
Sehari sebelum kejadian memuakkan itu.
Dirga, Pirlo, dan Bandi mendatangi seorang warga bernama Aris. Warga tersebut dikenal sebagai sosok yang sangat pendiam dan pemalu.
Waktu itu Aris yang duda muda itu sedang asyik merokok di terasnya. Mendadak ketiga tukang bikin onar datang dan memaksanya masuk ke dalam rumah.
“Ayo, cepat kamu masuk!” bentak Bandi.
Dirga melihat Aris yang bertubuh kurus tampak ketakutan di bawah tekanan Pirlo dan Bandi yang menyeretnya masuk ke rumahnya sendiri.
Dirga melihat ke sekitar. Kawasan itu sangat sepi. Orang-orang pasti belum pulang dari bekerja. Jelas saja itu masih jam dua siang. Masih banyak warga desa yang mengajar di sekolah, kerja di pabrik, dan sebagian ada yang masih di pasar atau berkeliling seperti Paman Salim untuk berjualan.
“Aman,” batin Dirga girang.
“Ada apa ini? Saya salah apa?” tanya Aris ketakutan.
Bandi dan Pirlo tak tahu ide macam apa yang sedang Dirga jalankan, jadi mereka diam saja, menunggu bos mereka yang sok itu bicara.
Dirga belum juga ingin bicara, masih memandangi barang perabotan sederhana di sudut rumah Aris yang juga sederhana. Ada foto Aris dan istrinya di atas lemari.
“Sejak kapan istrimu meninggal, Ris?” tanya Dirga tiba-tiba.
“Dua tahun lalu. Kenapa memang?” balas Aris.
“Oh, bukan. Kok rupanya kamu bisa mengurus diri sendiri?” Dirga baru saja tidak mencari jawaban. Ia sekadar melempar pertanyaan retoris yang sama sekali tak perlu dijawab.
Jelas saja Aris bisa mengurus diri sendiri, karena dia memang pekerja keras sedari kecil dulu. Dirga berjalan ke ruang tengah, lalu ke dapur, sambil diikuti oleh Aris yang sangat ketakutan dalam cengkeraman Bandi dan Pirlo.
“Tolong, Mas Dirga. Katakan saja. Ada apa ini? Salah saya apa?” tanya Aris dengan suara terbata-bata.
“Kamu enggak salah, Ris. Kamu cuma sedang sial saja,” jawab Dirga sambil santai mencomot sepotong ubi goreng dari meja makan Aris yang bertudung saji.
Ubi tersebut masih hangat karena belum setengah jam yang lalu digoreng oleh Aris yang cekatan. Semua juga tahu Aris senang memakan ubi goreng untuk bekalnya bekerja di pabrik sepatu atau sepulang mengurus beberapa petak sawahnya sendiri saat hari liburnya begini.
Dirga tampak menikmati ubi tersebut, lalu berkata, “Kamu bayangkan, Ris, suatu hari tiba-tiba kamu keracunan karena makan ubi ini.”
Aris masih tak mengerti arah Dirga, tapi ia menyahut, “Mana mungkin keracunan, Mas. Itu ubi saya beli dari Pak Salim dan ubi beliau selalu segar. Diambil langsung dari pasar dan dibawa keliling desa.”
__ADS_1
“Halah! Aku tidak bilang ubi Pak Salim ini jelek! Aku cuma bilang coba saja kamu bayangkan kalau kamu mendadak keracunan karena ubi ini,” balas Dirga dengan sinis.
Aris masih saja tak mengerti arahnya.
Lalu Dirga kembali berkata, “Aku tahu kamu naksir Marinah, Ris. Istri Herman si tukang pukul pasar itu.”
Aris terlihat kaget dan tak bisa membantah. Ia memang naksir Marinah, tapi cuma sebatas itu. Lalu, apa urusan Dirga?
“Kamu tahu kalau Herman itu orangnya enggak akan segan menyakiti siapa pun yang berani macam-macam?” tanya Dirga.
“Saya tidak salah apa-apa, Mas. Kenapa harus begini?” tanya Aris.
“Aku tahu kamu pernah diam-diam mengintip Marinah mandi. Coba tanyakan sama Pirlo atau Bandi. Mereka juga tahu,” kata Dirga.
Aris juga tak bisa membantah itu. Memang benar ia pernah mengintip si Marinah itu, tapi usahanya gagal total karena lubang di kamar mandi berdinding bambu milik si Marinah tak bisa membuatnya melihat tubuh wanita itu.
Hanya saja Aris tetap ketakutan, dan jelas kebingungan. Kok bisa mereka bertiga ini tahu kejadian itu?
Dirga tak menjelaskan, melainkan segera mengambil ponselnya yang mana di situ menunjukkan video rekaman ketika Aris sedang mencoba mengintip Marinah, istri tukang pukul paling ditakuti di desa.
Aris menangis sesenggukan. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk menolong dirinya sendiri. “Tolong, Mas. Jangan laporkan saya!”
“Tidak, tidak, Ris. Aku mengerti rasanya ditinggal pasangan dua tahun. Walaupun aku sendiri belum menikah,” kata Dirga dengan tenang.
Bandi dan Pirlo meringis demi melihat bosnya berhasil membuat takut Aris.
“Saya akan melakukan apa pun, asal jangan laporkan saya, Mas Dirga!” kata Aris memohon-mohon.
Dirga terlihat bahagia. Kini dia memiliki cara yang sangat ampuh untuk membalas perbuatan Aditya padanya.
***
Sore itu Aris terlihat pucat. Dirga, Pirlo, dan Bandi sudah pergi sejak tadi, tetapi Aris terpaksa harus melakukannya: menenggak sedikit racun yang kata Dirga tak bakal membuatnya mati. Sekadar membuatnya harus dibawa ke rumah sakit.
Benar saja, Aris yang sengaja duduk di terasnya setelah menenggak racun dari anak lurah itu, ambruk. Membuat orang-orang yang lewat sore itu berhamburan menolongnya. Mereka melihat ada sepotong ubi goreng di tangan Aris yang tersisa separuh.
“Wah, mungkin keracunan ubi ini,” kata seseorang.
__ADS_1
“Mana mungkin? Dia biasa beli di Pak Salim, kan?” balas yang lain.
Saat itulah Dirga dan kedua temannya datang. “Itu sih jelas keracunan. Coba kita periksa saja ubi lainnya di rumah Aris. Siapa tahu masih ada,” kata Dirga.
Seorang warga yang percaya Pak Salim tak bersalah, mencomot ubi di meja makan Aris dan memakannya, sambil disaksikan banyak warga lainnya. Ternyata, warga yang sok berani itu juga ambruk seperti Aris.
“Nah, ini jelas keracunan ubi! Ayo, kita ke rumah Pak Salim sekarang juga!” kata Bandi yang sembunyi di belakang kerumunan.
Warga sudah telanjur panik melihat dua orang di antara mereka keracunan, dan suara hasutan macam itu sudah tak dipikirkan lagi berasal dari mana. Diam-diam Dirga, Bandi, dan Pirlo menyingkir. Membiarkan para warga menyerbu rumah Paman Salim yang waktu itu sedang bersiap makan malam.
Paman Salim terpikir untuk mencari Deri yang entah kenapa belum juga kembali ke rumah sejak tadi siang.
***
Ketika akhirnya Aditya datang sehari kemudian, rumah Paman Salim sudah terlihat sepi. Namun, para tetangga tidak menyambut hangat Aditya seperti waktu pertama kali dia pulang kemari.
“Ini jelas tidak beres,” kata Aditya, yang saat itu diantar oleh Yusi.
Ya, Yusi juga sudah mendengar kabar fitnahan itu dari Deri. Otomatis Pandu, ayah Frita, juga sudah mendengar. Ketika akan meninggalkan hotel, Aditya dicegat oleh Yusi yang segera mengantarnya ke desa ini dengan helikopter pribadi Pandu.
“Ya, memang tidak beres, Dit,” kata Yusi.
Mereka melihat pintu rumah Paman terbuka. Cahaya lampu remang menyorot dari dalam sana. Tampaknya ada beberapa orang di situ.
Aditya mengetuk pintu. Semua mata menoleh.
“Ayo, buruan! Sebelum Bapak saya serahin ke polisi!” kata Dirga dengan kasar pada Paman Salim.
“Tunggu dulu! Apa-apaan ini?!”
Suara Aditya membuat Bandi dan Pirlo bangkit, mencoba menyerang Aditya yang masih memegang koper di tangannya.
Diana menjerit ketakutan. Paman Salim hanya bisa menutupi wajahnya dengan dua tangannya.
Malam itu keributan yang terjadi sangatlah panjang.
Bersambung....
__ADS_1