
Bianca melihat Suster Zivanna yang seperti sedang melamun sambil memegang handphone nya.
"Suster Zivanna baik-baik saja kan,? kenapa dengan Suster Zivanna?."
Zivanna pun langsung memasukkan handphone nya ke dalam tas nya.
"Tidak apa-apa sayaaaaang, ayo kita masuk ke dalam mobil."
Zivanna mengajak Bianca untuk masuk ke dalam mobil dan Bianca pun terus saja memandangi wajah Suster Zivanna.
Zivanna merasa ingin bertemu dengan Ibu nya, tapi itu tidak mungkin terjadi karena dia yang bersamaan dengan Bianca karena pembicaraan mereka berdua tentang Maudy.
"Suster Zi, aku ingin sekali bermain ke rumah Suster. Tanpa sepengetahuan Papa dan Omah, seperti nya orang tua Suster Zi sangat baik sekali."
Bianca yang sudah mengetahui jika dirinya adalah anak seorang Dokter Specialis, tapi dia tidak mengetahui jika dirinya adalah anak dari pemilik kosmetik yang menjadikan Mama nya sebagai brand ambassador produk tersebut.
"Iya nanti yaa sayang, kita main ke rumah Suster. Suster janji akan membawa kamu ke rumah Suster."
Mereka berdua pun semakin dekat untuk sampai ke rumah, Zivanna mulai merasa sangat resah dengan Maudy. Dia menghawatirkan Maudy menculik Bianca.
__ADS_1
"Bianca, apa yang akan kamu lakukan jika Mama mu menghampiri mu kembali?."
Pertanyaan Suster Zivanna membuat Bianca teringat kembali dengan kejadian malam itu.
"Aku tidak tahu aku harus bagaimana,? karena ternyata Mommy pun sangat cuek sekali kepada ku."
Mereka berdua pun akhirnya sampai di depan rumah dan Zivanna pun memastikan Bianca turun dengan hati-hati dari mobil.
Zivanna mengajak Bianca langsung masuk ke dalam kamar nya karena dia merasa jika Bianca pun harus mengetahui nya dengan ke khawatiran nya.
Zivanna menutup pintu kamar dia pun kembali fokus pada Bianca.
Zivanna memegang tangan mungil Bianca sambil memandangi wajah cantik nya.
"Suster Zi kenapa,? kenapa harus takut?."
Zivanna pun tidak kuasa menahan air mata nya.
"Suster Zi tidak kamu kehilangan kamu,? Suster Zi takut kamu yang di bawa oleh Mommy kamu dan Suster Zi yang tidak bisa lagi bersama dengan Bianca."
__ADS_1
Zivanna membelai rambut panjang Bianca.
"Suster Zi tidak boleh sedih seperti ini yaa, aku tidak mungkin meninggalkan Papa demi Mommy. Karena aku yang di besarkan oleh Papa bukan oleh Mommy, dan aku merasa jika Mommy yang tidak menyukai aku."
Zivanna tersenyum tipis kepada Bianca, dia tidak menyangka jika anak usia 5 tahun ini bisa berbicara seperti itu kepada nya.
Tapi Zivanna pun tidak bisa egois jika suatu saat nanti Bianca bersama dengan Mommy, karena setatus nya hanyalah seorang Suster saja.
"Sekarang Suster Zi, sudah tidak terlalu khawatir lagi dengan Bianca. Suster Zi sekarang akan selalu menjaga Bianca."
Zivanna memeluk erat tubuh mungil Bianca, dia tidak mengerti kenapa rasa kasih sayang nya yang begitu sangat besar sekali ketika Bianca.
Padahal awal dia ingin menjadi seorang Suster hanya karena melihat ketampanan wajah Samuel bukan karena Bianca.
"Suster Zi, harus berjanji yaa. Akan selalu bersama dengan aku, sampai aku dewasa nanti Suster Zi harus tetap bersama dengan aku."
Zivanna pun langsung terdiam ketika mendengar perkataan polos Bianca yang menginginkan nya untuk bisa terus bersama dengan nya.
Zivanna yang merasa menginginkan bersama dengan Bianca pun dia harus memikirkan kembali, dia mempunyai impian bisa bersama dengan Samuel tapi impian itu sangat tinggi sekali.
__ADS_1