
Irene terus saja memikirkan apa yang sudah di perbuat oleh Maudy kepada nya, di sepanjang perjalanan menuju ke rumah nya Irene kelihatan melamun.
Sebastian yang memperhatikan Irene dia merasa kasihan dengan nya, karena semua ini karena dirinya.
" Irene, pergi menjauh dari ku. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan mu, Maudy dia sangat licik sekali jika sudah merasa dendam dengan seorang."
Irene hanya bisa terdiam saja karena dia yang menyimpan perasaan terhadap Sebastian.
" Mobil mu di taburi bunga melati, di pasang bendera kuning dan ternyata rem mobil mu di buat tidak berfungsi."
Sebastian sampai dia dengan pintu gerbang dia mengantarkan Maudy sampai di depan pintu rumah nya.
Wendy yang merupakan Mama dari Irene dia memperhatikan Sebastian, Sebastian kelihatan begitu sangat perhatian sekali dengan Irene.
" Dia lelaki yang baik, pantas saja Irene menyukai nya. Tapi dia masih mempunyai istri, aku tidak mau Irene kembali menjadi pembahasan menjadi seorang pelakor."
Wendy menghampiri mobil Sebastian.
" Irene di mana mobil mu,? Kenapa kamu bisa bersama dengan Sebastian."
Sebastian memperhatikan wajah Irene.
" Hmmmm, mobil ku mogok jadi aku meminta bantuan kepada Pak Sebastian untuk mengantarkan aku ke rumah."
Wendy mengetahui mobil Irene, tidak mungkin mobil Irene sampai mogok.
" Yasudah masuk lah, Mama ingin bicara dengan Sebastian."
__ADS_1
Irene dan Suster nya masuk ke dalam sambil mengendong Feerell, Irene membalikkan badannya dia ingin sekali mengetahui apa yang ingin di bicarakan oleh Mama nya.
" Duduklah Sebastian."
Sebastian mengikuti keinginan Wendy.
" Bagaimana hubungan mu dengan istri mu, Irene pernah di permalukan oleh istri mu sampai dia kehilangan pekerjaan."
Sebastian mencoba untuk jujur di hadapan Wendy.
" Saya sudah tidak punya perasaan terhadap Maudy, dia berselingkuh sampai melahirkan anak laki-laki yang mungkin satu Ayah dengan anak Irene. Maudy depresi, saya memilih untuk membawa Maudy ke rumah sakit jiwa tapi ternyata orang tua membawa Maudy pulang ke rumah nya."
Sebastian menahan rasa sedihnya.
" Maudy memutar cerita yang baru sehingga saya di pandang negatif oleh orang tua Maudy."
Mendengar perkataan jujur Sebastian, Wendy merasa mulai menyimpan simpatik terhadap Sebastian.
Sebastian merasa ingin pertanyaan yang sangat berat sekali untuk di jawab, di saat permasalahan nya dengan Maudy belum selesai.
" Saya takut jika saya dekat dengan Irene sekarang, Maudy melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan untuk Irene. Saya ingin menjaga Irene, saya tidak mau Irene tersakiti hanya karena ingin bersama dengan saya."
Wendy terdiam mendengar perkataan Sebastian.
" Irene cantik dia juga masih muda, saya tidak bisa berbohong jika dia memang sangat menarik perhatian. Saya ingin dekat dengan Irene, di saat permasalahan saya sudah selesai setelah itu saya ingin serius dengan Irene."
Wendy tersenyum tipis ketika mendengar perkataan Sebastian.
__ADS_1
" Jadi kamu juga mempunyai perasaan terhadap Irene, bukan karena hanya pelampiasan saja kan?."
Sebastian menggelengkan kepalanya.
" Jika seperti itu kamu saya restui untuk bisa bersama dengan Irene, sekarang selesaikan urusan mu dengan istri mu."
Sebastian berdiri dari tempat duduk nya.
" Saya pamit pulang dulu Bu."
Sebastian bersamalam dengan Wendy.
" Hati-hati di jalan yaa, kamu harus selalu waspada."
Sebastian tersenyum dia melihat Irene yang memperhatikan nya dari jendela kamar nya.
Sebastian melambaikan tangan nya sambil tersenyum manis kepada Irene.
Irene pun membalas lambaian tangan Sebastian sambil tersenyum juga.
" Apa yang sudah di bicarakan mereka berdua yaa, apakah Mama melarang Sebastian mendekati ku."
Irene keluar dari kamar nya dia mencoba untuk bertanya kepada Mama nya.
" Apa yang kalian berdua bicarakan,?"
Irene semakin mendekati Mama nya.
__ADS_1
" Irene, kamu harus bisa menjaga jarak dengan Sebastian karena dia masih berstatus suami orang lain."
Wendy meninggalkan Irene setelah berkata seperti itu kepada Irene.