
Maudy kembali ke kantor dia melihat Lollyta yang sedang memegang handphone nya, Lollyta kelihatan sedang menelephone dia kelihatan sangat sibuk sekali.
" Seperti nya aku tidak harus membahas tentang permasalahan ini, karena ini bukan terlalu penting untuk Lollyta sekarang suaminya sudah menyerah simpanan nya kepada lelaki tampan seumuran dengan nya."
Maudy tersenyum dan mulai bersiap-siap untuk pemotretan.
" Jika sampai Zivanna berhasil bersama dengan lelaki itu, itu tandanya Samuel di posisi aman dia masih sendiri setia menunggu kedatangan ku kembali."
Maudy kelihatan sangat bersemangat sekali dia benar-benar sangat egois, dia yang tidak mau di tinggalkan oleh Sebastian tapi kenyataannya dia mempunyai niat untuk kembali ke pelukan mantan suaminya.
Lollyta sangat panik sekali ketika handphone Zivanna yang tidak aktif.
" Astaga Zivanna, jangan membuat ibu merasa sangat hawatir sekali seperti ini. Zivanna sebelum nya tidak pernah saya seperti ini, dia tidak pernah menonaktifkan handphone nya."
Lollyta masuk ke dalam ruangan nya dia mencoba untuk menghubungi suaminya.
Dokter Richard yang sedang bertugas dia mengabaikan getaran handphone, karena dia ingin fokus pada pasien nya.
Lollyta merasa sangat kecewa sekali ketika suaminya tidak menjawab panggilan telephone dari nya.
__ADS_1
" Zivanna semoga kamu baik-baik saja yaa, ibu sangat menghawatirkan mu sayang."
Lollyta mencoba untuk menenangkan perasaan nya.
" Lollyta kamu harus fokus pada pekerjaan kamu, nanti setelah semuanya selesai kamu bisa menghubungi Zivanna kembali."
Lollyta pun keluar dari ruangan nya dia yang harus fokus pada pekerjaan, Lollyta yang harus menyiapkan produk shampo terbaru dengan varian nya
Lollyta akan menjadi Zivanna sebagai model nya, dia ingin Zivanna yang menjadi Brand Ambassador produk kecantikan milik nya.
" Kontrak pekerjaan Maudy tinggal beberapa bulan lagi, semoga saja semuanya berjalan dengan sempurna aku tidak akan pernah memperpanjang kontrak nya karena ternyata Zivanna lebih menjual dari pada Maudy."
Di tempat yang berbeda Bianca tiba-tiba saja dia merindukan Zivanna, dia yang baru saja pulang dari sekolah.
" Suster Vina, kenapa yaa aku sangat merindukan Mommy Zivanna. Rasanya aku ingin sekali bisa bertemu dengannya nya sekarang juga, tapi sepertinya tidak bisa yaa."
Ekpresi wajah Bianca yang sangat sedih sekali akhirnya membuat Suster Vina mencoba untuk menghubungi nomer handphone Zivanna.
Suster Vina langsung terdiam ketika nomber handphone Zivanna yang tidak aktif.
__ADS_1
" Kenapa tidak aktif yaa, padahal Zivanna tidak pernah menonaktifkan handphone nya. Apakah Zivanna Menganti nomber handphone yaa."
Bianca melihat wajah Suster Vina yang kelihatan sangat panik sekali, sehingga membuat Bianca berpikir yang negatif terhadap Mommy Zivanna.
" Kenapa dengan Mommy Zivanna,? Mommy Zivanna baik-baik saja kan Suster Vina."
Melihat ekpresi wajah Biang yang sepi sedikit menghawatirkan Zivanna, Suster Vina lagi tersenyum melihat kepala Bianca.
" Mommy Zivanna baik-baik saja sayang, Hany saja nomber handphone nya yang tidak aktif, mungkin karena baterai handphone nya yang habis."
Bianca pun percaya dengan perkataan Suster Vina.
" Yasudah yaa sayang, kita main-main berdua saja yaa nantinya kalau sampai sampai rumah yaa."
Bianca menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil cemberut.
" Tidak aku ingin langsung tidur saja, aku tidak mau main berdua. Aku hanya ingin bertemu dengan Mommy Zivanna, aku rindu Mommy Zivanna."
Bianca yang tiba-tiba saja menangis seperti sebuah isyarat jika Zivanna yang tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
"