
Lollyta akhirnya sampai di depan rumah Zivanna, dia begitu sangat merindukan cucu pertama nya.
Lollyta di sambut baik oleh Sesilia, mereka berdua berpelukan.
" Terimakasih banyak sudah sabar dan mau menerima kehadiran Zivanna dan Zivilia, sangat baik sekali bisa mengganggap Zivanna seperti anak sendiri."
Sesilia merasa malu setelah di puji oleh Lollyta, mereka berdua pun masuk ke dalam dan Suster Vina membawa Zivilia.
" Wah, cantik nya cucu omah sayang."
Lollyta begitu sangat senang sekali dia merasa rindu nya telah terobati.
Lollyta mengendong Zivilia dia memperhatikan tidak ada Bianca di rumah.
" Bianca kemana yaa, apakah dia sibuk di dalam kamar nya?."
Lollyta bertanya kepada Suster Vina.
" Bianca ingin menginap di rumah Nenek nya, karena ternyata Ibu Maudy di bawa ke rumah tidak lagi di rumah sakit jiwa."
Lollyta pun langsung mengingat Felix, tapi dia tidak akan membahas tentang Felix.
" Oh begitu yaa, semoga saja Maudy bisa kembali sehat ketika Bianca berada di sisi nya."
Ketika Lollyta sedang berada di rumah Samuel membicarakan tentang Maudy.
Di tempat yang lain, Maudy menerima kabar jika Felix sudah ada di gudang tempat penyekapan nya, Maudy tersenyum tipis dia merasa akhirnya bisa mendapatkan Felix.
Maudy mencoba untuk menghubungi orang suruhan nya.
* Aku akan datang untuk bertemu dengan nya malam ini, tapi untuk menghabisi nyawa nya aku harus mencari hari yang tepat*
* Baiklah, seperti nya tugas kita sudah selesai*
* Ya, terimakasih banyak aku akan mengirimkan uang nya*
* Terimakasih banyak Ibu Maudy, senang bekerja sama dengan anda*
Bianca lagi-lagi mendengar pembicaraan Mama nya.
" Astaga, siapa yang akan Mama bunuh yaa."
__ADS_1
Bianca langsung pergi dari depan pintu kamar Mama nya, dia begitu sangat ketakutan sekali.
Maudy keluar dari kamar nya, dia memakai kacamata hitam dan juga masker.
" Mama mau pergi ke mana yaa, kenapa aku jadi sangat takut sekali."
Bianca masuk ke kamar nya kembali, ke kamar nya dia langsung berlari menuju ke tempat tidur nya.
" Aku tidak menyangka Mama ternyata seperti itu, dia sangat menakutkan sekali."
Bianca memeluk erat guling dan tiba-tiba saja handphone nya berdering.
Ternyata panggilan telephone masuk dari Papa nya.
* Hallo Bianca bagaimana kabar mu*
* Aku baik-baik saja Papa*
* Bianca kenapa suara mu bergetar seperti itu, kamu seperti sedang ketakutan*
* Tidak Papa, aku baik-baik saja kok*
* Bagaimana dengan Mama mu, apakah dia masih suka berteriak kencang*
* Baiklah Bianca*
Bianca mengakhiri panggilan telephone nya.
Samuel merasa ada yang aneh dengan Bianca.
" Kenapa,? Bianca merasa nyaman bersama dengan Mama nya?."
Zivanna mendekati suaminya yang kelihatan seperti orang yang binggung.
" Aku mendengar suara Bianca yang bergetar, dia seperti sedang ketakutan sekali."
Samuel menghawatirkan Bianca.
" Mungkin Maudy yang membuat Bianca ketakutan, karena Maudy dia sering berteriak kencang kan."
Zivanna mencoba untuk menenangkan perasaan dan pikiran suaminya.
__ADS_1
" Sudahlah sekarang lebih baik kita tidur saja yaa, selalu berpikir positif karena Bianca sudah sangat senang bisa tinggal bersama dengan Mama nya."
Samuel tersenyum tipis kepada Zivanna dan mereka berdua mulai beristirahat.
Bianca dia tidak bisa tidur dia selalu saja mengingat perkataan Mama nya.
" Siapa yaa yang akan Mama bunuh, kenapa aku sangat takut sekali."
Bianca semakin bergetar dia tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak.
Maudy begitu sangat bersemangat sekali, di sepanjang perjalanan dis terus saja tertawa dan tersenyum akhirnya apa yang dia inginkan bisa dia dapatkan.
" Felix, terimakasih kamu telah menghancurkan semua nya. Sekarang mungkin kamu harus bertanggung jawab atas semua yang sudah kamu lakukan, kamu harus mati karena hanya itu yang bisa membuat ku merasa puas."
Maudy akhirnya sampai di gudang yang sudah di siapkan, dia berjalan perlahan menuju ke gudang tersebut.
Gudang yang masih di jaga oleh orang-orang bayaran nya.
" Tetap berada di sini ya, jangan sampai di kabur karena aku ingin menghabisi nyawa besok bukan sekarang."
Maudy masuk ke dalam gudang tersebut, dia melihat Felix yang sedang duduk dan di ikat oleh tali tangan dan kaki nya.
Mata nya di tutup kain, dan mulut juga yang di tutup.
Felix kelihatan tidak mau diam, dia seperti berusaha untuk bisa bebas.
Maudy membuka kacamata hitam nya, dia hanya bisa tersenyum manis.
Maudy tidak bersuara, dia menghampiri Felix dan membelai nya dengan sangat lembut sekali.
Sentuhan tangan lembut Maudy seakan ingin mengingatkan Felix tentang apa yang sudah terjadi dengan mereka berdua di malam itu.
Maudy menghindari Felix karena apa yang sudah di lakukan membuat Felix tidak bisa mengendalikan dirinya.
Merasa sudah puas melihat Felix, Maudy memilih untuk pergi dia menutup rapat kembali pintu gudang.
Maudy mengeluarkan uang dia membagikan uang tersebut.
" Jaga mulut kalian semuanya, jangan sampai ada yang membicarakan ini di depan umum."
Setelah memberikan uang, Maudy memilih untuk langsung pergi ke dalam mobil nya.
__ADS_1
" Aku bisa tidur dengan sangat nyenyak sekali, akhirnya Felix sudah ada di tangan ku. Selanjutnya Irene, dia pun harus mengikuti apa yang di rasakan oleh Felix."
Maudy tertawa dan dia pun menyalakan mesin mobil nya, Maudy harus merencanakan kembali apa yang harus dia lakukan besok.