
Zivanna mengelus perut nya, dia mulai memikirkan perkataan nya kepada suaminya tadi.
" Apakah perkataan ku ini kelewatan yaa, apa aku harus meminta maaf kepada suamiku."
Zivanna kelihatan melamun dia langsung di hampiri oleh Ibunya.
" Kamu kenapa Zivanna,? Kamu merindukan suami mu yaa. Pulang lah, temui suami mu di rumah nya."
Zivanna terdiam dia memikirkan Bianca.
" Abaikan saja Bianca, jangan kamu mencoba untuk mendekati dia. Ingat Samuel adalah suami mu dia masih suami mu, Samuel pasti sangat merindukan kamu apalagi anak yang ada di dalam kandungan mu ini."
Zivanna berpikir sejenak dia masih merasa malas hanya karena Bianca.
" Pergilah di saat jam pulang kantor, Samuel pasti sangat senang sekali ketika melihat istrinya kembali datang ke rumah."
Lollyta ingin menyatukan kembali Zivanna dan Samuel, dia tidak mau mereka berdua sampai berpisah.
" Baiklah, nanti sore aku akan pulang tapi aku tidak janji akan tinggal lama di sana karena aku juga harus menjaga mental ku."
Lollyta merasa sangat senang sekali mereka berdua bekerja kembali.
Di saat Zivanna berencana untuk pulang kembali bertemu dengan Samuel di saat jam pulang kerja.
Samuel merasa jika dirinya tidak bersemangat dalam bekerja, Samuel memilih untuk pulang dan meminta Mama nya untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
Sesilia hanya bisa terdiam saja karena dia mengetahui Samuel yang sangat merindukan Zivanna.
" Samping kapan akan seperti ini, aku merasa kasihan dengan Samuel tapi lebih kasihan juga kepada Zivanna."
Sesilia menyalakan Bianca, dia yang membuat semuanya menjadi berubah.
Samuel yang berniat untuk langsung pulang, dia teringat dengan Sebastian.
" Lebih baik aku bertemu dengan Sebastian saja, mengobrol dengan nya itu pasti sangat menyenangkan sekali."
Samuel menyalakan mesin mobil nya, dia menuju ke kantor Sebastian.
Masalah rumah tangga yang berbeda tapi mereka berdua merasa nyaman untuk bercerita tentang masalah kehidupan rumah tangga masing-masing.
Menempuh perjalanan beberapa jam, Samuel akhirnya sampai di kantor Sebastian.
Samuel langsung berjalan menuju ke ruangan Sebastian, kedatangan Samuel membuat Sebastian merasa sangat bahagia sekali.
" Senang sekali aku memang sedang ingin banyak cerita kepada mu."
__ADS_1
Samuel masuk dan duduk di sofa, Sebastian membuatkan kopi untuk mereka berdua.
" Kita berdua akan menjadi seorang Ayah, tapi kamu menjadi Ayah untuk anak pertama mu."
Sebastian tertawa mendengar perkataan Samuel.
" Aku tidak yakin jika itu adalah anak ku, aku merasa itu adalah anak Felix Felio."
Samuel seketika merasa sangat terkejut mendengar perkataan Sebastian.
" Apakah maksud mu Felix yang pernah ingin bersama dengan Zivanna,? Jadi Maudy tidur bersama dengan lelaki yang umur nya jauh lebih muda dari nya?."
Sebastian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Samuel seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
" Sebelum aku menikah dengan Zivanna, aku memang mengetahui jika Felix yang sering berganti pasangan tapi aku melihat wanita yang masih muda seumuran dengan nya bahkan di bawah umur nya."
Sebastian akhirnya mengetahui jika Felix adalah seorang lelaki yang tidak baik.
" Aku memang sangat menginginkan Maudy hamil, tapi setelah aku mencari tahu semuanya. Rasa bahagia ku hilang bahkan aku bersikap dingin di hadapan Maudy, aku tidak berani mengatakan semuanya di hadapan Maudy karena aku tahu Maudy wanita yang nekad. Aku tidak mau Maudy sampai melakukan sesuatu pada kehamilan nya, jika aku menceritakan apa yang aku tahu."
Samuel merasa salut dengan Sebastian yang masih mempunyai perasaan.
Samuel ternyata sudah mempunyai rencana untuk kedepannya.
" Lakukan saja yang terbaik, aku akan selalu mendukung mu."
Di saat Sebastian dan Samuel asik mengobrol.
Di tempat yang lain Zivanna memberanikan diri untuk pulang ke rumah suaminya.
" Bu, jika aku merasa tidak nyaman aku langsung pulang kembali yaa Buu."
Zivanna sudah mempunyai perasaan yang tidak nyaman.
" Pulang besok nya saja, kasihan suami mu dia pasti sangat merindukan mu."
Zivanna bersalaman dengan Ibu nya dia pun langsung masuk ke dalam mobil nya.
" Hati-hati ya sayang."
Teriak Lollyta kepada Zivanna yang mobil nya sudah pergi.
" Sekarang waktunya aku untuk pulang juga, aku harus membereskan tempat kerja ku."
__ADS_1
Lollyta kembali masuk ke dalam ruangan, dia membereskan tempat kerja tapi seketika Lollyta mengingat Irene.
" Kenapa aku jadi teringat dengan Irene yaa, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Irene."
Lollyta sekarang seperti mempunyai anak perempuan dua, dia merasa sangat kasihan sekali melihat Irene yang harus tinggal sendirian dalam kondisi hamil.
" Kenapa orang tua Irene tidak mau mencari tahu tentang anak nya, aku sebagai orang tua mungkin akan marah dengan Irene tapi tidak akan juga membicarakan Irene untuk pergi dari rumah."
Lollyta berencana untuk membiayai proses persalinan Irene.
" Aku akan bicara ini dengan Ayah, dia pasti memiliki pikiran yang sama dengan ku."
Setelah membereskan meja kerja nya, Lollyta pun langsung keluar dari ruangan nya pulang ke rumah nya.
Di perjalanan menuju ke rumah, Lollyta terus saja memikirkan Irene.
" Aku mempunyai indentitas lengkap Irene, kenapa aku jadi ingin pergi ke rumah nya yaa."
Lollyta terus saja berpikir hingga akhirnya dia pun memilih untuk pergi ke rumah Irene.
Walaupun rumah Irene yang lumayan jauh tapi Lollyta tetap ingin pergi ke rumah nya, setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya Lollyta sampai.
Lollyta melihat mobil Felix yang baru saja pergi.
" Untuk apa Felix berada di rumah Irene, astaga apa yang sudah di lakukan oleh Felix kepada Irene."
Lollyta dengan cepat dia turun dari mobil nya dan menghampiri gerbang pintu rumah Irene.
Kedatangan Lollyta di tolak oleh satpam dia mengikuti apa yang di katakan oleh Irene, tidak mau menerima kehadiran tamu di rumah nya.
Lollyta sudah menjelaskan semuanya tapi tetap saja Lollyta tidak boleh masuk ke dalam rumah Irene.
Lollyta pun akhirnya memilih untuk pergi saja, dia tidak mau ribut dengan satpam dan membuat orang-orang memperhatikan nya.
Di saat Lollyta kembali masuk ke dalam mobil, dan memilih untuk pulang.
Di tempat yang lain Zivanna sudah sampai di depan rumah suaminya, Zivanna masih berada di dalam mobil nya.
Zivanna merasa ragu untuk turun dari mobil nya.
" Keberanian ku mendadak lemah, aku tidak berani turun dari mobil ku. Apakah lebih baik aku pulang saja yaa, tidak usah masuk ke dalam rumah ini."
Zivanna terus saja terdiam sambil memandangi pintu masuk yang terbuka lebar.
Zivanna memperhatikan apakah suaminya sudah pulang atau belum.
__ADS_1