
Keesokan harinya Zivanna berniat untuk datang ke kamar Ibu nya, dia sudah sangat cantik sekali.
Zivanna keluar kamar bersama dengan suaminya, dan ternyata Bianca pun baru keluar dari kamar nya.
Zivanna memilih untuk menghindari Bianca, dia berniat untuk menjaga hati dan perasaan nya.
" Papa setelah pulang sekolah kita jadi pergi kan Pap, aku merasa sangat tidak sabar sekali."
Samuel menatap wajah Bianca dengan tersenyum.
" Kita pergi pasti yaa sayang, kamu tenang saja yaa."
Bianca kelihatan sangat senang sekali dia pun langsung memeluk erat tubuh Papa nya.
" Terimakasih banyak Papa, sangat baik sekali."
Samuel memegang tangan mungil Bianca mereka pun berjalan menuju ke meja makan.
Bianca memandangi wajah Mommy Zivanna
Zivanna yang mengetahui Bianca memandangi nya, dia memilih untuk cuek.
" Seperti nya aku berangkat sekarang yaa, agar tidak terlalu siang."
Zivanna berpamitan dengan suaminya dan mertuanya.
" Zivanna, aku ikut yaa. Aku menghawatirkan kamu di sana, aku tidak mau kamu sampai emosional."
Zivanna tersenyum manis kepada suaminya.
" Aku tidak akan emosi kok, tenang saja yaa."
Zivanna pergi dia mencoba untuk tidak emosional seperti yang di katakan oleh suaminya.
Zivanna membuka pintu mobil nya dan dia pun langsung masuk.
" Oke Zivanna, kamu harus tenang yaa jangan pernah emosional."
Zivanna merasa sangat beruntung sekali dia ketika masih ada yang mau memberikan informasi kepada nya.
" Aku merasa sangat beruntung sekali ketika masih ada orang baik, aku ingin mengenal bagaimana ekspresi Irene yang ternyata kacang lupa kulitnya."
Ketika Zivanna masih dalam perjalanan menuju ke kantor.
Irene dia sudah sampai kantor bersama dengan anak dan Suster nya, Irene benar-benar seperti anak pemilik kantor tersebut.
Wajah penguasa terlihat sangat jelas sekali, Irene masuk ke dalam ruangan yang sangat nyaman.
" Sayang kamu pasti sangat nyaman sekali yaa di sini, kamu harus betah yaa sayang kerja bersama dengan bunda di sini."
Irene merasa sangat bahagia sekali ketika dia bisa bekerja sambil membawa anak.
" Suster Novita, jaga Feerell baik-baik yaa, aku mau keluar dulu menunggu kedatangan ibu Lollyta dia pasti sangat senang sekali ketika melihat Feerell."
Irene keluar dari ruangan nya, dan pandangan mata para pegawai tertuju pada nya.
Mereka membicarakan negatif terhadap Irene yang berkuasa dan tidak tahu diri.
Irene menunggu kedatangan Ibu Lollyta dan ternyata Ibu Lollyta datang, di saat Ibu Lollyta datang ternyata mobil Zivanna ada di belakang nya.
Zivanna memilih untuk tidak keluar dari mobil nya, dia memilih memandangi Irene dan Ibu nya dari dalam mobil.
" Ibuuuu, aku menunggu dari tadi loh."
Irene terlihat sangat akrab dengan Ibu Lollyta.
" Iya sayang, kamu jadi bawah anak mu ke kantor bersama dengan Suster nya kan."
Irene mengangguk kepalanya sambil tersenyum dan Zivanna merasa benci melihat Irene yang terlalu dekat dengan ibunya.
" Aku menyesal sekali loh, ternyata pantas saja Felix membuang nya ternyata seperti itu."
Zivanna keluar dari mobil nya, dia berjalan cepat menuju ke dalam toko dan pemandangan yang sangat indah sekali.
__ADS_1
Ibu Lollyta mengendong anak Irene di depan ruangan nya
Kedatangan Zivanna membuat Irene merasa sangat terkejut sekali ketika dia berjalan menuju ke pintu ruangan nya
" Zivanna sayang, ada apa Nak kamu kembali."
Zivanna tidak menjawab pertanyaan dari ibunya dia langsung membuka ruangan nya.
Dan begitu sangat terkejut sekali Zivanna ketika dia melihat ruangan nya di sulap menjadi berbeda.
Ruangan yang seperti kamar bayi begitu sangat nyaman sekali, Zivanna pun memperhatikan sudah tidak lagi barang-barangnya di dalam ruangan itu.
" Photo ku menghilang di gantikan dengan photo nya dengan memakai mahkota di kepala nya."
Lollyta memberikan Feerell kepada Irene dia masuk ke dalam ruangan.
" Zivanna, ibu bisa menjelaskan semuanya. Irene untuk sementara saja dia berada di ruangan kamu. Karena Irene membawa bayi nya, dia butuh ruangan yang lumayan besar kasihan bayi nya."
Zivanna mengelus perut nya dan dia pun langsung keluar dari ruangan tersebut.
Zivanna memandangi wajah Irene dengan sangat sinis sekali.
" Oh seperti ini yaa sikap asli mu itu, pantas saja kamu di buang oleh orang tua mu dan di tinggalkan oleh kekasih mu ternyata seperti ini."
Perkataan Zivanna terdengar jelas oleh Lollyta.
" Zivanna jaga cara bicara mu itu perkataan mu, membuat Irene sakit hati."
Irene pun langsung menangis agar mendapatkan simpatik dari Ibu Lollyta.
" Ibu membela anak orang lain,? Ibu sudah tidak mau lagi aku menjadi anak ibu yaa. Memperlakukan anak orang lain seperti Ratu dengan pasilitas yang berlebihan seperti ini hanya karena popularitas."
Zivanna menghela nafas panjang nya.
" Mau berapa banyak uang yang ingin ibu dapatkan oleh wanita ini, ibu seperti kekurangan uang saja yaa."
Zivanna memilih untuk pergi tapi dia merasa masih ingin bicara lagi dengan Ibunya.
Zivanna membalikkan badannya.
Lollyta merasa tertampar dengan perkataan Zivanna.
Lollyta pun langsung berlari menghampiri Zivanna.
" Zivanna kenapa kamu sampai bicara seperti itu, hanya karena Irene menjadi brand ambassador produk kosmetik Ibu."
Zivanna yang mau membuka pintu mobil nya dia langsung membalikkan badannya.
" Oh ternyata sekarang Irene itu menjadi brand ambassador produk kosmetik Ibu yaa, sangat membuat aku benci."
Zivanna masuk ke dalam mobil nya dia ingin kembali ke rumah nya, Zivanna sudah terlalu pusing dengan sikap Irene yang ingin menguasai kantor Ibu nya.
Suasana berbeda terjadi pada Bianca di saat dia sedang berada di sekolah, Suster Vina yang menunggu Bianca dia melihat kehadiran Maudy dengan membawa hadiah ulang tahun untuk Bianca.
Maudy memberikan banyak hadiah untuk Bianca yang dia simpan di bagasi mobil nya.
Maudy menghampiri Suster Vina, dia duduk di samping Suster Vina.
Suster Vina memperhatikan perut besar Maudy yang semakin jelas terlihat.
" Sudah besar sekali yaa perut nya, sama seperti Ibu Zivanna."
Maudy mengelus perut besar nya.
" Iya sudah besar dan sangat tidak sabar sekali untuk segera melahirkan."
Suster Vina yang mengetahui semuanya, dia merasa tidak sabar ingin melihat proses persalinan dan bagaimana dengan Sebastian jika mengetahui bayi yang ada di dalam perut istrinya itu bukan anak nya.
Jam pulang sekolah pun berbunyi Bianca selalu saja pulang pertama karena dia selalu bisa menjawab pertanyaan dari guru nya.
Ketika sampai di gerbang sekolah, Bianca melihat Mama Maudy yang sedang menunggu nya.
Bianca pun langsung berjalan cepat menuju ke Mama Maudy.
__ADS_1
Melihat Bianca, Maudy berdiri sambil memeluk Bianca.
" Maafkan Mama yaa yang lupa dengan hari kelahiran mu, Mama sudah menyiapkan banyak hadiah untuk kamu."
Maudy memperlihatkan banyak nya hadiah yang dia simpan di dalam bagasi mobil nya.
" Terimakasih banyak Mama dengan hadiah nya yang sangat banyak sekali, aku sangat suka."
Maudy meminta bantuan Suster Vina untuk memindahkan semua hadiah tersebut dan di bantu oleh supir pribadi nya juga.
Suster Vina yang mengingat jika siang ini ada acara keluarga, dia langsung menyuruh Bianca untuk pulang.
" Bianca sayang, ayo kita cepat pulang yaa."
Bianca berpamitan dengan Mama nya.
" Mama aku pulang yaa, Papa membawa aku pergi untuk merayakan hari ulang tahun ku."
Bianca bersalaman dengan Mama nya dan dia pun langsung pergi.
Maudy merasa nyaman ingin sekali ikut dalam acara tersebut tapi itu sangat tidak mungkin sekali.
Maudy memilih untuk kembali ke kantor suaminya, dia harus menjaga ketat suaminya agar tidak di dekati oleh sekretaris muda nya.
Bianca melihat mobil nya yang penuh dengan berbagai macam kado.
" Suster Vina aku sangat senang sekali, mempunyai banyak kado."
Di perjalanan menuju ke rumah nya Bianca membuka satu persatu kado nya sampai akhir nya sampai ke rumah semua kado sudah terbuka semuanya.
Suster Vina meminta bantuan para pegawai yang ada di sekitar depan rumah untuk membawa kan isi kado ke dalam kamar Bianca.
Bianca kelihatan sangat senang sekali, dia langsung berlari menuju ke kamar nya.
Di saat Suster Vina hendak masuk ke dalam rumah, dia melihat mobil Zivanna datang.
Zivanna keluar dari mobil nya sambil memegang kepalanya.
" Astaga sepertinya sedang terjadi sesuatu dengan Zivanna, tidak jangan sampai Zivanna pingsan."
Suster Vina berlari menghampiri Zivanna.
" Kamu baik-baik saja kan, ayo kita duduk dulu yaa."
Zivanna mengikuti apa yang di katakan oleh Suster Vina.
" Aku merasa sangat emosional sekali, dan menyesal telah membantu Irene."
Zivanna sampai menghelakan nafas panjang nya dia benar-benar merasa sangat kecewa sekali.
" Irene memakai ruangan ku, tidak ada satu barang ku di ruangan itu. Dia juga membaca bayi nya untuk bekerja, dan yang membuat aku sakit hati adalah sudah tidak ada lagi photo ku di kantor ibu."
Suster Vina merasa ikut emosi mendengar nya.
" Lalu bagaimana dengan Ibu Lollyta, apakah dia hanya diam saja dengan Irene yang seperti Ratu penguasa di kantor mu."
Zivanna memegang kepalanya kembali.
" Ibu hanya diam saja, ibu mengikuti keinginan Irene karena mungkin Irene menghasilkan uang yang banyak untuk ibu."
Suster Vina mencoba untuk menenangkan perasaan Zivanna.
" Zivanna kamu sabar yaa, sudahlah jangan memikirkan tentang Irene. Sekarang lebih baik kamu fokus saja pada proses persalinan mu yaa, sudahlah biarkan saja Irene itu."
Zivanna tersenyum manis kepada Suster Vina.
" Sepertinya aku tidak akan ikut, aku ingin istirahat saja di kamar."
Suster Vina mengantarkan Zivanna sampai di depan pintu kamar nya, Suster Vina kembali di saat Zivanna memilih untuk beristirahat.
" Gemas sekali yaa, aku mendengar cerita tentang Irene itu."
Suster Vina berlari menuju ke kamar Bianca, dia menutup rapat pintu kamar Bianca.
__ADS_1
" Suster Vina kenapa,? Seperti terburu-buru sekali."
Suster Vina mengabaikan pertanyaan Bianca, dia ingin fokus melihat akun media sosial milik Irene yang sedang banyak di sukai oleh orang-orang.