
Ellena yang kaget dengan ucapan Arina segera saja menoleh ke arah sahabatnya itu. Dia tidak menyangka temannya itu akan mengatakan hal seperti itu kepadanya.
" Pelakor? Kamu nuduh aku pelakor?” ucap Ellena dengan wajah serius.
“Eeh ... ga gitu Ell. Aku ga nuduh kamu kaya gitu kok. Aku cuma becanda tadi. Maafin aku, Ell,” ucap Arina penuh penyesalan.
“Jangan bahas sesuatu yang kaya gitu. Lagian aku juga ga minat sama yang udah jadi milik orang.”
Pintu lift terbuka di depan ruang kerja Ellena, dia dan Arina segera keluar dari lift meninggalkan banyak perbincangan yang ada di dalam lift. Perbincangan tentang Cinderella dan juga pelakor baru di kantor.
Ellena segera berjalan masuk menuju ke meja kerjanya. Dia harus bersiap untuk rapat. Namun saat Ellena akan meletakkan tas kerjanya di meja, langkahnya terhenti tiba-tiba. Dia melihat ada sebuah kotak di atas mejanya. Sepertinya kotak kali ini adalah kotak makan dan setangkai mawar merah di atasnya.
“Ell, kamu pesen sarapan?” tanya Arina.
“Enggak. Tadi aku udah sarapan di rumah. Aku udah makan kok,” jawab Ellena yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
“Waah ... Pak Devan kok romantis banget ya. Sampe kirim kamu makanan segala buat sarapan.”
“Pak Devan?” tanya Ellena sambil menoleh ke sahabatnya.
“Iya ... tadi pas kita lewat depan ruangannya, aku liat Pak Devan ada di sana sambil makan. Kayanya ini juga dari dia deh.”
Ellena menoleh ke arah belakang di mana ruangan kerja Devan berada. Ruangan itu masih tertutup rapat tapi tetap saja dia lihat karena ada rasa tidak percaya kalau Devan yang mengirim makanan itu. Apa lagi ada sekuntum mawar merah di atas kotak makan itu.
‘Dari Devan? Masa sih ini dari Devan? Dari Devan apa dari Sean ya?’ ucap Ellena dalam hati meragukan ucapan Arina.
“Ell, lihat dong itu kirimannya apaan? Aku penasaran,” ucap Arina sambil mendorong lengan Ellena agar segera membuka kotak makan.
Ellena melihat ke sekitar meja kerjanya, ternyata masih sepi dari pegawai yang lainnya. Kotak makan penuh misteri itu harus segera dia sembunyikan karena dia tidak mau akan ada gosip ketiga yang akan menggema di kantor ini.
Tanpa menjawab perintah Arina, Ellena segera meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu segera duduk. Dia ingin melihat apa isi kotak makan itu. Rania yang tidak kalah penasaran pun juga segera duduk di sebelah Ellena untuk menuntaskan rasa keponya akan kotak makan.
__ADS_1
“Waah ... enak banget itu. Sandwich! Ell, aku mau satu ya,” ucap Arina yang segera mengulurkan tangannya untuk mengambil satu sandwich yang ada di depan Ellena.
“Enak aja!” ucap Ellena sambil menepuk tangan temannya itu.
“Dih! Pelit amat sih, Ell. Kan itu ada dua. Bagi satu napa, kan kamu tadi katanya udah sarapan,” ucap Arina sambil memasang wajah memelas.
“Ga boleh! Ini aja belum pasti dari siapa kok. Udah sana balik ke meja kamu. Aku mau persiapan rapat.”
“Tapi sandwich-nya gimana?”
“Ga gimana-gimana. Aku masukin laci. Tuh udah aku simpen,” ucap Ellena sambil memasukkan kotak makan itu ke dalam laci meja kerjanya.
“Pelit kamu.”
“Bodo amat!”
Ellena segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Dia ingin menghubungi Sean untuk menanyakan soal kotak makan pagi ini. Ellena lebih curiga kalau Sean yang mengirimnya di bandingkan dengan Devan. Apa lagi tadi malam mereka sudah bersama dan diakhiri dengan sangat manis.
Ellena melihat ada pesan yang masuk di ponsel miliknya. Dia segera membuka kode ponselnya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Sebuah pesan manis di pagi hari yang membuat senyum manis Ellena mengembang. Pesan yang membuat dirinya bersemangat serta segera mengambil mawar yang masih ada di atas mejanya. Ellena melihat ke arah mawar dan pesan di ponselnya itu secara bergantian lalu mengembangkan senyum lebar sampai memamerkan barisan giginya.
Arina yang sedang ada di depan Ellena pun jadi terheran-heran dengan apa yang dilakukan oleh temannya itu. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya itu kali ini.
Tok tok tok
“Ell, kamu kenapa?” tanya Arina sambil mengetuk kaca pembatas di depan mereka.
“Apa?? Aku ga papa kok, emang kenapa?”
“Kok senyum sendiri. Udah tau ya siapa yang kirim sarapan?” tanya Arina penuh selidik.
__ADS_1
“Kepo aja di gedein. Udah ah, ga boleh tanya-tanya.”
Ellena masih ingin menyembunyikan apa yang terjadi antara dia dan Sean. Dia ingin memastikan semuanya sendiri tentang kesungguhan Sean sebelum menceritakan pada orang lain. Paling tidak kalau nanti memang Sean memang hanya ingin memainkan perasaannya saja, dia tidak akan malu pada orang lain.
Sementara itu di ruangan kerja Sean, seorang pria sedang menatap ponselnya terus. Pesan yang dia kirim sudah terbaca tapi sampai saat ini tidak ada balasan apa pun yang masuk ke dalam ponselnya. Sean sampai kesal pada Ellena yang seolah tidak peduli padanya itu.
“Dia ini tau ga sih ada kiriman di meja dia. Kok bisa-bisanya dia secuek itu. Pesen dibaca tapi ga di respon sama sekali. Maunya apa coba,” gerutu Sean kesal.
Sean terus saja merutuki ponsel yang ada di genggamannya itu. Dia seolah sedang memaki Ellena yang cuek kepadanya. Saat dia sedang sibuk merutuki wanitanya itu, tiba-tiba Mathias masuk ke dalam ruangan kerja Sean.
“Bos, sudah waktunya meeting pagi,” ucap Mathias yang berdiri di depan meja kerja Sean.
“Eh Mathias! Kamu tadi udah kerjakan perintah saya belum?” tanya Sean pada asistennya itu.
“Sudah, Bos. Sudah saya letakkan di atas meja Ellena sesuai dengan apa yang Bos perintahkan. Termasuk mawar merahnya,” jawab Mathias menjelaskan.
“Kalo kamu udah kirim itu ke meja Ellena, kenapa dia ga bales pesan aku ya. Kamu narohnya bener di meja dia kan? Apa kamu udah naroh itu di tempat aman? Ga bakalan di ambil orang kan?” tanya Sean penuh rasa khawatir barangnya tidak sampai.
“Ga mungkin, Bos. Sudah saya letakkan tepat di meja Ellena dan pasti tidak akan ada yang mengganggunya. Tapi saya tidak kasih pesan apa pun dan nama Bos di sana.”
“Nah itu! Itu kamu yang bodoh. Kalo dia ga tau itu dari siapa gimana dia tau mau bilang makasih sama siapa? Trus kalo makanan itu di buang gimana? Ato kalo makanan itu dia kira dari Devan gimana? Kamu kerja ga profesional!!” ucap Sean melampiaskan kekesalannya.
“Tapi tadi perintahnya tidak boleh kirim pesan di sana, Bos,” ucap Mathias makin bingung.
“Tadi? Ah itu tadi ... harusnya kamu mikir kalo saya salah sebut. Dasar kamu emang,” jawab Sean sambil mengalihkan perhatiannya ke ponselnya lagi.
‘Si Bos aneh banget sih,’ keluh Mathias dalam hati.
Sean memang sengaja untuk mencari kesalahan Mathias. Dia sedang mengeluarkan semua kekesalannya pada Ellena yang tidak membalas chat-nya tadi. Setelah puas mengomel, akhirnya Sean pun segera pergi ke ruang rapat bersama dengan Mathias.
Saat masuk di ruang rapat, mata Sean langsung menangkap sosok Ellena yang duduk di depannya. Sepanjang rapat berlangsung, mata Sean lebih banyak tertuju pada paras cantik Ellena. Untung saja di dinding depan Sean itu ada layar yang menampilkan slide pembahasan rapat, jadi tidak akan ada orang yang curiga padanya.
__ADS_1
“Baiklah, saya terima semuanya. Saya senang dengan peningkatan kinerja kalian yang luar biasa. Saya harap ke depannya akan saya tunggu prestasi luar biasa kalian lagi. Kerjakan PR kalian yang sudah saya kasih tadi dan satu lagi ... kalau di chat sama atasan, segera balas! Jangan nunggu kamu ingat baru balas! Nunggu itu menyebalkan, ingat itu!!” ucap Sean sambil melihat ke arah Ellena sang tertuduh.
Bersambung....