
Mendengar kedatangan Samuel, Larissa pun langsung keluar dari rumah nya.
Samuel bersalaman dengan Larissa, dan Larissa pun menyuruh Samuel untuk masuk ke dalam rumah nya.
Pandangan mata Samuel tertuju pada kamar Maudy, dia yang sebelumnya pernah tinggal bersama di sini.
" Samuel, Tante meminta maaf sebelumnya. Tante pergi untuk membawa anak lelaki Maudy, tapi ketika Tante pulang Bianca tidak ada di rumah."
Larissa menangis di hadapan Samuel.
" Ketika Tante Larissa pergi, Bianca di rumah dengan siapa?."
Samuel mendengar teriakkan dari kamar Maudy.
" Bianca di rumah bersama dengan Maudy, karena Tante merasa Maudy aman bersama dengan Bianca."
Maudy kembali berteriak kencang dia ingin Samuel datang ke kamar nya.
" Mungkin kah Maudy menyakiti Bianca,? Sehingga Bianca memilih kabur dari rumah?."
Larissa pun langsung terdiam mendengar perkataan Samuel.
" Yasudah saya pergi dulu yaa, jika dalam waktu 24 jam saya tidak menemukan Bianca. Saya akan melaporkan kehilangan Bianca ke pihak kepolisian, saya pergi dulu."
Larissa menahan Samuel untuk pergi.
" Samuel, apakah kamu tidak mau melihat kondisi Maudy sekarang?. Karena bagaimana pun juga Maudy itu yang melahirkan Bianca, walaupun sekarang kalian berdua hanya sebatas mantan suami istri."
Samuel sebenarnya dia merasa sangat malas sekali untuk bisa bertemu dengan Maudy, karena Samuel mengetahui Maudy sebenarnya baik-baik saja.
Tapi dia merasa penasaran dan akhirnya dia pun mau melihat drama Maudy.
" Baiklah saya ingin melihat Maudy."
Larissa merasa sangat senang sekali dia pun langsung mengantarkan Samuel ke dalam kamar Maudy.
__ADS_1
Larrisa mengetuk pintu terlebih dahulu agar Maudy bisa menyiapkan akting nya di hadapan Samuel.
Larissa membuka pintu kamar dan Maudy yang sudah mengantikan pakaian nya, dia begitu sangat profesional dalam berakting.
Rambut yang acak-acakan dan juga memakai make up agar kelihatan pucat, Maudy melirikan mata nya kepada Samuel.
" Apakah rambut nya itu di gunting oleh dirinya sendiri,? Jika iya sangat rapih sekali potongan rambut nya."
Maudy sampai memejamkan mata nya, kenapa Samuel harus membahas tentang rambut baru nya.
" Jangan terlalu banyak berteriak-teriak, ingat kamu pasti akan menikah kembali. Jangan sampai wajah kelihatan jauh lebih tua dari umur mu yaa, sudahlah pasti sangat capek sekali dengan drama ini."
Samuel memperhatikan Maudy yang masih menempelkan photo kebersamaan mereka berdua.
Larissa melihat Samuel yang sedang melihat photo nya bersama dengan Maudy.
" Kalian berdua itu begitu sangat saling mencintai, kamu yang sangat sayang dengan Maudy."
Samuel tersenyum tipis ketika mendengar perkataan Larissa.
Samuel pun memilih untuk keluar dari kamar Maudy, dia tidak mau berlama-lama di sana.
Maudy merasa sangat kecewa sekali ketika melihat Samuel yang cuek kepada nya.
" Ahhhhhh, sialan."
Maudy begitu sangat emosional sekali dia sampai melemparkan handphone ke cermin yang ada di hadapannya.
Samuel mendengar suara benda yang di lemparkan tapi Samuel yang sudah mengetahui Maudy yang sedang berakting dia mengabaikan nya.
Samuel berjalan menuju pintu keluar, Larissa langsung menghampiri Maudy.
" Aku tidak bisa membohongi perasaanku, jika aku masih cinta Samuel. Aku ingin kembali bersama dengan Samuel, aku ingin menjadi istri Samuel."
Samuel berteriak histeris kembali, dia memeluk erat tubuh Mama nya.
__ADS_1
" Sudahlah Maudy, jangan menginginkan hal yang tidak mungkin terjadi. Sekarang kamu lebih baik fokus pada ke dua anak mu saja, kamu jangan berhayal terlalu tinggi."
Maudy kembali tidak bisa mengendalikan emosi nya, Samuel yang sudah berada di luar dia masih mendengar suara tangisan Maudy.
" Kenapa dia masih menangis, padahal aku sudah pergi dari rumah."
Samuel masuk ke dalam mobil nya, dia mencoba untuk mencari kebenaran Bianca.
" Jika Bianca kabur dari rumah, ada satpam yang pasti akan melarang nya untuk pergi. Ini sangat aneh sekali, Maudy seperti nya di bawa oleh seorang."
Samuel menjalankan mobilnya, dia mencari Bianca di sekitar rumah Larissa.
" Bianca, kamu sebenarnya pergi ke mana sih Nak."
Samuel merasa sangat pusing sekali dia berharap Bianca bisa segera ketemu.
" Bianca, kembali ke rumah Nak pulang jangan membuat Papa mu ini merasa hawatir."
Di saat para keluarga nya menghawatirkan kondisi Bianca, di tempat yang lain Bianca merasa sangat bahagia bersama dengan Ibu Melinda yang begitu sangat sayang kepada Bianca.
Bianca yang harus terbiasa dengan panggilan nama baru nya yaitu Belinda.
" Belinda sayang, ibu sangat sayang sekali dengan mu. Kamu harus berjanji yaa, kamu tidak akan pernah pergi meninggalkan ibu."
Bianca di peluk oleh Melinda, Bianca pun menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya dia seperti rindu dengan suasana rumah bersama dengan Suster Vina.
Melinda memberikan banyak mainan untuk Bianca.
Bianca di bawa ke kamar Belinda, tapi Bianca merasa sangat tidak nyaman berada di dalam kamar itu.
" Ibu Melinda jangan main di kamar yaa, aku merasa sangat takut sekali."
Bianca merasa tidak nyaman tapi Melinda tidak memperbolehkan Bianca untuk keluar dari kamar tersebut.
" Tidak sayang, jangan keluar kamar yaa. Kamu harus bermain di sini bersama dengan Mama, karena Mama sangat merindukan mu."
__ADS_1
Bianca di paksa untuk bisa bermain di dalam kamar tersebut.