
Zivanna memandangi wajah nya di depan cermin dan tanpa di sadari Samuel sudah berada di hadapan nya.
" Astaga Pak Samuel, sudah datang yaa."
Zivanna menyimpan cermin tersebut ke dalam tas nya.
" Zivanna kedatangan saya ingin mengucapkan maaf atas apa yang sudah terjadi, kamu yang seharusnya bersama dengan Bianca sampai 2 tahun sekarang harus kehilangan pekerjaan mu dan di gantikan oleh Suster Vina."
Zivanna tidak mau menunjukkan perasaan sedih nya, dia berusaha untuk tetap tersenyum manis di hadapan Samuel.
" Saya tidak akan pernah membahas tentang yang sekarang sedang di perdebatkan, KSR itu sifatnya privasi. Mungkin hanya kamu yang mengetahui yang sebelumnya seperti apa, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada kamu yang sudah memberikan warna untuk Bianca selama ini."
Samuel mengeluarkan amplop coklat untuk Zivanna.
" Ini adalah gajih mu bulan ini, semoga kamu mendapatkan yang terbaik di luar sana."
Zivanna mengambil amplop coklat tersebut.
" Terimakasih banyak Pak Samuel."
Samuel pun langsung pergi meninggalkan Zivanna dan Zivanna kelihatan sangat sedih sekali.
" Ini tandanya aku yang sudah tidak akan lagi masuk ke dalam rumah itu sebagai Suster Zivanna, sekarang aku fokus pada pekerjaan ku menjadi seorang model saja."
Zivanna memasukkan amplop coklat tersebut ke dalam tas nya dan tiba-tiba saja seorang lelaki tampan yang menghampiri nya.
" Zivanna kamu cantik sekali."
Zivanna seketika dia langsung terdiam karena dia tidak mengenali siapa lelaki tersebut.
" Maaf siapa yaa,?"
Lelaki tersebut pun merasa membuka kaca mata hitam nya.
" Felix Felio,? "
Zivanna begitu sangat terkejut sekali ketika dia bertemu dengan teman masa kecil.
" Iya, Zivanna Lollyta Lenoel."
Felix Felio adalah sahabat baik Zivanna sejak kecil dan mereka terpisah di saat Felix yang lebih memilih untuk kuliah di luar negeri.
" Cantik sekali kamu Zi, sangat cantik sekali."
Felix memuji kecantikan Zivanna.
__ADS_1
" Ini karena efek make up saja, karena tadi aku bantu Ibu untuk menjadi model di salah satu produk terbaru nya."
Zivanna merasa sedikit canggung ketika dirinya kembali bertemu dengan Felix teman masa kecil nya.
" Sebenarnya aku itu adalah Suster di Rumah Sakit Permata, tapi ternyata ada seorang yang membutuhkan seorang Suster untuk anak nya tapi sayang nya hanya bertahan di beberapa bulan saja selesai, dan sekarang aku lebih sedang menikmati pekerjaan ini."
Felix melihat banyak nya makanan dan juga ada dua gelas minuman.
" Apakah kamu baru saja bertemu dengan seorang,? atau sedang menunggu seseorang ?."
Tatapan mata Felix tertuju pada makanan dan minuman yang ada di hadapannya.
" Aku memesan makanan dan minuman karena Ayah dari anak yang aku jaga, dia ingin bertemu dengan ku tapi ternyata dia mengantarkan amplop dan setelah itu dia pergi begitu saja."
Felix melihat wajah Zivanna yang kelihatan sangat sedih sekali.
" Yasudahlah tidak usah sedih yaa, kita makan bersama saja yaa. Karena tidak mungkin jika pergi begitu saja, seperti tidak menghargai makanan."
Zivanna pun merasa sangat bahagia sekali mereka berdua pun akhirnya semakin akrab ketika mengobrol tentang masa lalu mereka berdua.
Lollyta begitu sangat menghawatirkan Zivanna yang keluar untuk makan tapi sangat lama sekali.
Lollyta pun mencoba untuk menghubungi nomer handphone Zivanna, Lollyta masuk ke dalam ruangan agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
" Sebentar yaa Ibu menelephone."
Zivanna dengan cepat dia pun langsung menjawab panggilan telephone dari ibunya.
* Hallo Bu, ada apa Bu*
* Zivanna kamu mencari makan di mana sangat lama sekali kamu tidak kembali. Kamu masih ada tiga kali pemotretan lagi*
* Hah aku masih harus melakukan pemotretan yaa, yasudah Bu aku sekarang menuju ke sana*
* Cepat yaa Ibu tunggu*
Zivanna mengakhiri panggilan telephone dia pun langsung meminta maaf kepada Felix
" Aku harus kembali ke kantor yaa, maafkan aku yaa Felix."
Zivanna kelihatan sangat terburu-buru sekali dan Felix pun memberikan handphone nya kepada Zivanna.
" Aku ingin nomor telepon mu."
Zivanna pun langsung mengambil handphone Felix dan mengetik nomor handphone nya.
__ADS_1
Zivanna langsung berlari menuju ke mobil nya.
" Astaga bisa langsung di pecat aku."
Felix tersenyum ketika mendapatkan nomber handphone Zivanna.
Di perjalanan menuju ke kantor Zivanna kelihatan sangat emosional sekali karena lagi-lagi dia mengingat Maudy.
" Ahhh, semuanya gara-gara Maudy."
Lollyta sudah menunggu kedatangan Zivanna dan ketika Zivanna turun dari mobil nya dia melihat ekpresi wajah yang sangat kesal.
" Astaga kenapa lagi dengan dia, kenapa wajah nya begitu sangat kesal sekali."
Zivanna mengeluarkan amplop coklat dia memberikan amplop coklat itu kepada Ibunya.
" Amplop apa ini Zivanna,?
Lollyta membuka amplop coklat tersebut dan ternyata isi nya adalah uang.
Zivanna berjalan menuju ke ruangan ibunya.
" Siapa yang memberikan uang sebesar 5 juta rupiah untuk Zivanna yaa, sangat baik sekali."
Zivanna pun duduk di sofa dan dia mulai bicara dengan ibunya.
" Itu adalah gajih terakhir ku pada saat bekerja menjadi Suster, Pak Samuel yang memberikan nya."
Lollyta pun akhirnya mengerti apa yang membuat Zivanna sampai marah seperti ini.
" Yasudah yaa jangan sedih seperti ini, kamu masih bisa bertemu dengan Zivanna di sekolah nya. Atau kamu juga bisa meminta ijin untuk mengajak Bianca pergi di saat Bianca libur sekolah."
Lollyta mencoba untuk menenangkan perasaan Zivanna.
" Tapi aku tidak bisa melihat Papa nya, Ibu kan tau jika aku menyukai Papa nya. Jika aku jarang bertemu dengan Pak Samuel, bagaimana mungkin dia bisa mempunyai perasaan terhadap ku."
Lollyta pun sampai memegang kepala nya.
" Dan yang paling menyebalkan sekali saingan aku itu mantan istrinya, dan sekarang dengan memasukkan Suster Vina ke rumah tersebut membuat dirinya menjadi bisa dekat dan mencoba untuk menggoda mantan suami nya."
Lollyta mengambil kan minuman dingin untuk Zivanna.
" Minumlah, dan tenangkan diri mu yaa. Karena sebentar lagi kamu akan melakukan pemotretan yaa, Ibu tidak mau wajah mu masih seperti ini yaa."
Zivanna pun menghabiskan minuman tersebut dan dia keluar dari ruangan Ibu nya untuk mengikuti pemotretan yang selanjutnya.
__ADS_1