I Love You CEO Tampan

I Love You CEO Tampan
Episode (104)


__ADS_3

Bianca langsung memberikan minuman untuk Papa nya dan Samuel yang kelihatan sangat malu sekali karena di merasa kalah di hadapan Zivanna.


Zivanna mengambil tissue dia melihat banyak keringat di wajah Samuel, Samuel di buat salah tingkah dengan apa yang di lakukan Zivanna kepada nya.


" Hmmmm Bianca, ada kabar untuk kamu. Suster Zivanna akan menjadi model kembali. Mungkin yang dia akan menjalankan pemotretan itu di saat kamu akan tidur bersama dengan Papa."


Zivanna merasa jika Bianca tidak setuju karena dia hanya terdiam saja.


" Suster Zivanna hanya menggantikan posisi Mama Maudy saja, karena Mama Maudy yang tidak masuk bekerja sehingga membuat Tante Lollyta merasa kebingungan untuk mencari model pengganti nya."


Samuel juga memperhatikan wajah Bianca.


" Jika Suster Zivanna menjadi seorang model, nanti akan banyak yang melihat kecantikan Suster Zivanna dan Suster Zivanna tidak akan menjadi Mommy aku dong."


Samuel sampai menghelakan nafas panjang nya.


" Bianca, sudah yaa sayang jangan selalu berpikir seperti itu. Sekarang kita harus mendukung Suster Zivanna, semoga saja Suster Zivanna menjadi model yang sangat terkenal sekali yaa."


Wajah Bianca pun seketika dia langsung berbeda dan Samuel menelephone supir pribadi nya untuk menjemput Zivanna dan Bianca di depan Rumah Makan.


Zivanna dan Bianca pun memilih untuk keluar duluan karena Papa nya yang sedang membayar.


Zivanna melihat wajah Bianca yang terlihat sangat sedih sekali.


" Kenapa sedih seperti ini,? apakah Bianca suka Suster Zivanna menjadi model kembali?."


Zivanna memegang tangan Bianca dan Bianca pun merasa dia tidak bisa melarang keinginan Suster Zivanna.


" Aku tidak akan melarang Suster Zivanna, maafkan aku ya Suster Zivanna. Semoga Suster Zivanna yang selalu sukses dengan pekerjaan Suster Zivanna yang baru, aku sangat sayang sekali dengan Suster Zivanna."


Samuel melihat mereka berdua yang sedang berpelukan sungguh pemandangan yang sangat indah sekali.


" Kenapa Bianca sampai mempunyai pemikiran seperti itu yaa, ketika Suster Zivanna menjadi model akan banyak yang suka dengan Suster Zivanna. Tapi aku merasa itu sangat realita sekali, Suster Zivanna dia memang sangat cantik."


Mobil jemputan pun datang Bianca berpamitan dengan Papa nya.


" Papa aku pulang yaa Papa, jangan pulang telat aku tidak mau tidur sendirian."


Samuel pun berjanji dengan Bianca.

__ADS_1


" Papa janji sayaaaaang."


Zivanna pun langsung membawa Bianca masuk ke dalam mobil.


Bianca membuka kaca jendela mobil nya dan melambaikan tangan nya sambil tersenyum.


Samuel pun membalas lambaian tangan tangan tersebut.


Bianca melihat Suster Zivanna yang seperti melamun.


" Suster Zivanna kenapa,? apakah Suster Zivanna sedang sedih?."


Zivanna memikirkan bagaimana jika Maudy mengetahui pekerjaan nya yang di gantikan oleh nya.


" Nanti Mama Maudy marah nggak ya Sama Suster Zivanna, karena nanti malam menggantikan posisi nya."


Bianca yang mengetahui sikap asli Mama nya dia pun merasa sangat menghawatirkan sekali jika Mama nya bersikap kasar dengan Suster Zivanna.


" Suster Zivanna jangan takut yaa, Tante Lollyta pasti akan membantu Suster Zivanna. Suster Zivanna jangan jauh-jauh dengan Tante Lollyta yaa, aku sangat sayang sekali Suster Zivanna aku tidak mau Suster Zivanna sampai sakit."


Zivanna mencium kening Bianca.


" Terimakasih banyak sayang, Suster Zivanna pasti akan menjaga diri yaa. Suster Zivanna juga sayaaaaang Bianca, kita berdua yang saling menyayangi."


Mereka berdua pun akhirnya sampai di rumah.


" Kita berdua sudah makan, saat nya untuk tidur siang."


Bianca berlari menuju ke kamar nya, dia begitu sangat merasa sangat lelah sekali.


Zivanna meminta Bianca untuk menganti baju seragam nya, dan setelah itu dia membiarkan Bianca untuk tidur siang.


Zivanna memandangi wajah nya di cermin.


" Apakah aku sudah pantas menjadi seorang ibu,? apakah aku bisa mengontrol emosi ku ini?. Ketika nanti sudah resmi menjadi seorang ibu, aku merasa sangat binggung sekali terkadang aku juga merasa takut jika sikap yang tiba-tiba saja berubah seperti ibu tiri."


Zivanna merasa sangat lelah juga dia memilih untuk tidur siang di sofa.


***

__ADS_1


Dokter melihat kondisi Maudy yang sudah membaik, tapi Maudy yang lebih memilih untuk diam dan tidak banyak bicara.


Dokter pun menyarankan untuk Maudy di dampingi oleh seorang Suster, karena dia harus minum obat.


" Saya tidak bisa mendampingi istri nya selama 24 jam, saya harus berkerja. Saya ikuti saran Dokter untuk Maudy di dampingi oleh seorang Suster."


Sebastian memilih untuk pulang ke rumah nya tidak ke Apartemen nya, Maudy masih terlihat diam ketika dia masuk ke dalam mobil bersama dengan Suster.


Sebastian tidak menyangka jika merasa takut kehilangan Bianca dan takut di laporkan ke pihak kepolisian membuat Maudy menjadi despresi seperti ini.


" Cepat jalankan mobil nya, aku ingin secepatnya sampai di rumah."


Suara bergetar Maudy dan wajah datar nya membuat Maudy lebih terlihat sangat menakutkan sekali.


Sebastian pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh Maudy walaupun dia memperhatikan wajah istrinya yang kelihatan sangat serem sekali.


Di perjalanan Maudy pun selalu saja mengingat wajah Zivanna dan Lollyta. Maudy seperti menyimpan perasaan dendam terhadap mereka berdua.


" Haruskah aku menghabisi nyawa mereka berdua, ketika aku merasa aku yang seperti sedang di permainkan oleh mereka. Kehilangan Bianca membuat ku sangat ketakutan sekali, dan ketika kalian yang berencana ingin melaporkan ku ke pihak kepolisian membuat aku menjadi despresi seperti ini."


Ucap Maudy di dalam hati nya, dia begitu sangat benci sekali dengan orang-orang yang mempermainkan nya.


Sesampainya di rumah Maudy langsung membuka pintu mobil sendiri, dia berjalan cepat menuju ke kamar nya.


Sebastian langsung berlari menyusul Maudy dia hawatir Maudy melakukan sesuatu yang bisa melukai dirinya.


Maudy masuk ke dalam kamar nya, dia mengunci pintu kamar nya.


Sebastian begitu sangat hawatir sekali ketika Maudy sampai mengunci pintu kamar nya.


" Maudy aku mohon buka pintu kamar nya, jangan kamu kunci seperti ini aku merasa sangat ketakutan sekali."


Sebastian dan Suster pun merasa sangat panik sekali.


Maudy menyalakan musik sangat kencang sekali di kamar nya, dan terdengar sangat jelas suara Maudy yang sedang tertawa lepas di dalam.


" Pak Sebastian seperti nya Ibu Maudy mau meluapkan semua perasaan hati nya dengan mendengar musik yang sangat keras, tapi jika Bapak Sebastian merasa sangat hawatir lebih baik kita dobrak saja pintu ini. Atau hanya membiarkan Bu Maudy seperti ini."


Sebastian merasa sangat kebingungan sekali apa yang harus dia lakukan, dia benar-benar merasa sangat menghawatirkan Maudy.

__ADS_1


" Saya takut Maudy berbuat sesuatu di dalam sana, saya takut Maudy menyakiti diri nya sendiri."


Sebastian pun memilih untuk mendobrak pintu kamar tersebut.


__ADS_2