
Keesokan harinya di keluarga Samuel Mahendra, mereka seperti biasanya memulai aktivitas nya dengan sarapan pagi.
Samuel dan Mama nya sudah berada di tempat meja makan sedangkan Bianca masih di dalam kamar nya.
" Aku masih memikirkan pesan masuk dari Sebastian, jujur aku sangat ketakutan sekali."
Sesilia pun memikirkan bagaimana jika Maudy sampai menculik Bianca kembali.
" Mama tidak percaya jika Maudy itu mengalami despresi atau gangguan Jiwa, Mama akan melihat nya langsung dan memastikan benar atau hanya sebuah alasan saja ingin bertemu dengan Bianca."
Sesilia tidak melanjutkan pembicaraannya ketika dia melihat Bianca dan Suster Vina datang.
Sesilia dan Samuel harus menunjukkan wajah bahagia nya, agar Bianca tidak merasa curiga terhadap mereka berdua.
" Selamat pagi Omah dan Papa."
Bianca kelihatan sangat ceria sekali.
" Selamat pagi sayang, anak Papa yang paling cantik."
__ADS_1
Samuel memeluk erat tubuh mungil Bianca.
" Hari ini aku sangat bahagia sekali Papa, karena aku yang sudah bertemu dengan Suster Zivanna tadi malam semoga Suster Zivanna bisa menjadi Mommy aku yaa secepatnya."
Samuel langsung melepaskan pelukan erat nya dia begitu sangat terkejut sekali mendengar perkataan Bianca.
" Tidak semudah itu yaa sayang, kamu jangan berhayal terlalu tinggi."
Bianca merasa tidak suka dengan perkataan Papa nya.
" Ini bukan sebuah hayalan Papa, ini adalah sebuah kenyataan yang akan terjadi. Bukan kah Papa itu mempunyai perasaan suka terhadap Suster Zivanna,? Papa sering senyum manis ketika melihat Suster Zivanna."
Sesilia pun menghampiri Bianca dan tersenyum manis kepada nya.
Bianca yang sebelumnya merasa kesal dia pun langsung tersenyum kembali.
" Sekarang kita tinggal menunggu Papa kamu saja yang mau memperjelas hubungan nya dengan Suster Zivanna, kita tinggal menunggu saja yaa."
Samuel mereka seperti di paksa untuk bisa secepatnya bersama dengan Zivanna, sedangkan dia yang masih sangat malu sekali untuk bisa mengatakan hal tersebut kepada Zivanna.
__ADS_1
" Bianca sayang, ayo kita pergi ke sekolah bekal di makan di mobil saja yaa sayang."
Bianca pun langsung bersalaman dengan Omah dan Papa nya.
" Aku pergi ke sekolah dulu yaa Papa dan Omah."
Suster Vina dan Bianca pun keluar dari rumah nya berjalan menuju ke mobil nya.
" Samuel sudah saja kamu secepatnya melamar Zivanna, kita sudah mengetahui kan orang tua nya Zivanna."
Samuel merasa sangat ragu sekali dengan setatus nya yang sudah mempunyai anak.
" Keluarga Dokter Richard itu sangat baik dan sopan santun sekali, tapi kita tidak pernah tahu apakah dia setuju jika aku menikah dengan Zivanna. Kita tahu jika Zivanna itu adalah anak tunggal, dia juga sangat berkecukupan sekali seperti sudah menyiapkan seorang lelaki yang muda dan tampan untuk dirinya."
Samuel merasa tidak percaya diri sekali dan Sesilia pun mencoba untuk menyemangati Samuel.
" Kamu jangan seperti itu, kamu harus optimis bisa membahagiakan Zivanna. Kamu juga tampan loh, dan sebenarnya jika kamu bisa bersama dengan Zivanna. Kamu adalah lelaki yang sangat beruntung sekali, karena mempunyai calon istri yang baik bisa dekat dengan Bianca itu tidak mudah untuk di cari."
Samuel melihat jam yang ada di handphone nya.
__ADS_1
" Aku harus segera pergi, karena Mama yang harus bertemu dengan Maudy. Sehingga pekerjaan aku bertambah banyak."
Samuel pun meninggalkan Mama nya masih duduk, Samuel kelihatan sangat terburu-buru sekali untuk pergi.