Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 282


__ADS_3

Aditya bukan menyerang balik kedua sosok itu. Aditya malah melihat peluang unik agar Rama dan Reza melukai satu sama lain.


Maka, dengan sigap ia menghindar.


Tak disangka, tubuh Aditya yang menghindar dengan sangat cepat itu membuat Rama dan Reza saling bertabrakan.


Sejenak ruang tamu itu hening. Hanya sesekali terdengar erangan para anak buah yang terkapar tak berdaya di lantai dan meja.


“Anjing ... loe nusuk gue, Rama!”


Akhirnya terdengar suara itu.


Darah mengalir dari perut Reza. Darah yang terjadi akibat tusukan pedang samurai milik Rama. Rama yang tak menyangka akan melukai saudaranya sendiri, padahal tadi bermaksud menyerang Aditya, tampak marah.


“Bukan gue yang membunuhnya kalau nanti dia mati, Bro,” kata Aditya, lalu sigap dia renggut pedang dari tangan Reza yang terbaring pucat. Dan memasang kuda-kuda untuk menghadapi Rama.


***


Pandu bisa mendengar suara adu pedang dari arah depan. Ia juga mendengar jerit dan umpatan antara Aditya dan Rama dari ruang tamu. Ia menelepon Frita, bertanya apa anak perempuannya itu sudah berhasil menyembunyikan diri.


“Ya, di sini aku sudah sama Shelly D, Papa. Bagaimana kalian?” balas Frita di sana.


“Kacau. Di sini kacau! Tapi Aditya bisa mengatasi semua. Polisi juga sudah akan menuju kemari,” jawab Pandu.


Tak berapa lama setelah Pandu menutup telepon, terdengar keributan baru di luar sana. Orang-orang Ratna datang. Mereka mungkin agak terlambat, tapi berkat mereka, Rama berhasil dikalahkan.


“Apa kita habisi saja dia?” tanya seorang anak buah Ratna.


“Jangan. Bawa saja ke kantor polisi,” kata Aditya.


“Tapi dia bakalan lolos lagi. Tak semua orang di kepolisian bersih, Dit,” bantah Ratna.


Memang benar. Aditya tak tahu lagi harus berkata apa.


Saat itulah anak buah Ratna yang lain menggiring Hendy dan Herman Kusuma ke ruang tamu.

__ADS_1


“Mereka coba kabur dari pagar samping. Untung tetangga kalian punya anjing!” kata anak buah Ratna.


“Oh, jadi loe yang namanya Hendy?” tanya Aditya pada Hendy.


Hendy terlihat ketakutan. Ia memang yang terpayah di antara semuanya. Ia malah berkata, “Ini semua di luar keinginan gue, Bro. Gue dipaksa!”


Memang benar apa kata Hendy. Hendy juga bilang kalau ia sebenarnya naksir pada perempuan lain, yang bernama Sherly Embunsari.


Aditya tertawa. “Sayang sekali. Sherly juga sudah punya calon suami. Lain kali loe cari perempuan yang benar-benar sendiri.”


Hendy Prakoso cuma bisa menunduk malu dan menyerah ketakutan.


Herman Kusuma lain lagi. Ia malah meludahi muka Aditya. Dengan geram, Aditya menonjok muka Herman dua kali sampai pingsan.


“Dibawa ke kantor polisi juga? Dit, urusan sama mereka bakalan lama. Kau harus bertindak tegas! Mereka punya duit untuk membungkam hukum!” kata Ratna.


“Apa aku harus membunuh mereka?” tanya Aditya dengan kesal.


Sebelum Ratna menjawab, Rama berhasil meloloskan diri dari cengkeraman anak buah Ratna, dan mencoba menusuk Aditya dari belakang. Tapi Ratna lebih cepat. Segera dia tembak dengkul lelaki itu hingga hancur.


“Kepalang tanggung,” gerutu Ratna yang sudah mengarahkan senjata ke jidat Rama.


Namun Aditya mencegahnya.


“Jangan, Ratna. Tolong. Biar ini selesai dengan sendirinya. Kamu tahu sendiri tidak semua polisi itu buruk,” kata Aditya.


“Akan kupastikan mereka dihukum dengan tepat,” kata Jimmy yang mendadak saja muncul dari ruang tengah.


Polisi pun datang, meringkus para preman suruhan Reza dan Rama, lalu menciduk Rama serta para saudaranya, kecuali Reza yang tampak tak bergerak. Paramedis yang datang tak lama kemudian memastikan dia sudah mati tak lama setelah perutnya terluka lebar.


“Sayatan itu terlalu dalam dan panjang. Lihat, darahnya saja keluar sebegitu banyak. Sudah pasti dia mati,” bisik Jimmy pada Aditya.


Aditya tahu semua ini belumlah selesai. Mereka belum menuntaskan dendamnya, kini malah bertambah matinya satu anggota mereka. Aditya tak tahu lagi apakah masih ada kesempatan baginya untuk hidup dengan damai?


***

__ADS_1


Selama beberapa hari itu tidak ada pemberitaan tentang kematian Reza, anak salah satu konglomerat sekaligus keponakan seorang penjabat tinggi negara. Tak ada berita soal pengeroyokan ke rumah Pandu juga. Semua seakan sudah dikendalikan begitu saja oleh Setiawan Budi dari balik layar.


Aditya tahu ia dan Frita, serta keluarganya, berada dalam bahaya tak berkesudahan sampai Setiawan Budi mati. Mungkin hanya itu satu-satunya solusi. Tapi ia tak mau lagi mengotori tangannya dengan darah para musuh.


Frita berhari-hari itu terus terlihat cemas. Suatu kali, saat bermobil mengantar sang adik, Frita mengatakan pada Aditya agar mereka kabur ke luar negeri. Mungkin pergi ke Eropa dan hidup di sana selama beberapa tahun.


Aditya waktu itu juga ikut dalam mobil, tapi duduk di bangku belakang.


Ia bilang, “Untuk apa? Bagaimana kamu bisa mengurus perusahaan? Lalu resort itu? Apa hanya sekadar menjadi rencana?”


Frita tak tahu harus berkata apa. Ia sangat cemas. Ia mengaku tak bisa tidur selama beberapa hari. Kalaupun tertidur tak sengaja, pasti akan langsung terbangun. Ia tak bisa tenang dan tak henti menangisi situasi mereka.


Aditya mencoba menenangkan istrinya. Ia bilang, “Kita tidak sendiri, Sayang. Ada beberapa orang yang mau membantuku. Aku sudah menelepon salah satu dari mereka kemarin lusa.”


“Siapa itu?” tanya Frita.


“Rahman Sugandi alias Guru Tanpa Nama. Orang yang berada di balik kematian palsuku waktu itu.”


“Memangnya siapa sih dia, Kak?” sahut Clarissa penasaran.


“Aku juga kurang begitu tahu, Dik. Tapi dia punya akses ke banyak orang dan dia bukan orang sembarangan. Entah berapa penjahat kelas kakap yang berhasil ditangkap berkat bantuannya.”


Memang benar Aditya belum tahu siapa sebenarnya sosok Pak Gandi atau Sang Guru Tanpa Nama itu. Tapi kemarin, dari telepon, beliau bilang bersedia menolongnya.


Guru Tanpa Nama bilang, “Setiawan Budi itu nama lama. Aku masih muda saat dia memulai kariernya di dunia hitam. Jadi kamu tenang saja, Nak.”


Itulah kenapa Aditya mengira ide kabur ke Eropa terlalu berlebihan.


Frita berkata, “Yah, semoga saja gurumu itu mau membantu.”


“Dia pasti membantu,” jawab Aditya, yang segera meraba saku jaketnya karena ada sebuah pesan masuk.


Pesan singkat dari sosok Paman Rudi, yang berbunyi: “Malam ini mereka datang lagi.”


Tak lama setelah Aditya menutup telepon, sebuah peluru senjata tembak jarak jauh menembus mobil mereka. Nyaris mengenai kepala Aditya!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2