuruhmu untuk datang kemari,” sapa William saat Frita dan Rani masuk ke dalam ruang meeting.
“Ada apa ini Will? Kok banyak tim IT yang mondar mandir di kantor?”
“Itu dia Fri, hari ini sistem keamanan kita diserang oleh Hacker.”
“Sebenarnya sistem keamanan cyber kita sudah sangat mumpuni, walaupun bisa di bobol namun akan sangat sulit untuk mengakses seluruh data perusahaan secara singkat seperti ini,” jelas Kepala IT.
“Lalu apa penyebabnya?”
“Sistem keamanan kita terlebih dahulu dilumpuhkan oleh malware yang merusak, setelah itu secara otomatis data kita di enkripsi oleh malware itu. sedangkan data aslinya langsung di unggah ke internet milik sang Hacker,” jelas Kepala bagian IT.
“Maksudmu malware sejenis ransomware begitu? Bukankah sistem cyber kita bisa menangkal malware sejenis itu?”
“Anda benar bu, hanya saja hacker ini tidak menyerang sistem jaringan kita dari luar.”
“Maksudmu mereka menyerang dari dalam perusahaan?”
“Ya, kemungkinan ada anak buah hacker di perusahaan ini yang sengaja memasukkan malware itu.”
Frita terlihat cemas sekaligus marah. Dia tidak menyangka jika perusahaannya akan disusupi oleh orang jahat seperti itu. jika ditemukan maka dia tidak akan segan untuk memberikan hukuman berat termasuk memenjarakan orang itu.
“Lalu langkah apa yang harus kita lakukan?” tanya Frita.
__ADS_1
“Saya sudah memerintahkan bagian IT untuk menyelidiki komputer di perusahaan yang digunakan hacker untuk melumpuhkan sistem keamanan cyber kita,” jelas Kepala IT.
“Aku juga sudah memerintahkan bagian keamanan untuk menyelidiki setiap CCTV untuk mendapatkan petunjuk tentang orang yang memasukan malware berbahaya itu ke dalam komputer,” tambah William.
“Ya, saat ini bagian keamanan sedang melakukan yang terbaik,” timpal Heni.
“Semoga saja bisa kita atasi secepatnya. Lalu berapa uang yang harus kita gunakan untuk menebus data penting yang diambil si Hacker itu?” tanya Frita.
“Hacker itu meminta uang tunai sebesar sepuluh miliar, jika dalam waktu seminggu kita tidak melunasinya maka data penting itu akan mereka sebarkan ke rival perusahaan kita,” jawab William.
“Itu terlalu besar!” gerutu Frita sambil memegang kepalanya.
“Ya, tapi jika data penting terutama hasil riset bagian R&D perusahaan kita tersebar, maka kerugiannya bisa mencapai ratusan miliar atau bahkan trilyunan rupiah,”
“Ayah, apa yang harus kulakukan sekarang,” gumam Frita pelan.
Frita sangat bingung saat ini, dia tidak tahu langkah apa yang sebaiknya dia ambil utnuk mengatasi masalah ini. Selang beberapa menit, wakil kepala bagian keamanan serta wakil kepala bagian IT masuk ke dalam ruangan.
“Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan akar permasalahannya?” tanya William.
“Sudah pak, saya sudah mengetahui komputer mana yang pertama terserang malware itu.”
“Lalu, jika kita mengatasi sumbernya apakah semua serangan ini bisa dihentikan?”
“Kami masih mencobanya. Sebaiknya kita segera melihatnya di ruang kontrol bagian IT,” sela Kepala bagian IT.
Semua orang di sana kemudian berpindah ke gedung bagian IT tepatnya ke ruangan control. Di sanalah server utama perusahaan berada. Tampak para pegawai IT sedang bekerja keras menghalau serangan yang dilakukan hacker saat ini.
“Lalu bagaimana dengan identitas anak buah hacker yang menyusup di kantor kita? Apa sudah ditemukan?” tanya Frita.
“Sudah Mbak, kami sudah menemukan tersangka utamanya. Selanjutnya tergantung Mbak Frita,” jawab Wakil bagian keamanan.
“Bawa orang itu kemari!” perintah Frita.
“Baik!” jawab wakil bagian keamanan lalu pergi untuk membawa tersangka utama dalam serangan Hacker ini.
BERSAMBUNG…
__ADS_1