
Suster Diana terus mencoba untuk menghubungi nomer handphone Samuel tapi nomber handphone Samuel yang langsung tidak aktif.
" Bianca, Papa kamu tidak mau menjawab panggilan telephone dari Suster Diana. Bagaimana kamu bisa pulang ke rumah orang tua mu, nanti Suster Diana akan mencoba untuk mengirimkan pesan saja yaa sayang."
Bianca kelihatan sangat sedih, Melinda ternyata mendengar perkataan Suster Diana.
" Tidak, Belinda tidak boleh pergi dari kehidupan ku. Dia anak ku, dia tidak boleh pergi dari kehidupan ku."
Melani menghampiri Bianca, dia bersikap baik dengan Bianca.
" Bianca sayang, hari ini kita pergi yuu."
Melani mencoba untuk mendekati Bianca, tapi Bianca menghindar sambil memegang tangan Suster Diana.
Suster Diana merasa getaran tangan Bianca.
" Kita pergi untuk membeli mainan dan pakaian baru untuk kamu, kamu pasti senang."
Mendengar akan di belikan mainan Bianca langsung berubah ekpresi nya.
" Aku mau mainan tapi Suster Diana harus ikut bersama ku, aku tidak mau pergi berduaan."
Melinda mendekati Bianca kembali.
" Tidak usah dengan Suster Diana, kita berdua saja sayang."
Suster Diana merasa mencurigai Melani.
" Tapi aku ingin bersama dengan Suster Diana, aku tidak mau jauh dari Suster Diana."
__ADS_1
Melinda menarik tangan Bianca.
" Ayo cepat nanti mainan nya kehabisan."
Melinda seperti memaksa Bianca, Suster Diana mengeluarkan handphone nya dia mengirimkan pesan kepada Samuel.
* Bapak Samuel, anak perempuan bapak bersama dengan saya.*
Samuel yang sedang bersama dengan Zivanna, dia mengeluarkan handphone dan membaca pesan masuk.
" Zivanna ada yang mengirimkan pesan, dia bilang Bianca sedang bersama dengan nya."
Zivanna langsung mengambil handphone suaminya.
Dia menelephone orang yang mengirimkan pesan kepada suaminya.
* Saya Suster Diana, Bianca bersama dengan saya di sini*
* Kenapa Bianca bisa bersama dengan kamu, bagaimana ceritanya*
* Ibu Melinda menemukan Bianca, dia melihat Bianca seperti Belinda anak perempuan nya yang sudah meninggal dunia. Ibu Melinda membawa Bianca ke rumah, Bianca di perlakukan seperti Belinda*
* Kamu kirimkan alamat rumah mu lewat pesan saja yaa, saya dan suami saya akan pergi ke sana*
* Baiklah Bu*
Zivanna mengakhiri panggilan telephone nya.
" Ayo kita pergi untuk membawa Bianca pulang."
__ADS_1
Handphone Samuel bergetar alamat rumah yang sudah masuk.
Zivanna memangil Suster Vina untuk menjaga Zivilia.
" Kamu jaga baik-baik Zivilia yaa, aku mau pergi untuk menjemput Bianca."
Zivanna dan Samuel pun langsung berlari keluar rumah.
Lollyta merasa sangat terkejut sekali dia langsung masuk ke dalam kamar Zivanna.
" Suster Vina apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Zivanna dan Samuel berlarian ke luar rumah seperti itu."
Suster Vina mencoba untuk menjelaskan sambil mengendong Zivilia yang mendadak menangis.
" Mereka berdua mendapatkan pesan jika Bianca sudah ketemu, semoga saja benar dan tidak menipu."
Lollyta berharap besar Bianca ketemu.
" Buuuu, coba lihat pemberitaan di televisi. Felix di hampir di bunuh, Felix di temukan di dalam mobil nya dengan luka tusukan di bagian perut nya."
Lollyta berlari menghampiri suaminya yang sedang menonton berita.
" Astaga, siapa yang berani melakukan ini semua kepada Felix sangat jahat sekali orang itu."
Lollyta merasa tidak tega melihat Felix.
" Ayah harus segera melihat kondisi Felix sekarang, Ibu lebih baik diam di rumah saja."
Dokter Richard memilih untuk pergi sendirian, karena dia mengetahui Zivanna dan Samuel sedang menjemput Bianca.
__ADS_1