
Sesilia sampai di kantor nya, dia pun langsung masuk ke ruangan Samuel dia ingin menceritakan pertemuannya dengan Zivanna.
Samuel yang sedang fokus bekerja dia langsung memperhatikan kedatangan Mama nya.
" Ada apa yaa Mam, wajah Mama kelihatan sangat lelah sekali. Mama sebenarnya sudah pergi dari mana,? kenapa Mama baru sampai kantor."
Sesilia duduk di sofa dan Samuel pun duduk di sebelah Mama nya.
" Mama habis bertemu dengan Zivanna, Mama ingin menanyakan tentang apa yang di katakan oleh Maudy. Dan ketika Zivanna menjawab pertanyaan Mama, kenapa dia sampai menjadi seorang wanita simpanan Dokter Richard. Mama merasa Zivanna seperti menyimpan rahasia tertentu, dia seperti mempunyai masa lalu dengan keluarga Dokter Richard."
Samuel yang merasa tidak percaya dari awal dia pun begitu sangat tidak mengerti dengan Ibu nya yang sampai harus mencari tahu sampai detail seperti itu.
" Sudahlah Mam, itu mungkin sebuah rahasia Zivanna. Tapi aku ingin bertanya kepada Mama, apakah Mama percaya jika Zivanna itu adalah wanita simpanan,? jika aku pribadi tidak percaya walaupun Maudy membawa bukti foto-foto kebersamaan Zivanna dengan Dokter Richard."
Samuel memilih kembali bekerja dia yang tidak memperdulikan lagi jika sampai ada yang membahas tentang Zivanna.
Handphone Sesilia bergetar dia pun langsung mengambil nya dari dalam tasnya.
" Maudy Larissa, ada apa dia mengirimkan pesan kepada ku."
Sesilia pun langsung membuka pesan tersebut.
* Selamat siang Bu Sesilia, saya Sebastian suaminya Maudy. Saya ingin memberitahu kan jika Maudy sekarang mengalami despresi kembali, saya berharap Ibu Sesilia menjaga ketat Bianca. Karena Maudy yang terus-menerus berteriak kencang ingin bertemu dengan Bianca*
* Terimakasih atas informasinya, dan semoga saja Maudy bisa kembali sehat yaa*
* Terimakasih kembali untuk doa nya*
Samuel melihat wajah ibu nya seketika panik ketika sudah membalas pesan.
" Mama kenapa seperti itu,? wajah Mama kelihatan sangat pucat sekali."
Sesilia pun sampai memegang kepala nya.
" Maudy kembali despresi dia ingin bertemu dengan Bianca, seperti ini karena Suster Vina yang mempertemukan Bianca dengan Zivanna sedangkan Mama melarang Maudy untuk bertemu dengan Bianca."
Samuel pun merasa sangat kasihan sekali ketika mendengar kabar tersebut, tapi dia semakin merasa sangat hawatir sekali dengan Bianca.
Samuel langsung menghubungi Suster Vina.
Suster Vina yang sedang menunggu Bianca keluar dari kelas dia pun langsung menjawab panggilan telephone tersebut.
* Hallo Pak Samuel*
* Suster Vina, harus lebih hati-hati yaa melindungi Bianca. Karena Maudy sekarang despresi kembali, saya hawatir Maudy membawa kabur Bianca karena Maudy despresi dia sambil memanggil nama Bianca*
* Baiklah Pak Samuel, saya akan melindungi Bianca. Jika sampai ada Bu Maudy pun saya pasti akan berusaha untuk melawan nya, Pak Samuel tenang saja yaa*
* Baguslah Suster Vina, yasudah hati-hati di sana*
* Baik Pak Samuel*
Samuel langsung terdiam dia merasa jika Maudy memang sangat berbahaya sekali.
" Harus kah Maudy di masukkan ke Rumah Sakit Jiwa, untuk sementara agar kondisi nya bisa lebih membaik tidak seperti ini sangat membuat orang-orang yang ada di sekitarnya merasa sangat ketakutan sekali."
Samuel merasa jika Maudy sampai di masukkan ke Rumah Sakit Jiwa, itu akan membuat Maudy semakin despresi di saat dia sudah sadarkan diri nya.
" Tidak akan mungkin tega Sebastian memasukkan Maudy ke Rumah Sakit Jiwa, Sebastian tidak mungkin melakukan nya."
Samuel kembali ke kursi kerjanya sedangkan Sesilia pun kembali ke ruangan nya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kabar tersebut dari Samuel, Suster Vina menjadi panik.
" Haduh aku ingin secepatnya Bianca keluar dari kelas nya, aku merasa sangat hawatir sekali."
Suster Vina merasa ketika di tunggu-tunggu lebih terasa sangat lama sekali, Suster Vina pun mencoba untuk menenangkan pikiran dan perasaan nya.
" Vina kamu harus tenang yaa, berpikir positif saja semoga Bu Maudy aman berada di dalam kamar nya dia tidak tiba-tiba saja kabur membuat khawatir kembali."
Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun pulang, Suster Vina langsung berlari menghampiri Bianca.
" Ayo sayang kita langsung pulang yaa."
Bianca merasa sangat aneh sekali ketika melihat Suster Vina yang begitu sangat terburu-buru sekali.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan Suster Vina merasa sangat tenang sekali.
" Pak jalan yaa, kita harus secepatnya sampai di rumah."
Supir pribadi tersebut menganggukkan kepalanya.
" Suster Vina, ada apa sih tidak seperti biasa nya Suster Vina bersikap seperti ini."
Bianca menatap wajah Suster Vina yang kelihatan sangat panik sekali.
" Sayang, Mama Maudy sakit kembali. Suster Vina hawatir jika sampai dia melakukan sesuatu terhadap kamu, Suster Vina tidak mau Mama Maudy membawa kamu pergi sayang."
Bianca pun langsung memeluk erat Suster Vina.
" Suster Vina, aku sangat ketakutan sekali."
Suster Vina pun mencoba untuk menenangkan Bianca walaupun dirinya pun yang memang tidak tenang.
" Pokoknya pulang sekolah kita harus langsung pulang, kita diam di dalam rumah saja yaa."
Bianca menganggukkan kepalanya dia pun sekarang mulai sangat akrab sekali dengan Suster Vina.
Mereka berdua pun akhirnya sampai di depan gerbang rumah, Suster Vina merasa sangat tenang sekali ketika dirinya sudah sampai di depan rumah.
Suster Vina membukakan pintu mobil nya, dan Bianca pun langsung berlari menuju ke kamar nya.
" Akhirnya sampai rumah dan aku merasa sangat tenang sekali."
Suster Vina menyusul Bianca yang berlari menuju ke kamar nya, Suster Vina yang membawa tas Bianca.
Ketika Suster Vina membukakan pintu kamar nya, dia melihat Bianca yang sudah membuka baju seragam nya dan mengantungkan nya kembali.
" Anak pintar, pulang sekolah langsung ganti baju seragam sendiri dan menyimpan nya."
Bianca pun tersenyum manis kepada Suster Vina.
" Aku tidak mau membuat Suster Vina kecapean mengurus ku, jadi aku harus lebih mandiri."
Suster Vina mencium kening Bianca.
" Suster Vina merasa sangat bangga sekali loh, bisa menjadi Suster nya Bianca. Bianca anak yang pintar dan sangat rajin sekali, Suster Vina sayang Bianca."
Bianca memeluk Suster Vina.
" Bianca juga sangat sayang Suster Vina, Bianca akan selalu sayang Suster Vina."
Suster Vina pun melepaskan pelukan erat nya.
__ADS_1
" Suster Vina mau bawa buah-buahan dulu ya, nanti kita mengobrol nya sambil makan buah yaa sayaang. Bianca tunggu sebentar yaa di kamar, tidak akan lama kok."
Suster Vina keluar dari kamar Bianca dia lebih memilih untuk membukakan pintu kamar nya.
Suster Vina berjalan menuju ke dapur dia berencana untuk membuatkan salt buah untuk Bianca.
" Bianca pasti sangat suka dengan salt buah-buahan ini, walaupun tidak dingin tapi pasti sangat segar untuk di makan."
Setelah selesai membuat nya, Suster Vina kembali ke kamar Bianca, dia melihat Bianca yang menunggu sambil mewarnai buku.
" Sudah datang sayang salt buah nya, ayo kita makan yaa."
Bianca menyimpan buku mewarnai nya dia pun langsung menghampiri Suster Vina.
" Ini pasti sangat enak sekali yaa, aku menyukai nya Suster Vina."
Bianca mengakui jika Suster Vina lebih pintar memasak dan membuat sesuatu untuk nya dari pada Suster Zivanna.
Tapi tetap saja Suster Zivanna selalu nomber satu di hati Bianca.
" Suster Vina sangat pintar sekali memasak dan membuat makanan cemilan untuk aku, berbeda dengan Suster Zivanna yang baru datang ke sini dia sampai tidak bisa menyalakan kompor."
Suster Vina pun tersenyum ketika mendengar perkataan Bianca tentang Suster Zivanna.
" Pantaslah Suster Zivanna tidak bisa menyalahkan kompor di dapur, karena Suster Zivanna itu seperti seorang princess di rumah nya dia terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Tapi walaupun seperti itu, Suster Zivanna itu sangat sederhana sekali, dia tidak pernah menunjukkan jika dirinya itu adalah anak dari pemilik Rumah Sakit Permata."
Bianca pun seketika dia langsung terdiam ketika mendengar cerita Suster Zivanna.
" Itu baru kekayaan dari Ayah nya, dan cobalah lihat Ibu Lollyta Putri. Dia pengusaha yang sukses sekali, mempunyai produk kecantikan sendiri tapi tetap saja Suster Zivanna dan Ibu Lollyta sangat baik dan sederhana."
Bianca pun seketika langsung membayangkan jika Suster Zivanna menjadi ibu nya.
" Jika Suster Zivanna menjadi ibu ku, apakah dia mau tinggal selama di rumah ini. Sedangkan rumah Suster Zivanna itu seperti rumah negri dongeng yaa besar lebih besar dari rumah ini loh."
Suster Vina melihat Bianca yang begitu sangat menginginkan Suster Zivanna menjadi ibu nya.
" Apa yang membuat Bianca menginginkan Suster Zivanna menjadi ibu Bianca,?"
Pernyataan Suster Vina membuat Bianca bersemangat untuk menjawab nya.
" Karena aku merasa jika Suster Zivanna itu sangat tulus mencintai ku, dia sayang sekali dengan ku dan dia juga sangat cantik sekali."
Suster Vina pun tersenyum manis ketika mendengar alasan Bianca yang menginginkan Suster Zivanna menjadi ibu nya.
" Ayo sayang kita habiskan yaa salt buah-buahan nya."
Bianca begitu sangat lahap sekali memakan salt buah-buahan tersebut membuat Suster Vina menjadi bersemangat lagi untuk selalu membuatkan makanan untuk Bianca.
Suster Vina membereskan kamar Bianca agar Bianca merasa lebih nyaman lagi untuk bermain di dalam kamar nya.
Suster Vina berdiri di depan jendela kamar Bianca, Suster Vina baru mengetahui jika dari kamar Bianca terlihat sangat jelas sekali pemandangan seluruh rumah nya.
" Terlihat sangat jelas sekali yaa kebun sayuran dan buah-buahan di pinggir rumah, juga bunga-bunga yang indah bermekaran sangat indah sekali."
Bianca yang sudah selesai menghabiskan makanan nya dia pun langsung menghampiri Suster Vina.
" Sangat indah sekali kan, aku meminta para pegawai rumah untuk menjadi kebun sayuran dan buah-buahan seperti halaman rumah Suster Zivanna."
Suster Vina melihat Bianca yang begitu sangat menginginkan Papa nya bersama dengan Suster Zivanna bukan dengan Mama nya.
Padahal Mama nya masih menginginkan untuk bisa bersama kembali dengan Papa nya, Maudy yang belum bisa menerima kenyataan jika dia yang hanya sebatas mantan istri.
__ADS_1