
Maudy berencana ingin bisa bertemu dengan Bianca kembali, dia merasa jika dia itu adalah ibu kandung nya dan Bianca harus bisa mendapatkan kasih sayang nya.
Maudy mencoba untuk pergi ke sekolah Bianca tapi dia tidak melihat Zivanna yang biasanya duduk di dekat gerbang.
" Kenapa Zivanna tidak ada di sana, jangan-jangan Bianca pindah dari sekolah nya."
Maudy keluar dari mobil nya dia menanyakan langsung kepada satpam yang menjaga gerbang.
" Maaf Pak, saya adalah Mama nya Bianca. Apakah hari ini Bianca masuk sekolah?."
Wajah Maudy kelihatan sangat panik sekali ketika bertanya tentang Bianca.
" Bianca tidak masuk sekolah Bu, soalnya dia tidak mau jauh dari Suster nya. Karena kemarin ada seseorang yang menyiram kopi panas hampir ke wajah Suster Zivanna, sehingga Bianca merasa trauma jika takut Suster Zivanna ada yang berbuat jahat lagi kepada nya."
Hati Maudy terasa sangat sakit sekali ketika mendengar perkataan tersebut, Bianca yang begitu sangat sayang kepada Zivanna.
" Terimakasih banyak atas informasinya."
Maudy merasa sangat emosional sekali dia tidak menerima perkataan tersebut.
" Ahhhh, Zivanna harus kah aku melenyapkan nyawa mu ?. Aku merasa anak semakin sayang dengan mu, dan menjauhi ku."
__ADS_1
Maudy pun masuk ke dalam mobil nya, dia berpikir bagaimana cara nya agar Zivanna bisa keluar dari rumah tersebut dan tidak bekerja menjadi Suster untuk Bianca.
Maudy pun memberanikan diri untuk pergi ke rumah Samuel, walaupun hanya di depan gerbang nya nya.
Maudy melihat kembali rumah kenangan nya itu.
" Semoga saja aku bisa bertemu dengan Samuel, dan Samuel melihat ku."
Rencana Maudy begitu sangat banyak sekali, dia ingin membunuh Zivanna jika semuanya rencana tidak bisa tercapai.
" Aku ingin Zivanna keluar dari rumah itu dan Bianca mau menerima kehadiran ku sebagai Mama nya, dan setelah itu aku ingin bersama kembali dengan Samuel melanjutkan perjalanan rumah tangga kita yang dulu. Tapi jika semua nya tidak bisa aku dapatkan, maka Zivanna dia yang akan menjadi korban nya."
Maudy akhirnya sampai di depan rumah Samuel, dia melihat Zivanna yang duduk dan Bianca di samping nya.
Maudy sampai membuka kaca jendela kamar nya dan dia juga melihat Samuel juga keluar dari rumah nya.
" Samuel pun tidak bekerja, Astaga apa-apa an ini. Dia seperti di Ratu kan oleh keluarga Samuel, dia hanya di siram oleh kopi panas saja."
Maudy begitu sangat kesal sekali tapi dia juga merasa sangat penasaran sekali dia melihat terus mereka bertiga.
Samuel duduk di samping Zivanna sehingga Zivanna berada di tengah-tengah antara Samuel dan Bianca.
__ADS_1
" Besok kita jadi yaa pergi ke klinik kecantikan, aku ingin bertanggung jawab atas kejadian kemarin."
Bianca memperhatikan wajah Suster Zivanna yang seperti tidak merespon perkataan dari Samuel.
" Suster Zivanna, sudah yaa. Besok pokoknya harus pergi sama Papa ya. Kasihan Suster Zivanna wajah nya supaya cantik kembali, supaya tidak ada merah-merah seperti ini."
Bianca memegang wajah Suster Zivanna.
" Baiklah besok kita pergi ke klinik kecantikan."
Bianca pun langsung berdiri dari tempat duduk nya dan merangkul mereka berdua.
Maudy seketika semakin merasa sangat emosional sekali.
" Tidak, ini sudah keterlaluan sekali. Mereka berdua sudah sangat dekat sekali, aku tidak suka melihat pemandangan ini."
Maudy pun menyalakan mesin mobil dia memilih untuk langsung pergi dari rumah tersebut.
Di sepanjang perjalanan pikiran Maudy negatif terhadap mereka berdua.
Bahkan Maudy berpikir jika hubungan mereka sudah di luar batas normal.
__ADS_1
" Aku curiga jika mereka berdua sudah tidak bersama."
Memikirkan hal tersebut membuat Maudy semakin merasa sangat kesal sekali.