Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 36


__ADS_3

“Kalau aku simpan saja boleh kan?” tanya Frita.


“Eh kenapa?” tanya Arya.


“Aku cuma ingin baju ini sebagai kenang kenangan, kalau waktu itu kamu sudah menyelamatkanku.”


“Tidak masalah jika memang itu maumu, aku tidak keberatan kok.”


Frita tampak senang mendengarnya. Arya dan Jimmy pamit hendak kembali ke kantornya. Mereka pergi menuju tempat parkir sedangkan Frita kembali ke kantornya dengan perasaan yang membingungkan. Dia bingung sebenarnya apa yang aneh dengan Arya. Hatinya saat ini belum bisa menerima jika Arya adalah penyelamatnya.


“Kenapa kamu murung lagi Mbak?” tanya Rani heran.


“Aku bingung Ran,” jawab Frita sambil duduk di kursinya.


“Bingung kenapa? Bukannya tadi kamu senang-senang saja pas tahu penyelamatmu mau datang kemari?”


“Makanya itu. Ketika aku bertemu dia entah kenapa kegembiraanku sedikit berkurang. Serasa ada yang kurang gitu.”


“Kurang tampan? Kurang gagah? Apa kurang tinggi?”


“Bukan itu. Aku juga nggak tahu yang kurang itu apa Ran, makanya aku bingung.”


“Kamu ini ada-ada saja Mbak. loh kok itu bajunya dibawa lagi?” tanya Rani melihat baju kemeja yang ada di tangan Frita.


“Ya karena bingung aku malah meminta baju ini untuk ku simpan sebagai kenang-kenangan.”


“Kasihan sekali Bos kita ini.”


Rani kemudian memijit punggung Frita sambil tertawa. Tampaknya Frita sedikit rileks ketika Rani memijitnya. Dia malah menyuruh Rani untuk memijit tangan dan kakinya juga sambil tertawa.


“Kamu ini malah terbawa suasana,” kata Rani sambil tertawa.


“Eh btw tadi Aditya datang ke café loh. Padahal kan harusnya dia berlatih fisik.”


“Mungkin dia disuruh bu Heni beli makanan kali Mbak.”


“Dia bilang dia sengaja izin untuk beli makanan. Tapi ngeselinnya nih dia malah tersandung di deket Arya sampe bajunya basah ketumpahan minuman Aditya.”


“Loh kan kesandung itumah. Bukan salah Aditya juga Mbak.”


“Iya, tapi itu karena si Aditya emang ceroboh Ran.”


Rani hanya terdiam sambil tersenyum. Jika sudah seperti ini dia tidak bisa membantah lagi karena Frita tampaknya begitu kesal kepada Aditya. Di luar gedung, tampak Arya dan Jimmy segera pergi meninggalkan kantor Glow & Shine dengan mobilnya.


Malam harinya Aditya melihat Frita terus termenung di tepi kolam renang. Aditya pikir mungkin Frita sedang memikirkan Arya. Aditya menghela nafas dalam. Dia kemudian membawa dua kaleng minuman dingin dari kulkas sambil menghampiri Frita. Setidaknya saat ini dia tidak mau Frita terus termenung seperti itu.


“Mau apa kamu ke sini?” tanya Frita dengan dingin.


“Nih minum nanti keburu dingin,” jawab Aditya sambil menyodorkan minuman.


“Nggak jelas banget. Sudah tahu ini minuman dingin,” gerutu Frita sambil menerima minuman itu.


“Kamu sedang mikirin apaan sih? dari tadi melamun terus, kesambet baru tahu rasa.”

__ADS_1


“Ih sok perhatian banget,” jawab Frita sambil bangkit meninggalkan Aditya.


“Kamu kan tunanganku, sudah sewajarnya dong aku perhatian sama kamu.”


“Jangan mimpi!” jawab Frita..


“Tunangan?” gumam Clarissa yang mendengarkan pembicaraan mereka dari lantai dua.


Clarissa hanya mendengar sebagian kata-kata saja dari pembicaraan mereka berdua. Mendengar kata ‘tunangan’ dia semakin penasaran dengan hubungan mereka yang sebenarnya. Dia pikir ada rahasia diantara kakaknya dan Aditya.


“Kenapa kamu murung begitu Fri?” tanya Pandu sambil menikmati secangkir kopi.


“Tadi siang aku ketemu sama yang nyelametin aku dari penjahat yah,” jawab Frita pelan.


“Eh? Jadi kamu sudah tahu identitasnya?” Pandu kaget, dia pikir Frita sudah mengetahui keadaan sebenarnya.


“Iya, namanya Arya Sanjaya. Dia kepala bagian penyelidikan di kepolisian.”


“Arya Sanjaya?” Pandu malah bingung.


“Iya katanya dia yang sudah nyelametin aku. Jimmy juga bilang begitu. Cuma..”


“Kenapa?”


“Aku juga bingung yah, aku merasa ada yang kurang gitu dari Arya. Auranya beda banget sama pas malam itu.”


“Kalo emang kamu nggak yakin ya nggak usah dipercaya Fri.”


“Ya gampang lah. Kamu tinggal ingat-ingat saja kejadian yang cuma kamu dan penyelamatmu saja yang tahu. Nah cocokan dengan keterangan Arya. Mudah kan?”


“Masalahnya aku sudah nyeritain semua kronologis malam itu ke Jimmy. Makanya aku bingung.”


Pandu juga tidak punya solusi lagi. Dia hanya menyuruh Frita agar jangan memikirkan hal itu terus karena nanti malah sakit. Tiba-tiba Clarissa datang sambil terus memaksa kakaknya agar menceritakan hubungannya dengan Aditya. pandu hanya tersenyum melihatnya.


Clarissa tak henti-hentinya terus bertanya, namun Frita juga tetap membantah keakrabannya dengan Aditya. Frita pergi menuju kamarnya karena dia kesal didesak terus oleh Adiknya.


“Yah..” rengek Clarissa.


“Ada apa?” tanya Pandu.


“Ayah pasti tahu sesuatu. Ceritain dong, please..”


“Kepo,” jawab Pandu sambil tertawa.


“Ih,” gerutu Rissa. Tampak dia begitu kesal karena ayahnya tidak mau bercerita apa-apa tentang hubungan kakaknya dengan Aditya. Clarissa langsung pergi ke kamarnya.


Malam itu pukul 21:07 semua orang di rumah Pandu sudah tertidur, kecuali Clarissa. Dia tampak sedang menonton Film action di aplikasi online. Ketika tengah asik menonton tiba-tiba saja temannya menelpon. Dia lalu menerimanya.


“Halo Ar? Tumben malam-malam nelepon,” sapa Rissa.


“Malam juga cewe tomboy.”


“Vian?! Kenapa HP Arnold ada sama lu hah?!” tanya Rissa dengan cemas.

__ADS_1


“Aduduh. Kasihan sahabatnya cemas.”


“Jawab!”


“Hahaha, tenang dong Ris. Arnold baik-baik saja kok. Dia cuma lagi nangis doang.”


“Maksud lu?”


“Ya dia nangis lah orang mobilnya jadi milik gua.”


“Apa maksud lu? Yang bener dong kalo ngomong!”


“Jiah. Gini nih susahnya ngomong sama lu. Dengerin ya, Clarissa, sahabat kamu yang lucu ini alias Arnold lagi nangis karena mobilnya aku ambil. Soalnya dia kalah balapan.”


“Apa?”


“Masih nggak ngerti nih anak. Ya udah gini saja, lu dateng kemari bawa mobil bapak lu kalo emang lu mau Arnold selamat! Bye!”


Panggilan diakhiri. Rissa semakin cemas kalau telah terjadi sesuatu kepada sahabatnya, Arnold. Di sekolahnya Arnold memang sering jadi bahan bullying karena pendiam, padahal dia adalah anak orang kaya. Tampangnya juga lumayan ganteng. Sedangkan Vian adalah kakak kelasnya di sekolah, dia terkenal suka membully orang yang lemah.


Clarissa berpikir sejenak. Dia kemudian mengendap-endap masuk ke kamar ayahnya dan mencari kunci mobil ayahnya. Setelah di temukan dia cepat cepat keluar dari rumah. Dengan cepat mengeluarkan mobil dari garasi. Rissa kemudian keluar dari mobil dan membuka pagar. Setelah itu dia dengan cepat mengemudikan mobilnya ke jalanan.


Pandu terbangun mendengar suara mobilnya menderu. Dengan cepat dia pergi ke luar rumah. Sekilas dia melihat Clarissa mengemudikan mobilnya. Tampak pagar rumah juga sudah terbuka lebar, pintu garasi juga masih terbuka, kelihatannya Rissa terburu-buru pergi. Dia kemudian menggerutu sambil memegang kepalanya.


“Ada apa Yah?” tanya Frita panik, dia juga terbangun karena suara mobil ayahnya.


“Itu adikmu bawa pergi mobil ayah,” jawab Pandu dengan kesal.


“Lah kok bisa yah?”


“Ayah juga nggak tahu. Dia mungkin saja ngambil kuncinya dari kamar ayah.”


“Dasar tuh anak. Mau ke mana sih malam-malam pergi nggak bilang-bilang,” Frita ikut menggerutu.


“Coba telepon adikmu itu Fri, tanyain mau kemana!”


“Iya Yah.”


Frita semakin cemas karena telepon tidak diangkat. Namun tak lama kemudian ada WA dari Rissa, dia bilang ada perlu sebentar ke rumah temannya. Namun ketika Frita bertanya ke mana tujuannya Rissa kembali tidak menjawab.


“Yah. Aku dapet WA dari Rissa, katanya dia baik-baik saja. dia mau ke rumah temannya.”


“Coba kamu tanya rumah temannya yang di mana?”


“Udah aku tanyain yah cuma dia nggak bales, malah nggak di baca sama sekali.”


“Duh gimana kalo yang nge WA itu penjahat, sengaja biar kita nggak ngejar dia,” gumam Pandu.


“Fri, coba bangunin Aditya! ayah mau pergi sama dia nyusul Rissa.”


Frita mengetuk pintu kamar Aditya. dia juga memanggil namanya beberapa kali namun tidak ada yang menyahut sedikitpun. Frita terpaksa membuka kamarnya. Frita memeriksanya di berbagai sudut kamar namun Aditya tidak kunjung di temukan.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2