Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 35


__ADS_3

“Ya ampun,” ucap Ellena kaget saat dia membuka pintu dan ada orang di balik pintu ruangan Sean.


Karena begitu kagetnya Ellena sampai mundur dan memegangi dadanya. Dia sangat kaget seperti orang yang tertangkap basah sedang masuk ke ruangan Sean tanpa ijin.


Orang yang ada di balik pintu juga tidak kalah kagetnya dengan Ellena. Wanita paruh baya itu sampai menjatuhkan lap dan juga semprotan cairan pembersih yang ada di tangannya. Dia juga sangat kaget tiba-tiba ada Ellena muncul dari dalam ruangan sang kaisar perusahaan ini.


“Ya ampun, Ell! Kamu ini bikin kaget aja sih,” ucap Bu Siti, cleaning service kantor.


“Duh, Bu Siti juga ngapain di situ ga ada suaranya. Kan Ellena jadi kaget banget,” ucap Ellena yang masih memegangi dadanya untuk menstabilkan jantungnya.


“Yee ... mana Ibu tau kalo kamu di situ. Lagian ngapain kamu di situ? Kan Pak Sean belum dateng?” tanya Bu Siti ingin tahu.


“Cuma mau kirim pesenan Pak Sean, Bu. Sarapan pagi. Tadi Pak Sean bilang kalo sarapannya di suruh langsung masukkan ke ruangannya aja. Soalnya Pak Sean dateng agak telat nanti.”


“Oh gitu. Tapi udah kamu taroh kan?”


“Udah. Kalo gitu Ellena pamit dulu ya, Bu. Nanti dicariin Bu Silvia,” pamit Ellena pada wanita paruh baya itu.


Ellena segera keluar dari ruangan Sean. Dia segera melangkah menuju ke lift yang ada di sudut ruangan. Ellena melangkah sambil tersenyum membayangkan Sean akan menikmati makanan buatannya dengan perasaan bahagia.


“Ellena!” panggil Bu Siti sedikit berteriak dari dalam ruangan Sean.


Ellena berbalik dan segera melihat ke arah Bu Siti, “Ada apa, Bu?” tanya Ellena yang melihat Bu Siti berjalan ke arahnya.


“Ini hp kamu?” tanya Bu Siti sambil mengulurkan sebuah ponsel di tangannya.


“Eh iya, ya ampun pake ketinggalan segala. Makasih ya, Bu,” ucap Ellena sambil mengambil ponselnya lalu tersenyum pada Bu Siti.


Namun ternyata, saat Ellena berbalik badan saat dipanggil oleh Bi Siti tadi, pintu lift khusus petinggi perusahaan terbuka. Ada seseorang di dalam sana yang batal keluar saat melihat Ellena ada di sana. Dia mencoba bertahan di dalam lift sesaat sampai Ellena masuk ke dalam lift sebelahnya.


Setelah memastikan kalau keadaan di sana sudah tenang, orang yang ada di dalam lift itu pun segera keluar. Dia melangkah keluar dan berhenti di depan lift yang tadi dinaiki oleh Ellena.


“Ngapain dia ke sini? Ngapain orang ga punya malu itu ke ruangan Sean!” ucap Luna kesal saat melihat lift itu.


Luna kemudian berjalan menuju ke ruangan Sean. Dia ingin bertemu dengan Sean pagi ini sebelum dia beraktivitas di dekat kantor Sean. Sudah beberapa hari Sean tidak datang ke rumah Luna bahkan menerima telepon dia saja tidak.


Kemarahan Luna kini di tambah dengan dilihatnya Ellena di ruangan Sean bekerja. Padahal orang seperti Ellena tidak layak untuk berada di lantai paling tinggi di gedung ini.

__ADS_1


“Eh ... mau cari siapa, Bu?” tanya Bu Siti yang sedang membersihkan ruangan Sean.


“Sean belum dateng?” tanya Luna.


“Belum, Bu. Maaf Ibu ini siapa ya?” tanya Bu Siti.


“Ga usah nanya-nanya!! Kerja aja yang bener!!” bentak Luna.


Bu Siti yang kaget dengan bentakan Luna segera menghadap ke meja kerja Sean lagi. Dia segera melakukan pekerjaannya lagi dan tidak berani menatap Luna.


Luna berjalan menuju ke sofa tamu yang ada di sana. Dia segera duduk di sofa single sambil melipat kakinya. Luna melihat ke sekeliling ruangan Sean, mencoba mencari sesuatu yang janggal di matanya.


“Eh ada tamu. Maaf Bu, apa sebelumnya udah punya janji sama Pak Sean?” tanya Nindi sekretaris Sean yang masuk ke ruangan Sean sambil membawa beberapa berkas di tangannya.


“Janji? Apa calon istrinya Sean perlu buat janji dulu kalo mau ke sini?” tanya Luna dengan angkuhnya.


“Calon istri? Oh maaf Bu, saya tidak tahu. Tapi mohon maaf, Pak Sean akan sedikit terlambat datang ke kantor karena beliau ada jadwal pagi bertemu dengan seorang klien,” ucap Nindi memberikan penjelasan.


“Ya udah ga papa. Dia juga tau kok kalo aku nungguin di sini. Kamu ga usah urusin saya!” ucap Luna ketus.


Nindi kemudian berjalan menuju ke meja Sean untuk meletakkan berkas yang dia bawa itu. Saat dia meletakkan berkas, Nindi melihat ada kotak makan di atas meja kerja Sean.


“Bu, ini kotak makan siapa?” tanya Nindi pada Bu Siti.


“Oh itu tadi Mbak Ellena yang naroh situ. Katanya itu pesenan Pak Sean,” jawab Bu Siti.


Mendengar nama Ellena disebutkan di ruangan itu, Luna segera menoleh ke arah meja kerja Sean. Dia melihat ada sebuah kotak makan ada di atas meja. Hati Luna semakin kesal saat dia tahu kalau kotak makan itu dari Ellena.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Bu Siti dan juga Nindi keluar dari ruangan Sean. Kini hanya tinggal Luna yang ada di ruangan itu.


Dengan langkah santai Luna segera mendekati meja kerja Sean. Dia kini melihat dengan jelas kotak makan yang ada di atas meja. Kotak makan berwarna biru langit itu juga menyimpan sebuah pesan yang diletakkan di sampingnya. Tangan Luna segera meraih kertas pesan tersebut.


“Selamat makan Sean, semoga hari kamu menyenangkan. Ellena,” ucap Luna membaca pesan yang tertulis di kertas yang ada di tangannya itu.


“Brengsek!! Dasar manusia rendah! Berani sekali kamu mau ambil milikku. Ga akan alu biarkan kamu merusak hubungan aku dengan Sean!!” ucap Luna sambil meremas kertas yang ada di tangannya itu.


Luna segera mengambil kotak makan tersebut dan membawanya menuju ke kotak sampah yang ada di dekat meja Sean. Tanpa ragu, Luna segera menginjak pedal kotak sampah itu dan memasukkan kotak makan itu ke dalam tempat sampah.

__ADS_1


“Makanan sampah memang harus ada di tempat yang benar!” ucap Luna senang saat dia melihat makanan Luna berakhir di tempat sampah.


***


Sean tiba di kantor. Dia sangat bersemangat untuk segera ke ruangannya karena saat di perjalanan tadi dia sudah mendapat kabar dari Ellena kalau sarapannya sudah ada di ruangan kerjanya. Sean sangat bersemangat untuk makan masakan kekasihnya tersebut.


Sean bahkan sengaja tadi di apartemennya dia tidak sarapan karena dia sudah memesan sarapan dari Ellena untuk pagi ini. Sean sudah bertekad untuk menghabiskan semua makanan yang disediakan penuh cinta oleh Ellena untuk dia.


“Lho kok ga ada sih?” ucap Sean saat dia mendapati meja kerjanya hanya ada berkas pekerjaan saja.


“Apa Ellena meletakkannya di tempat lain, Bos?” tanya Mathias.


“Ga mungkin, tadi dia bilang dia taroh sini kok. Ellena ga mungkin bohong.”


“Lalu apa ada orang yang menyimpannya? Saya tanya Nindi dulu, Bos.”


“Panggil Nindi ke sini, sekarang!!”


Sean kesal karena tidak menemukan kotak makan seperti yang dikatakan Ellena padanya. Padahal dia sudah sangat mengharapkan sarapan dengan makanan itu.


“Ada apa, Pak?” tanya Nindi saat dia masuk ke ruangan Sean.


“Nin, apa kamu tau ada kotak makan di atas meja Pak Sean?” tanya Mathias.


“Tau, Pak. Itu ada di ... lho kok ga ada?” ucap Nindi kaget saat melihat ke arah meja kerja Sean.


“Siapa yang masuk ke ruangan saya saat saya tidak ada?” tanya Sean sambil menggerutukan giginya.


“Tadi ada Bu Siti sama calon istri Bapak saat saya masuk sini,” ucap Nindi.


“Calon istri?” tanya Sean sambil menatap Ninti tajam.


“Iya Pak, tadi bilangnya gitu. Wanita cantik, tinggi rambutnya pendek. Bilangnya calon istri Bapak.”


“Brengsek!! Kamu sudah berani lancang menyentuh barang pribadi aku, Luna!” ucap Sean geram sambil mengepalkan tangannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2