I Love You CEO Tampan

I Love You CEO Tampan
Episode 382


__ADS_3

Irene sampai di rumah nya, dia langsung melihat wajah anak nya yang sedang tidur.


Irene memindah Feerell ke tempat tidur nya, dia ingin tidur bersama dengan Feerell.


" Sayang, beruntung lah kamu mempunyai Ibu yang bermental kuat. Mungkin jika ibu mu ini lemah akan seperti wanita yang lain, ibu selalu ingin bisa melihat kamu tumbuh dengan sehat."


Irene mencium pipi chubby anak nya, Irene juga memikirkan anak Maudy.


" Aku tidak yakin Maudy bisa mengurus anak dari hubungan nya dengan Felix, aku merasa Maudy tidak peduli dengan anak nya itu."


Irene merasa sangat sedih tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena itu beban kehidupan Maudy.


Ketika Irene hendak tidur dia melihat ada pesan masuk.


" Seperti nya ini nomber handphone Felix, astaga untuk apa dia mengirimkan pesan kepada ku."


Irene membaca pesan dari Felix.


* Selamat malam Irene, sebelum nya aku ingin meminta maaf kepada mu atas kesalahan yang sudah aku perbuat kepadamu. Aku dan keluarga ku berniat untuk datang, aku ingin bertanggung jawab atas semua nya. Aku ingin menikah dengan mu Irene, agar kita berdua bisa menjadi orang tua yang utuh untuk anak lelaki kita*


Irene tersenyum membaca pesan dari Felix.


" Aku mengerti maksud dari pesan mu ini Felix, kamu tidak mau menikah dengan Maudy kan. Tapi maafkan aku Felix, aku lebih baik sendirian dari pada harus menikah dengan mu."


Irene menyimpan handphone nya, dia tidak mau membalas pesan dari Felix.


Felix menunggu balasan pesan dari Irene.


" Kenapa lama sekali dia tidak membalas pesan ku ini, baiklah besok aku akan datang langsung ke rumah orang tua."


Felix harus bisa berani karena dia tidak mau sampai harus bertanggung jawab atas kelahiran anak Maudy.


Di saat Felix ingin lepas tanggung jawab, Sebastian begitu sangat setia menemani Maudy.


Dia masih ada di samping Maudy walaupun dia mengetahui Maudy yang sudah berhianat cinta kepada nya.


Sebastian mencoba untuk menenangkan Maudy, dia sampai memeluk tubuh Maudy dengan sangat erat sekali.


" Maudy kamu jangan seperti ini, kamu harus bangkit kamu harus kuat yaa. Ingat ke dua anak mu Bianca dan Christian dia masih membutuhkan mu."


Maudy meneteskan air mata nya, dia sampai tertidur pulas di pelukan Sebastian.

__ADS_1


* Keesokan harinya di rumah Samuel*


Zivanna sudah mulai bisa berjalan dan beraktifitas seperti biasanya, dia yang memang tidak betah untuk selalu tidur.


Zivanna mengendong Baby Zivilia, dia begitu sangat baik sekali.


" Selamat pagi cantik nya Mommy, sekarang mandi nya sama Mommy yaa."


Zivanna yang sudah terbiasa memandikan bayi dia kelihatan sangat berhati-hati sekali.


Samuel menghampiri Zivanna, dia berpamitan untuk pergi ke kantor.


" Cantik Papa, pergi dulu yaa kamu baik-baik ya di rumah."


Samuel merasa sangat berat sekali meninggalkan Zivilia.


" Kamu yang terlalu gemas sayang, Papa rasanya ingin selalu di rumah bersama dengan kamu."


Setelah mandi Zivanna pun memakai baju yang sangat lucu untuk Zivilia, dia membawa Zivilia ke luar kamar.


Zivanna memberikan Zivilia ke Suster Vina.


" Aku mau mandi dulu yaa, titip sebentar yaa."


" Suster Vina, aku bertemu dengan adik lelaki ku dia sangat tampan sekali. Kulit nya putih, hidung nya mancung dan mata sipit sekali."


Bianca memberikan photo asik lelaki nya.


Suster Vina melihat wajah adik lelaki Bianca yang sangat mirip dengan anak Irene.


" Wajahnya seperti siapa ya Bianca."


Bianca memandangi kembali photo adik lelaki nya.


" Tidak seperti Papa Sebastian, aku tidak tahu wajah nya seperti siapa yaa."


Bianca sudah menyelesaikan sarapan pagi nya, Zivanna pun mengambil Zivilia dari Suster Vina.


" Yasudah kalian berdua hati-hati yaa berangkat sekolah nya."


Bianca mulai berani bersalaman dengan Zivanna mereka berdua pun pergi ke sekolah.

__ADS_1


" Omah hari tidak masuk kerja, omah ingin bersama dengan Baby Zivilia. Biarkan Mommy nya bisa beristirahat di rumah yaa, sekarang Baby Zivilia bersama dengan Omah."


Sesilia mengambil Zivilia dari Zivanna.


" Maaf yaa Mama, aku sekarang mau sarapan pagi dulu ya."


Sarapan pagi untuk Zivanna di sediakan berbeda Suster Vina menyediakan berbagai macam jenis makanan yang sangat bergizi.


" Astaga banyak sekali yaa, jika seperti ini kapan aku langsing nya."


Zivanna menikmati sarapan pagi nya, dia sambil memainkan handphone nya.


Zivanna melihat Sebastian yang memasang photo anak lelaki nya.


" Eh, sebentar yaa ini anak Maudy yang baru lahir itu yaa. Wajah nya mirip sekali dengan anak Irene, astaga kuat sekali yaa Felix sampai anak-anak lelaki nya seperti kembar."


Zivanna menjadi fokus pada handphone nya, dia melihat Felix meng-upload foto kebersamaan bersama dengan Irene.


Felix seperti ingin memberitahu jika dia dan Irene pernah mempunyai hubungan.


" Ini ada apa yaa, Sebastian memasang photo anak lelaki nya yang mirip dengan Felix dan Felix meng-upload foto kebersamaan nya bersama dengan Irene."


Zivanna seketika dia langsung terdiam.


" Seperti nya mereka sedang tidak baik-baik saja, telah terjadi sesuatu dengan mereka."


Zivanna menyimpan handphone dia fokus pada sarapan pagi.


Tapi tiba-tiba saja Sesilia menghampiri Zivanna, sambil membawa Zivilia.


" Zivanna, Maudy depresi kembali dia tidak mau mengakui anak laki-laki nya. Mama mendapatkan kabar dari Samuel, katanya Maudy tidak aku mengurus anak lelaki nya."


Zivanna yang sudah menebak semuanya.


" Lalu bagaimana dengan anak lelaki itu, apakah benar Maudy itu despresi. Seperti tidak deh dia hanya ingin membuat Sebastian kembali bersama dengan nya, Maudy tidak mungkin mau meninggalkan Sebastian."


Sesilia memiliki pemikiran yang sama.


" Maudy tidak bersyukur mendapatkan Sebastian, dia selalu mempermainkan perasaan Sebastian. Haruskah Mama berkata jahat, semoga Sebastian mendapatkan wanita yang terbaik."


Ketika Mama Sesilia mengatakan wanita yang terbaik, Zivanna langsung berpikir kepada Irene.

__ADS_1


Zivanna merasa Irene akan berjuang keras untuk bisa mendapatkan cinta Sebastian Gunawan.


Irene juga pasti akan melawan Maudy, dia sama-sama wanita yang licik.


__ADS_2