
Felix akhirnya sampai di rumah nya, dia mendengar tangisan anak lelakinya.
Suster Emily mencoba untuk menenangkan nya, tapi ternyata Christian masih saja menangis.
Felix merasa tidak tega melihatnya, Felix langsung menghampiri Suster Emily.
" Berikan kepada saya."
Suster Emily langsung memberikan kepada Felix.
Felix menatap wajah anak lelaki nya tersebut dengan tatapan yang sangat dalam, perlahan bayi lelaki tersebut terdiam dan bahkan tidur di pelukan Felix.
Suster Emily membukakan pintu kamar, Felix melihat kamar yang sudah di dekorasi.
Dengan perlahan Felix membaringkan bayi lelakinya itu.
" Terimakasih banyak, saya sudah sangat binggung sekali Christian tidak juga berhenti menangis."
Felix memperhatikan wajah Suster Emily.
" Aku baru melihat seorang Suster seksi seperti mu, kamu masuk dalam tipe ideal wanita ku."
Suster Emily menundukan kepalanya, karena walaupun dia mengetahui tentang Felix tapi wajah Felix yang tampa tidak bisa membohongi perasaaan nya.
Felix terus memandangi Suster Emily sampai Suster Emily salah tingkah.
__ADS_1
" Pak Felix, saya mohon jangan menatap saya seperti itu yaa."
Felix tersenyum manis sambil memainkan rambut panjang Suster Emily.
" Aku gagal mendapatkan Zivanna, seperti nya aku memang lebih menyukai wanita yang berprofesi sebagai seorang perawat."
Felix pergi dari kamar tersebut dan membuat Suster Emily sampai menghelakan nafas panjang nya.
" Aku sangat deg-degan sekali, ketika dia menatap wajah ku."
Suster Emily menutup rapat pintu kamar nya, dia kembali fokus pada bayi yang sedang tidur pulas.
***
Bianca sudah tidak merasa lemas lagi dia sudah bisa makan malam, Zivanna merasa jika Bianca sekarang kembali seperti dulu.
" Lebih baik aku makan di saat mereka sudah selesai makan, aku tidak mau mendengar perkataan Bianca."
Zivanna fokus pada Zivilia walaupun sebenarnya dia sangat lapar sekali.
Samuel yang baru saja pulang dia tidak melihat keberadaan Zivanna.
Suster Vina menundukan kepalanya dan tangan kiri Bianca memegang baju Suster Vina.
" Fokus saja makan Bianca, lepaskan genggaman tangan mu itu. Suster Vina tidak akan pernah pergi, kamu tidak usah ketakutan seperti itu."
__ADS_1
Sesilia sudah tidak bisa berkata lagi jika Maudy tidak despresi, Sesilia mengijinkan Bianca tinggal bersama dengan Mama nya.
Samuel mengambil piring, dia membawa makanan yang sangat banyak sekali.
" Papa makan banyak sekali."
Bianca terkejut dia tidak pernah melihat Papa nya makan dalam porsi banyak.
" Ini untuk Papa dan Mommy Zivanna, dia pasti sangat lapar sekali."
Samuel membawa makanan tersebut ke dalam kamar nya.
" Bianca, di saat kamu melarang Suster Vina untuk berada di samping Mommy mu. Ingat ada Papa mu yang selalu ada bersama dengan Mommy mu, ingat yaa Bianca jangan pernah mempunyai pikiran. Papa mu akan kembali dengan Mama mu, kelak nanti jika kamu sudah dewasa kamu akan mengetahui bagaimana sikap Mama mu."
Sesilia tidak menghabiskan makanan nya, dia memilih untuk pergi ke kamar Zivanna.
Sesilia mengetuk kamar Zivanna sambil membawa minuman untuk mereka berdua.
" Masuk saja tidak di kunci."
Teriak Zivanna dan Sesilia pun membuka pintu kamar, Sesilia melihat Zivanna yang sedang duduk menggendong Zivilia sambil di suapi oleh Samuel.
Sesilia menyimpan minuman yang dia bawa, dia pun langsung membawa Zivilia keluar kamar.
Membiarkan Zivanna bisa makan dengan tenang.
__ADS_1