
Merasa kondisi Maudy semakin membaik, para pelayan meninggalkan Maudy.
Sebastian yang ternyata masih mempunyai perasaan terhadap Maudy, dia masuk ke dalam kamar Maudy di saat para pelayan keluar dari kamar.
Sebastian masuk dan melihat Maudy yang terbaring sambil memegang perut nya.
" Tangan nya sangat dingin sekali, sebenarnya apa yang terjadi dengan nya."
Sebastian memilih untuk tidur di sofa, dia ingin menjaga istrinya.
*Keesokan harinya*
Sebastian sudah bangun dari tidur tapi dia masih melihat Maudy tertidur pulas.
" Aku akan membawa nya ke rumah sakit sekarang juga, aku tidak bisa membiarkan Maudy seperti ini."
Sebastian menunggu Maudy sampai bangun dari tidur nya, dia duduk di sofa.
Maudy terbangun dia masih merasa sangat pusing sekali.
" Kamu ada di sini,? Apakah semalam pun kamu menunggu ku?."
Maudy mencoba untuk bangun dari tidur nya.
" Kita pergi ke rumah sakit sekarang yaa, nanti aku akan memanggil pelayan untuk membantu mu."
Sebastian berjalan ketika dia mau membuka pintu Maudy mual kembali.
Sebastian pun langsung memangil para pelayan untuk segera membantu Maudy, Sebastian memilih untuk menunggu di meja makan.
Sebastian memikirkan Maudy yang mual dan muntah selalu.
" Apakah Maudy hamil, tapi kenapa aku tidak bahagia jika sampai Maudy hamil."
Maudy akhirnya datang di bantu oleh para pelayan nya, mereka pun masuk ke dalam mobil.
Maudy terus saja memegang kepalanya.
" Kamu tahan yaa Maudy, aku akan mempercepat laju kendaraan ku."
Maudy hanya menggangukan kepalanya, dia merasa sangat pusing sekali.
Sebastian terus saja memandangi wajah Maudy yang semakin pucat.
" Apakah ini akibat dari benturan keras yang kamu alami, sehingga kamu jadi pusat dan muntah."
Mereka pun akhirnya sampai dan Maudy merasa sedikit lega, di saat Sebastian mau membukakan pintu mobil nya ternyata Maudy sudah tidak sadarkan diri.
" Astaga Maudy, kenapa harus sampai seperti ini."
Sebastian memangil para pihak medis, mereka pun langsung membawa Maudy.
" Aku membawa Maudy ke Rumah Sakit Permata, sebenarnya aku berharap bisa bertemu dengan Zivanna."
Sebastian menuggu hasil pemeriksaan.
" Lebih baik aku tidak memberitahu Mama, biarkan saja semoga Maudy tidak ada penyakit yang serius."
Sebastian menunggu dia pun merasa sangat tegang sekali.
Dan akhirnya Dokter pun keluar dia tersenyum melihat Sebastian.
" Selamat yaa Pak Sebastian, ibu Maudy ternyata sedang hamil muda."
Sebastian pun merasa tidak percaya dengan apa Dokter.
" Terimakasih Dokter atas informasinya."
Dokter pun langsung pergi, tapi Sebastian merasa sangat binggung.
" Haruskah aku bahagia, tapi aku tidak tahu anak siapa yang di kandung oleh Maudy."
Sebastian masuk ke dalam ruangan Maudy, dia melihat Maudy menangis sambil memegang perut nya.
__ADS_1
" Aku hamil, aku tidak menyangka bisa secepat ini loh. Padahal aku yang berniat untuk melakukan program kehamilan, tapi ternyata aku sudah di berikan kepercayaan menjadi seorang Ibu."
Maudy melihat ekspresi wajah Sebastian yang biasa saja, Sebastian tidak ada wajah bahagia nya.
" Kamu jaga kehamilan mu baik-baik yaa, maafkan aku yang bisa menunggu mu di sini. Aku harus kembali ke kantor karena sekarang sedang ada rapat penting."
Sebastian pergi membuat Maudy kesal dengan sikap suaminya itu.
" Tidak ada sedikitpun perasaan senang,? apa yang terjadi dengan nya. Aku tidak mengerti, buku kah dia ingin aku hamil."
Maudy memegang perut nya sambil mata nya berkaca-kaca.
" Apakah Sebastian berselingkuh di belakang ku dengan sekertaris muda nya itu, ahhhh aku tidak boleh lemah jika aku sudah sehat kembali setiap hari aku akan pergi ke kantor."
Maudy fokus kembali pada kehamilan nya.
" Sehat-sehat yaa sayang di perut Mama, karena kamu akan menghasilkan uang yang banyak untuk Mama."
Maudy begitu sangat bahagia sekali dengan kehamilan nya ini.
Maudy akan menjaga baik-baik bayi yang ada di dalam kandungan nya.
" Bianca, dia harus mengetahui jika dia akan segera mempunyai adik."
Maudy mencoba untuk menghubungi nomer handphone Suster Vina.
Suster Vina yang sedang menunggu Bianca sekolah dia melihat ada panggilan telephone masuk dari Maudy.
" Ada apa lagi yaa dengan Bu Maudy."
Suster Vina langsung menjawab panggilan telephone tersebut.
* Hallo Bu Maudy*
* Hallo Suster Vina, aku mempunyai kabar gembira untuk Bianca*
* Kabar gembira apa ya Bu*
* Bilang kepada Bianca, jika dia akan menjadi seorang Kakak*
* Iya terimakasih Suster Vina, yasudahlah yaa aku hanya memberikannya kabar itu saja. Jika Bianca sudah pulang sekolah, tolong telephone saya kembali*
* Baiklah Ibu Maudy*
Maudy mengakhiri panggilan telephone nya, dan begitu sangat terkejut nya dia melihat Dokter Richard masuk ke dalam ruangan nya.
Maudy merasa sangat tidak nyaman dengan kedatangan Dokter Richard.
" Selamat yaa akhirnya kamu pun hamil sama seperti Zivanna, tapi bagaimana respon anak mu ketika kamu hamil. Apakah akan sama seperti ke Zivanna,? Atau berbeda karena kamu yang pandai merangkai kata."
Dokter Richard semakin mendekati Maudy.
" Apakah kamu bukan seorang wanita,? Tidak ada sedikit pun mempunyai perasaan kasihan kepada Zivanna? Kamu membuat aku merasa menyesal telah menikah kan Zivanna dengan mantan suami mu itu."
Maudy mencoba untuk berani menatap wajah Dokter Richard.
" Perubahan sikap Bianca kepada Zivanna, itu bukan karena saya yaa. Bianca sudah besar, dia mengetahui jika kasih sayang Ibu kandungan nya itu jauh lebih tulis dari kasih sayang ibu sambung."
Dokter Richard tersebut mendengar perkataan Maudy kepada nya.
" Kamu bicara seperti itu, apakah kamu lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan kepada Bianca sejak kecil. Jahat sekali perbuatan mu itu, jika kamu ibu kandung kamu tidak akan pernah tega meninggalkan bayi mu demi uang."
Dokter Richard yang sudah merasa sangat kesal melihat wajah Maudy, dia pun memilih untuk langsung pergi saja.
" Ahhhhhh, kenapa sih aku harus di bawa ke rumah sakit ini. Seperti tidak ada lagi rumah sakit yang terbaik, aku benci keluarga Zivanna."
Maudy merasa sangat emosional sekali, tapi dia ingat dia yang sedang hamil.
" Maudy kamu harus tenang yaa, jangan sampai terjadi sesuatu dengan kehamilan mu ini. Kamu harus menjaga kehamilan mu, kamu harus melahirkan bayi ini dengan selamat."
Maudy terus menerus mengelus perut nya, dia mencoba untuk menenangkan pikiran dan perasaan.
Maudy tidak mau dia menjadi emosional hanya karena perkataan Dokter Richard kepada nya.
__ADS_1
Di tempat yang lain, Suster Vina melihat Bianca yang baru saja keluar dari gerbang sekolah.
" Apakah yang akan di katakan oleh Bianca, ketika dia mengetahui Mama sekarang sedang hamil."
Suster Vina tersebut manis kepada Bianca, dan mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.
" Suster Vina, aku mendapatkan nilai yang sempurna hari ini loh dan aku sangat senang sekali."
Bianca menunjukkan hasil pekerjaan nya kepada Suster Vina.
" Wah hasil yang sangat sempurna yaa, pertahanan yaa Bianca karena kamu akan segera masuk ke SD."
Bianca menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan Suster Vina merasa ini adalah saat nya untuk dia mengatakan kabar gembira kepada Bianca.
Suster Vina menelephone Maudy, dia ingin Maudy saja yang bicara langsung dengan Bianca.
* Hallo Bu Maudy, saya sekarang sedang bersama dengan Bianca di dalam mobil*
* Berikan telephone nya kepada Bianca*
Super Vina memberikan handphone nya kepada Bianca.
* Hallo Mama, Mama aku di sekolah mendapatkan nilai sempurna loh Mam*
* Wah, anak mama pintar sekali yaa*
* Iya Mama aku akan selalu berusaha supaya aku bisa juara 1 di kelas*
* Hmmmmmm sayang, ada yang ingin Mama bicarakan dengan mu*
* Apa itu Mama*
* Sayang Mama sekarang sedang hamil, kamu akan menjadi seorang kakak*
Wajah Bianca seketika langsung berubah dan Suster Vina menyadari nya.
* Kenapa Mama harus hamil seperti Mommy Zivanna, jika Mama mempunyai anak lagi Mama tidak akan sayang lagi dengan ku*
Bianca langsung menangis dan Suster Vina tersenyum melihat nya.
* Sayang dengar Mama baik-baik ya, Mama tidak akan pernah melupakan mu karena Mama yang melahirkan mu beda dengan Mommy Zivanna dia orang lain. Walaupun Mama mempunyai anak lagi, tapi kasih sayang Mama tidak akan pernah hilang untuk mu sayang*
Bianca marah dia memilih untuk mengakhiri panggilan telephone nya.
" Mama jahat, kenapa Mama harus hamil sih."
Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah Bianca terus menerus menangis.
" Lalu jika Mama Maudy hamil, apakah kamu akan melakukan hal yang sama seperti Mommy Zivanna."
Bianca terdiam mendengar perkataan Suster Vina.
" Sudahlah Bianca jangan selalu bermain drama yaa, sekarang kamu harus bisa menerima kenyataan yang ada. Kamu akan menjadi seorang kakak, bahkan adik mu langsung dua loh."
Sesampainya di depan rumah, Bianca langsung berlari menuju ke kamar nya.
Suster Vina merasa sangat bahagia sekali ketika melihat Bianca yang marah di saat dia mengetahui Mama yang sedang hamil.
" Aku berharap dengan seperti ini Bianca bisa sadar dan berubah sikap nya, Bianca bisa menerima kehadiran Zivanna kembali di rumah ini."
Suster Vina masuk ke dalam rumah, dia menyiapkan makanan untuk Bianca.
Tapi tanpa sepengetahuan Suster Vina, Bianca memasukkan banyak baju nya ke dalam tas.
Bianca berniat untuk pergi dari rumah nya, karya Bianca merasa dirinya sudah tidak ada lagi yang sayang.
" Aku akan pergi dari rumah ini, tapi bagaimana caranya aku pergi yaa. Sedangkan cctv di mana-mana, dan aku pun harus melewati gerbang besar."
Bianca menyembunyikan tas berisi baju yang akan dia bawa, Bianca merasa dia sendirian karena Papa nya juga yang sudah tidak lagi perhatian terhadap nya.
" Sekarang Mama Maudy yang sedang hamil, dia tidak akan lagi bisa bersama dengan ku. Papa sekarang yang selalu fokus pada Mommy Zivanna, mereka yang hanya fokus pada kehamilan."
Bianca menangis kembali, dia berpikir di saat bayi-bayi itu masih di dalam kandungan dirinya sudah tidak di perhatikan bagaimana jika bayi-bayi sudah lahir.
__ADS_1
Bianca berpikir jika dia tidak akan lagi mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua nya.