
Suasana pagi di rumah Samuel Mahendra, Zivanna sudah sangat sehat sekali dia pun memilih untuk mengantarkan Bianca ke sekolah nya.
" Zivanna apakah kamu sudah baik-baik saja,? aku tidak mau kamu sakit kembali. Jangan memaksakan hanya karena Bianca, Bianca bisa diantar oleh Mama."
Sesilia pun datang dia melihat Zivanna dan merasa tidak mungkin Zivanna sampai melakukan hal tersebut m
" Benar sekali Zivanna, lebih baik kamu istirahat saja dulu yaa jangan memaksakan."
Zivanna pun merasa bingung dia harus bagaimana karena memang merasa sangat sehat sekali.
" Omah dan Papa, Suster Zivanna sudah sehat aku bisa merasakan nya."
Zivanna pun tersenyum manis kepada Samuel dan Sesilia.
" Baiklah sayang, semoga Suster Zivanna melakukan ini semua bukan karena kamu yaa. Dia memang benar-benar sudah sehat yaa, jangan membuat Suster Zivanna terlalu capek."
Bianca selesai menghabiskan sarapan pagi nya dan mereka berdua pun bersalaman dan berpamitan untuk pergi ke sekolah.
Setelah melihat mereka berdua pergi, Sesilia pun mengatakan sesuatu kepada Samuel.
" Kamera Mama bertemu dengan Maudy, dia yang diam di depan gerbang kita. Maudy seperti nya sedang mencari celah untuk bisa mendapatkan Bianca kembali, kita harus semakin hati-hati yaa."
Sesilia pun langsung pergi sedangkan Samuel memikirkan hal tersebut.
" Sekarang Maudy sudah berani untuk datang ke rumah ini walaupun hanya sampai gerbang saja, Maudy melakukan itu semua karena demi ingin bertemu dengan Bianca."
Samuel merasa jika Maudy akan berubah menjadi lebih baik lagi.
Bianca dan Zivanna berada di dalam mobil nya dan Bianca pun terus saja memperhatikan Zivanna.
" Suster Zivanna, baik-baik saja kan."
Bianca memastikan kondisi Suster Zivanna.
" Baik-baik saja sayaang, Suster Zivanna sangat sehat sekali hari ini."
Mereka berdua pun sampai di sekolah dan ketika akan turun dari mobil, Bianca melihat Mama nya yang sedang menunggu di gerbang.
Bianca mengumpat di belakang Suster Zivanna.
__ADS_1
" Kenapa sayang, kamu kok ketakutan seperti ini sih?."
Zivanna mencoba untuk mencari penyebab nya dan ternyata ada Maudy di depan gerbang.
" Mau apalagi sih dia selalu saja membuat kesal dengan kemunculan nya, dan membuat aku malas untuk melawan nya."
Zivanna memegang erat tangan Bianca tapi Maudy dengan sangat kasar di menarik tangan Bianca.
" Ahhhh sakit sekali."
Melihat Bianca yang merasa kesakitan Zivanna pun langsung berbuat kasar kepada Maudy sehingga dia melepaskan genggaman tangan nya kepada Bianca.
" Bianca sayang, ayo masuk ke dalam kelas."
Bianca mengikuti apa yang di katakan oleh Zivanna.
" Bagus sekali ya kamu, melarang seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak nya."
Zivanna pun langsung tersenyum tipis kepada Maudy.
" Seorang ibu,? apakah baru menyadari menjadi seorang ibu di saat anak nya sudah tumbuh besar. Lalu apa kabar nya ibu di saat Bianca masih kecil,? pergi bersama dengan lelaki yang lebih kaya raya dari suaminya."
" Kamu itu yaa, semakin tidak di jaga di saat mengobrol dengan orang yang lebih tua. Kamu itu sebenarnya pernah sekolah nggak sih,? apakah di saat kamu remaja kamu sibuk dengan para Sugar Daddy mu."
Zivanna masih bisa diam di saat Maudy berbicara seperti itu kepada dirinya.
" Dan apakah kamu sudah memberitahu kepada Ibu Lollyta, jika aku ini adalah wanita simpanan suaminya."
Maudy tertawa ketika mendengar perkataan Zivanna.
" Tidak hanya Ibu Lollyta yang mengetahui nya tapi Mama Sesilia pun mengetahui nya, dan aku melihat ekpresi wajah Mama Sesilia dia seperti tidak percaya tapi kembali lagi itu semua kenyataan."
Zivanna seketika dia pun langsung terdiam dan Maudy pun segera pergi meninggalkan Zivanna.
" Jahat sekali Maudy, Kenap dia sampaikan harus memberitahu Ibu Sesilia. Jika seperti ini apakah aku harus menyudahi drama ini."
Zivanna kelihatan sangat kebingungan sekali dan Maudy pun melihat Zivanna yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Dia pasti sekarang sedang memikirkan tentang bagaimana mungkin Mama Sesilia mengetahui nya, dan sebentar lagi Zivanna akan keluar dari rumah tersebut."
__ADS_1
Maudy kelihatan sangat bahagia sekali.
" Sekarang waktunya untuk menjadi seorang CEO, dia saat Lollyta yang tidak berdaya di atas kasur. Aku berharap besar, Lollyta sudah tidak kuat lagi untuk pergi ke kantor nya dan menyerahkan kantor tersebut untuk aku yang menjadi CEO nya."
Di perjalanan menuju ke kantor, Maudy seperti banyak bercerita sampai akhirnya Maudy pun sampai di kantor.
Di pun mulai banyak mengatur para pegawai yang ada di luar.
Tanpa sepengetahuan Maudy, Lollyta yang sudah kembali bekerja.
* Tolong bawakan aku kopi panas, dan buatlah seperti sedang tidak sengaja berjalan. Tumpahkan Coffe panas tersebut di tangan Maudy, aku yang akan bertanggung jawab*
* Baiklah Bu saya akan melindungi nya*
Lollyta memasukkan handphone nya ke dalam saku celana dia masih berada di dalam ruangan nya, Lollyta melihat Maudy yang sedang mengatur-atur pegawai nya.
" Apa maksud dengan sikap nya yang seperti itu yaa, apakah dia ingin mengambil alih pekerjaan ku ini. Agar bisa menjadi pemilik Lollyta Skincare Beauty, tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi karena masih ada Zivanna Lollyta Lenoel yang akan mengantikan posisi ku ini."
Lollyta melihat pegawai suruhan nya yang sedang membawa kopi panas seperti suruhan nya.
" Apakah dia akan melakukan nya dengan sempurna kita lihat saja, agar Maudy merasakan betapa panasnya jika kulit kita terkena air panas.'
Lollyta terus saja memperhatikan nya dan ternyata dia melakukan dengan sempurna.
Maudy pun langsung berteriak kencang.
" Ahhhhhh panas sekali."
Maudy begitu sangat emosional sekali dia pun langsung marah-marah kepada pegawai tersebut.
" Kamu pegawai baru ya di sini,? kamu pikir nggak panas ketika kopi itu terkena tangan ku. Mulai besok kamu tidak boleh bekerja lagi di sini, aku pecat kamu."
Lollyta pun langsung keluar dari ruangan nya ketika Maudy berani pemberhentian pegawai nya.
" Siapa kamu yang berani mengatakan hal seperti itu kepada pegawai saya, kamu jika hanya aku kontrak 1 tahun saja berani sekali kamu memecat pegawai saya. Merasa jadi Ratu di saat saya berada di Rumah Sakit, merasa senang ketika saya berada di Rumah Sakit dan berharap tidak akan pernah kembali di kantor ini."
Maudy menundukkan kepalanya dia merasa sangat malu sekali dengan sikap nya tadi, Maudy yang tidak mengetahui jika Lollyta sudah masuk bekerja.
" Saya mempunyai anak tunggal perempuan, jika sampai aku yang tidak bisa lagi berada dengan kalian. Saya sudah menyerahkan kantor ini dengan Putri saya."
__ADS_1
Lollyta melihat Maudy yang masih saja menundukkan kepalanya.