
Bianca merasa tidak nyaman berada di kamar Belinda, dia merasa sangat ketakutan sekali.
" Sebenarnya Belinda itu kemana yaa, dan aku merasa tidak nyaman berada di kamar ini. Aku sangat takut sekali, aku ingin pulang saja."
Bianca mencoba untuk membuka pintu kamar nya, tapi ternyata pintu kamar nya di kunci.
Bianca panik, dia mengetuk dengan keras pintu kamar nya sambil berteriak.
" Tolong, aku ingin keluar dari kamar ini."
Bianca sampai menangis histeris dan Suster Diana mendengar teriakkan Bianca.
" Astaga kenapa dengan anak perempuan itu, apa yang sudah di lakukan Ibu Melinda."
Suster Vina mengetahui jika Melinda yang pasti sedang tidur karena obat penenang nya, dia berlari menghampiri kamar Belinda yang di pakai oleh Bianca.
" Astaga kasihan sekali anak itu sampai di kunci di kamar, hmmmmm di mana yaa kunci kamar nya."
Suster Diana akhirnya menemukan kunci kamar dan dia langsung membukakan pintu kamar.
Suster Diana melihat Bianca yang sangat ketakutan sekali, dia pun langsung memeluknya.
" Sayang, kamu baik-baik saja kan?. Kenapa kamu menangis, kamu merindukan orang tua mu yaa."
Bianca menangis di pelukan Suster Diana.
" Aku ingin pulang saja, aku takut tidur di kamar ini."
Tangan Bianca kelihatan sangat bergetar.
" Yasudah yaa, kamu tidur bersama dengan Suster Diana yaa."
Suster Diana menutup rapat pintu kamar Belinda, dan Suster Diana membawa Bianca masuk ke dalam kamar nya.
" Kamu tahu di mana alamat rumah mu,? nanti Suster akan mencoba untuk mengantarkan kamu pulang ke rumah."
Bianca terdiam dia tidak mengetahui alamat rumah nya, karena handphone nya ketinggalan di kamar.
" Papa ku bernama Samuel Mahendra, dia seorang pengusaha."
Suster Diana mencoba untuk melakukan pencarian di handphone nya, dan ketika Suster Diana melakukan pencarian dia melihat ada photo Bianca dalam pencarian di media sosial.
__ADS_1
" Bianca Putri Mahendra, apakah itu nama mu?."
Bianca menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
" Ya, itu nama ku."
Suster Diana mencoba untuk menghubungi nomer handphone Samuel yang di sertakan di dalam photo Bianca.
" Hmmmm, besok yaa Suster menghubungi nomer Papa mu. Sekarang sepertinya dia sudah tidur, sekarang kamu tidur yaa."
Suster Diana menarik selimut dia menyelimuti tubuh mungil Bianca, dan mematikan lampu kamar nya.
Keesokan harinya.
Samuel dan Zivanna bersiap untuk pergi dari kamar hotel tersebut, ketika mereka keluar dari kamar mereka melihat Sebastian dan juga Irene.
Ekpresi wajah Zivanna datar karena masih menyimpan rasa dendam kepada Irene, tapi Samuel dia langsung tersenyum melihat kebersamaan mereka berdua.
" Apakah sudah sejauh ini hubungan kalian berdua,? Sudahlah cepat menikah karena Maudy dia hanya berpura-pura despresi saja."
Zivanna memilih pergi duluan, Irene merasa malu melihat Zivanna.
Sebastian semakin merasa kesal dengan Maudy.
" Seperti nya hanya ingin mendapatkan simpatik dari mu, yasudah yaa aku harus pergi dulu yaa. Zivanna sudah meninggalkan ku, untuk kalian berdua semoga secepatnya menikah."
Irene menundukan kepalanya dia tidak seperti biasanya.
" Kenapa kamu menundukkan kepala mu,? Aneh sekali tidak seperti biasanya."
Irene berjalan cepat dan Sebastian pun mengikuti Irene.
" Zivanna dia seperti nya masih benci dengan Irene, tapi yasudahlah itu urusan mereka berdua."
Zivanna sudah menunggu Samuel di dalam mobil nya, dia merasa ingin secepatnya bertemu dengan Zivilia.
Samuel pun masuk ke dalam mobil nya, dia melihat Zivanna yang sedang menaiki handphone nya.
" Kamu masih benci dengan Irene,? Sudahlah jangan di perpanjang lagi yaa permasalahan nya."
Zivanna hanya terdiam saja, dia tidak menjawab pertanyaan dari suaminya mata nya hanya fokus pada handphone nya.
__ADS_1
Samuel menjalankan mobilnya, Zivanna mencoba untuk menghubungi nomer handphone Suster Vina.
Suster Vina yang sedang bersama dengan Zivilia, dia memberikan Zivilia kepada ibu Lollyta.
* Hallo Ibu Zivanna*
* Vina bagaimana dengan Zivilia, aku sangat merindukan Zivilia*
* Zivilia tidak rewel dia sekarang sedang bersama dengan Omah nya*
* Baiklah, aku sekarang akan menuju ke sana yaa*
* Iya, hati-hati yaa*
Zivanna mengakhiri panggilan telephone nya, dan Samuel tidak berani bertanya kepada Zivanna karena melihat wajah nya yang seperti orang yang sedang kesal.
" Sangat murahan sekali Irene, dia berani tidur bersama dengan suami orang yang belum ada keputusan untuk berpisah."
Zivanna semakin tidak menyukai Irene, dia merasa Irene akan mendapatkan pembalasan dari Maudy.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka pun sampai.
Zivanna membuka pintu mobil dia langsung berlari menuju ke dalam.
Samuel mencoba untuk tetap sabar, karena dia tahu Zivanna sangat sensitif perasaan nya.
Samuel berjalan masuk ke dalam rumah orang Zivanna, dia juga begitu sangat merindukan Zivilia.
Samuel bersalaman dengan kedua orang tua Zivanna yang kebetulan sedang berkumpul di rumah.
" Bagaimana dengan Bianca, kenapa dia bisa sampai hilang sedangkan dia sedang berada di rumah Maudy."
Lollyta merasa sangat aneh dengan kabar hilang nya Bianca.
" Saya juga merasa sangat aneh, bisanya Bianca itu sangat senang ketika bersama dengan Mama nya."
Zivanna fokus pada Zivilia dia membawa Zivanna ke dalam kamar nya.
Handphone Samuel tiba-tiba saja berdering, ada panggilan telephone masih tapi tidak ada nama nya.
Samuel mengabaikan nya dia takut itu adalah nomber handphone Maudy yang baru, Samuel tidak mau membuat masalah di rumah tangga nya.
__ADS_1