
Zivanna keluar dari kamar di saat jam makan malam, dia menghampiri kedua orang tuanya.
Dokter Richard tidak mengetahui jika Zivanna memilih untuk tinggal di rumah, Lollyta merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan Zivanna.
" Zivanna, Ayah pikir kamu memilih tinggal bersama dengan suami mu. Tapi ternyata kamu memilih tinggal di sini, Ayah lebih senang kamu tinggal di sini."
Zivanna hanya tersenyum tipis kepada Ayah.
" Makanlah yang banyak yaa, karena kamu butuh asupan makanan yang sehat dan bergizi."
Zivanna mengikuti apa yang di katakan oleh ibunya, karena dia memang ingin yang terbaik untuk kandung nya.
Melihat Zivanna yang tidak seperti biasanya, membuat Dokter Richard bertanya dengan Zivanna.
" Zivanna, kamu bertengkar dengan suami mu?."
Zivanna begitu sangat terkejut sekali mendengar pertanyaan dari Ayah nya.
" Hmmmmmm, hubungan rumah tangga ku baik-baik saja tapi tidak dengan Bianca. Ayah aku seperti nya bukan ibu sambung yang baik, aku tidak sabar menghadapi sikap Bianca yang semakin hari membuat tensi darah ku naik."
Lollyta merasa Zivanna sudah di puncak rasa sabar nya.
" Aku tidak mau membentak nya, karena dia bukan anak ku. Tapi rasanya aku sudah sangat menyerah dan putus asa, ketika Bianca menginginkan orang tuanya kembali bersama."
__ADS_1
Zivanna sampai meneteskan air mata nya, dia benar-benar sudah merasa lelah.
" Yasudah Zivanna, lebih baik kamu tinggal di sini saja. Jaga jarak mu dengan Bianca, sudah yaa sekarang kamu fokus saja dengan kehamilan mu ini."
Zivanna menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk melanjutkan makan malam nya.
" Bianca benar-benar sudah di pengaruhi oleh Maudy, karena Maudy dia masih menyimpan perasaan terhadap Samuel. Padahal Sebastian adalah lelaki yang baik, tapi ntahlah apa yang ada di pikiran Maudy."
Lollyta tidak akan pernah diam, dia ingin bertemu dengan Maudy. Jika harus memberikan uang kepada Maudy, Lollipop sanggup membayar berapapun yang penting Maudy bisa meninggalkan Samuel untuk selamanya.
Zivanna merasa nafsu makan nya berkurang, dia lebih memilih untuk menyudahi makan malam nya.
" Aku sudah sangat kenyang sekali, aku pergi ke kamar yaa."
" Zivanna, kamu harus kuat menghadapi wanita seperti Maudy. Sekarang Maudy yang sedang berada di Thailand, semoga saja niat Sebastian untuk honeymoon bisa membuat Maudy hamil. Bianca dia akan berkata apa, jika Mama juga sedang hamil."
Zivanna membaringkan tubuhnya dia mengambil handphone dan melihat ada panggilan telephone yang tidak terjawab dari suaminya.
" Suamiku, hmmmm yasudah lebih baik aku telephone saja."
Zivanna menyenderkan tubuhnya dia pun mencoba untuk menghubungi suami nya.
* Hallo Suamiku ada apa yaa*
__ADS_1
* Zivanna, kamu baik-baik saja kan? dan bagaimana dengan anak kita*
* Kita berdua baik-baik saja di sini, dan aku sudah makan banyak malam ini*
* Aku ingin sekali mengurus mu di saat kamu seperti ini, maafkan aku yaa Zivanna ini memang sangat berat sekali untuk kita jalani*
* Aku mencoba untuk kuat demi anak yang ada di dalam kandungan ku ini*
* Zivanna kamu tidak akan meninggalkan aku kan,? Kamu akan tetap menjadi istri ku*
* Kenapa kamu sampai bicara seperti itu*
* Karena Bianca dia memang keterlaluan sekali, dan aku pun merasa bersalah dengan kata-kata nya yang sama seperti Maudy*
* Sudah yaa, aku ingin istirahat yaa*
Zivanna lebih memilih untuk mengakhiri panggilan telephone nya, dia melemparkan handphone dan mematikan lampu kamar nya.
Samuel menghela nafas panjang nya, dia merasa Zivanna yang sudah sangat lelah sekali.
" Bianca, Papa yang sangat menyayangi mu. Tapi kenapa sekarang kamu tumben menjadi anak perempuan yang seperti ini, kamu tidak menghargai ibu sambung mu. Padahal dulu kamu begitu sangat sayang dengan nya, ini membuat beban untuk Papa mu."
Samuel memikirkan bagaimana kehidupan rumah tangga nya nanti, apakah Bianca akan bisa menerima kehadiran Zivanna kembali seperti dulu atau kah Bianca yang lebih memilih untuk bersama dengan Maudy.
__ADS_1