
Sebastian merasa tidak tega ketika melihat Maudy harus di pindahkan ke Rumah Sakit Jiwa.
Sebastian berpikir ini yang terbaik untuk Maudy, dia ingin melihat Maudy bisa kembali sembuh.
Tatapan mata Maudy begitu sangat kosong sekali dia tidak sedikit pun berontak dia berjalan dengan sangat santai sampai ke dalam mobil.
Sebastian memakai mobil nya sendiri dia mengikuti dari belakang, Sebastian merasa sangat hawatir sekali jika Maudy berbuat sesuatu.
" Semoga Maudy bisa baik-baik saja, aku berharap Maudy bisa sehat kembali."
Sepanjang perjalanan menuju ke Rumah Sakit tersebut Sebastian terus saja mengingat anak lelaki Maudy.
" Maudy, maafkan aku tidak bisa mengurus anak lelaki mu. Terlalu sakit untuk ku jika harus mengurus anak dari selingkuhan dengan lelaki lain, aku tidak sanggup."
Sebastian sudah merencanakan pertemuan nya dengan Felix, dia ingin bicara hanya berdua saja.
Di saat Sebastian fokus pada Maudy, Samuel fokus pada Bianca dia tidak mau Bianca sampai sedih.
Samuel masuk ke dalam ruangan Bianca, dia hanya melihat Bianca bersama dengan Mama nya saja.
__ADS_1
" Di mana Zivanna,? Kenapa Zivanna tidak ada."
Ekpresi wajah Bianca tiba-tiba saja langsung berubah.
" Zivanna pulang, Mama yang menyuruh nya pulang kasihan Zivilia di rumah bersama dengan Suster Vina."
Samuel melihat Bianca dia menghampiri nya.
" Papa, aku semalam melihat Mama. Kenapa dengan Mama, dia berteriak kencang. Aku kasihan sekali melihat Mama, bagaimana dengan adik lelaki ku jika Mama di rumah sakit."
Bianca kembali menangis di hadapan Papa nya.
Samuel memeluk erat Bianca.
" Sekarang Mama mu sudah di pindah kan ke Rumah Sakit yang lebih bagus, agar Mama mu bisa secepatnya sembuh yaa."
Bianca melepaskan pelukan erat nya, dia menatap wajah Papa nya.
" Papa kasihan adik lelaki ku, kenapa tidak di bawa saja ke rumah kita. Di urus oleh Suster Vina, aku janji tidak akan manja lagi."
__ADS_1
Setelah bicara dengan Omah nya, Bianca kembali bicara dengan Papa nya dengan keinginan nya itu.
" Sayang, Suster Vina itu sekarang fokus pada adik Zivilia yaa. Adik lelaki mu pasti akan mendapatkan fasilitas yang terbaik di berikan oleh Papa Sebastian, aku tidak perlu menghawatirkan adik lelaki lagi."
Bianca merasa sangat marah sekali dengan Papa nya.
" Papa, adik lelaki itu adik kandung ku. Apakah Papa tidak punya rasa kasihan kepada nya, dia lebih sedih dari aku. Semenjak lahir dia sudah tidak mendapatkan kasih sayang dari Mama, kenapa Papa hanya memikirkan adik perempuan ku saja."
Samuel tidak bisa berkata apa-apa lagi, Samuel merasa Bianca sedang membuat rencana permasalahan baru di rumah nya.
" Bianca, Omah mengerti kamu sangat sayang dengan adik perempuan mu. Tapi tidak seperti ini yaa, karena Mama dan Papa mu sudah memiliki keluarga masing-masing adik lelaki mu itu tanggung jawab Papa Sebastian."
Bianca merasa semakin benci sekali dengan Zivanna dan adik perempuan nya.
Samuel memilih untuk pergi dia tidak mau sampai terpancing emosi nya.
Melihat Papa nya sudah pergi Bianca baru melampiaskan emosi nya.
" Sekarang Papa dan Omah terlalu sayang dengan adik Zivilia, seperti kalian berdua tidak akan lagi sayang dengan ku. Sekarang aku tidak bisa pergi bersama dengan Mama, Mama sakit aku sendirian."
__ADS_1
Bianca menangis kembali membuat Omah nya tidak tahu harus bagaimana lagi dengan Bianca.