
Di saat Maudy yang seperti sedang tertekan dengan banyak nya pertanyaan sensitif untuk rumah tangga nya, di sisi lain Bianca merasa sangat sedih sekali dia ingin keluar dari rumah nya. Bianca merasa sudah tidak nyaman lagi untuk tinggal di sana, Bianca yang hanya bisa terdiam saja di dalam kamar nya.
Samuel mencoba untuk masuk ke dalam kamar Bianca, dia merasa kasihan dengan putri cantik nya itu.
" Bianca, kenapa kamu sedih seperti ini. Seharusnya kamu senang Bianca, karena kamu akan mempunyai adik bayi. Kamu akan menjadi Kakak Bianca, kakak yang baik untuk adik nya."
Bianca menggelengkan kepalanya berkali-kali.
" Tidak, aku tidak mau menjadi Kakak. Kecuali Mama Maudy menikah dengan Papa, itu baru adik ku."
Tanpa sepengetahuan Samuel, Zivanna mendengar perkataan Bianca.
Zivanna tersenyum tipis sambil memegang perutnya.
Zivanna masuk ke dalam kamar Bianca.
" Oh, kamu menginginkan Papa mu kembali bersama dengan Mama mu, Seperti itu kah keinginan mu Bianca? Itu sangat menyakitkan sekali yaa."
Samuel menghampiri Zivanna, dia mencoba untuk menenangkan Zivanna.
" Zivanna, kenapa kamu keluar dari kamar. Sudahlah lebih baik kamu kembali ke kamar, karena jika kamu berdebat dengan Bianca. Aku menghawatirkan kondisi kehamilan mu ini, sudah yaa kembali ke kamar."
__ADS_1
Samuel mencoba untuk membawa Zivanna kembali ke kamar nya.
" Papa jangan pergi, aku ingin Papa di sini bersama dengan ku."
Bianca turun dari tempat tidur nya dia memegang tangan Papa nya.
Zivanna tersenyum manis kepada Bianca dan melepaskan paksa tangan suaminya.
" Silahkan Bianca, aku tidak akan mengambil Papa mu yaa."
Sambal memegang perut nya, Zivanna pun kembali ke kamar nya.
Zivanna sudah tidak bisa lagi menahan air mata nya, Zivanna menagis histeris di dalam kamar nya.
Zivanna mengambil handphone nya dia mencoba untuk menghubungi nomer handphone Ibu nya.
Lollyta yang sedang sibuk di kantor nya, dia merasa sangat terkejut sekali ketika melihat ada panggilan telephone masuk dari Zivanna.
" Zivanna, ada apa lagi yaa."
Lollyta pun langsung menjawab panggilan telephone tersebut.
__ADS_1
* Hallo Zivanna*
* Bu, aku ingin pulang Bu. Kirimkan supir pribadi untuk menjemput ku yaa, aku sudah tidak kuat bertahan hidup di rumah ini*
* Astaga Zivanna, yasudah yaa kamu siap-siap yaa. Ibu akan mengirimkan supir pribadi yang menjemput kamu yaa, sudah yaa jangan menangis kasihan bayi yang ada di dalam kandungan mu*
* Iya Buu*
Zivanna merasa tidak perlu ada barang yang dia bawa, Zivanna pun keluar dari kamar nya.
Ketika Zivanna keluar dari kamar nya dia bertemu dengan Suster Vina.
" Zivanna, kenapa kamu menagis seperti. Dan kamu mau pergi ke mana,? Seharusnya kamu istirahat Zivanna."
Zivanna menghela nafas panjang nya.
" Aku lebih untuk pulang ke rumah ku saja, aku sangat mencintai kandungan ku. Aku tidak mau menjadi banyak pikiran dan emosional, itu tidak baik untuk kehamilan ku."
Zivanna berjalan menuju ke luar rumah, Suster Vina tidak bisa banyak bicara dengan Zivanna karena dia mengetahui semua ini karena Bianca.
" Bianca, kenapa dia seperti ini yaa. Sangat membuat aku emosional juga, kasihan kan Zivanna dia yang masih hamil muda tapi sudah di pusingkan dengan banyak permasalahan."
__ADS_1
Suster Vina memilih untuk mengikuti Zivanna.