
Keesokan harinya tanpa di suruh oleh Maudy, Suster Vina sudah berada di luar pintu keluar nya dengan membawa koper nya.
Maudy dan suaminya keluar dari kamar nya dan melihat Suster Vina yang ternyata sudah siap untuk pergi.
" Suster Vina, mau ke mana bawa koper seperti ini. Apakah Suster Vina di usir oleh Bu Maudy,? Kenapa harus pergi."
Suster Vina hanya menundukkan kepalanya saja dan Sebastian melirikan mata nya kepada Maudy.
" Aku tidak mengusir nya, walaupun aku yang sudah sehat tidak despresi lagi. Pagi ini aku akan membawa Suster Vina untuk bertemu dengan Bianca, karena aku merasa Suster Vina bisa mengurus Bianca dengan baik."
Sebastian melihat penampilan Maudy yang tidak seperti biasa nya, dia terlihat lebih seksi dan make up yang menunjukkan wajah kelihatan lebih muda.
" Bukan kah ada Suster Zivanna di sana, Maudy sudahlah jangan berbuat hal-hal yang membuat keributan. Tidak bisakah kamu membuat orang lain tenang, Bianca yang sudah nyaman sekali Suster Zivanna tidak usah di pisahkan."
Tidak mau banyak bicara dengan suaminya, Maudy pun memberikan foto-foto kebersamaan Zivanna dengan Dokter Richard kepada suaminya.
" Ayo Suster Vina, kita berangkat aku sudah tidak sabar sekali untuk bisa bertemu dengan Bianca."
Maudy sampai menarik tangan Suster Vina, dan Sebastian merasa tidak percaya dengan foto-foto yang sudah di berikan oleh Maudy Kepada nya.
" Ini tidak mungkin terjadi, aku tidak percaya dengan semua ini. Tidak mungkin Dokter Richard berselingkuh sedang Istri itu sangat cantik sekali, aku merasa ini seperti kesalahpahaman saja."
Sebastian lebih memilih untuk merobek foto-foto tersebut, agar tidak ada orang yang melihatnya.
Sebastian melihat Maudy yang mengajak Suster Vina untuk makan bersama dengan nya di meja makan, terlihat sangat jelas wajah Suster Vina yang seperti tidak menyukai sikap Maudy.
Sebastian pun hanya duduk dan Maudy mengambilkan sarapannya pagi untuk nya.
" Makan yang banyak ya suamiku, hari ini aku sangat bahagia sekali karena bisa bertemu dengan Bianca tanpa harus bertengkar karena aku sudah membicarakan hal ini dengan Mama Sesilia."
Maudy tidak mau suaminya mencurigai nya, jika sebenarnya Maudy yang lebih menginginkan bertemu dengan Samuel mantan suaminya.
" Semoga semua nya baik-baik saja."
Sebastian merasa Bianca yang tidak akan bisa menerima kehadiran Suster Vina secara langsung.
" Semuanya akan baik-baik saja, ketika seorang anak bertemu dengan Ibu kandung nya."
Maudy kelihatan sangat lahap sekali tapi tidak untuk Suster Vina, dia merasa lebih baik kembali ke Rumah Sakit saja.
" Suster Vina, keluarga Samuel sangat baik sekali jadi kamu tidak usah hawatir yaa."
Suster Vina hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
" Yasudah lebih baik sekarang kita berangkat yaa, walaupun aku tahu Bianca pasti tidak akan sekolah."
Maudy berpamitan pergi kepada suaminya, dan mereka berdua pun berjalan menuju ke mobil.
Maudy memasukkan koper ke dalam bagasi.
" Suster Vina duduk di depan yaa, saya tidak ada teman untuk mengobrol nanti di jalan."
Suster Vina mengikuti apa yang di katakan oleh Maudy, dia pun duduk di kursi depan.
Maudy pun langsung menyalakan mesin mobil nya, Maudy seperti ingin secepatnya nya sampai.
Suster Vina mengeluarkan handphone dia ingin mengirimkan pesan kepada Suster Zivanna.
* Suster Zivanna sekarang aku baru saja berangkat untuk bertemu dengan Bianca, semoga semua nya baik-baik saja*
Zivanna yang baru saja terbangun dari tidurnya dia pun langsung membalas pesan dari Suster Vina.
* Semuanya akan baik-baik saja karena kamu adalah orang yang baik, lebih baik panggilan Zivanna saja yaa dan aku juga panggilan kamu Vina*
* Baiklah Zivanna*
Zivanna menyimpan handphone nya dia ingin langsung mandi dan mengetahui apa yang akan terjadi di dalam rumah itu.
Vina dengan berhati-hati dalam berkomunikasi dengan Zivanna, dia menghapus percakapan mereka berdua dan juga mengganti nama kontak Zivanna dengan Anna.
Maudy memperhatikan Vina yang begitu sangat fokus pada handphone nya.
__ADS_1
" Nanti di saat kamu menjadi Suster nya Bianca, kamu harus lebih fokus pada Bianca yaa. Jangan fokus pada handphone, karena aku ingin kamu menjaga anak kesayangan ku dengan baik."
Vania tersenyum tipis kepada Maudy.
" Maafkan saya Bu Maudy, saya akan fokus pada Bianca."
Maudy akhirnya sampai di depan gerbang rumah Samuel, Maudy tidak masuk ke dalam dia takut mendapatkan penolakan terhadap dirinya.
" Lebih baik aku menghubungi Mama Sesilia dulu, semoga saja dia belum berenhjs ke kantor."
Handphone Sesilia berdering kencang di meja makan, Bianca melarang Papa dan Omah nya bekerja.
Sehingga Samuel pun belum bisa bersiap-siap pergi ke kantor, karena terus saja di peluk oleh Bianca.
* Hallo*
* Hallo Mama Sesilia, aku Maudy sekarang sudah sampai di depan gerbang rumah bersama dengan Suster Vina yang akan masuk ke dalam tapi aku tidak berani*
* Baiklah aku sekarang ke sana*
Sesilia mengakhiri panggilan telephone dan Bianca pun masih saja memeluk erat Papa nya.
" Siapa yang akan datang Pap, apakah Suster Zivanna yaa Pap."
Bianca melepaskan pelukan erat nya dia merasa sangat penasaran sekali siapa yang datang.
Samuel memegang tangan Bianca agar mereka berdua menunggu di ruang tamu bersama.
" Sini sayang dulu di sini dengan Papa."
Samuel merasa sangat kasihan sekali melihat Bianca yang terus-menerus menangis kehilangan Suster Zivanna.
Sesilia pun menyuruh satpam untuk membuka gerbang agar mempersilahkan mobil Maudy masuk ke dalam.
Maudy pun dengan senyuman manis nya akhirnya dia bisa masuk kembali ke dalam rumah itu.
Super Vina melihat rumah yang sangat besar sekali dengan banyak bunga-bunga dan tanaman yang lain nya.
Ucap Suster Vina sambil tersenyum melihat pemandangan di sekitar rumah tersebut.
" Ya, memang rumah yang sangat indah sekali. Banyak kenangan indah aku bersama dengan Samuel di sini yang tidak bisa aku lupakan, dan sekarang akhirnya aku bisa masuk kembali ke rumah ini."
Maudy pun membuka pintu mobil nya dan Suster Vina keluar dari mobil tersebut.
Sesilia memperhatikan wajah dan penampilan Suster Vina.
" Seperti nya kamu seumuran dengan Zivanna, kamu harus bisa merawat anak usia 5 tahun yaa. Aku berharap kamu bisa lebih baik dari Zivanna, walaupun mungkin aku rasa itu tidak mungkin karena Zivanna dan Bianca itu seperti ibu dan anak."
Suster Vina hanya bisa menundukkan kepalanya dan Sesilia pun menarik tangan Suster Vina untuk masuk ke dalam bertemu dengan Bianca.
Maudy mengikuti Sesilia dari belakang, dan Sesilia membalikkan badannya.
" Tugas mu sudah selesai untuk apa kamu ingin masuk ke dalam rumah, bukan kamu dulu memilih untuk keluar dari rumah ini."
Sesilia membuat Maudy terdiam dan tiba-tiba saja pintu terbuka Bianca yang membuka pintu tersebut.
Bianca melihat wajah Maudy dia pun langsung menutup kembali pintu tersebut, padahal Maudy sudah tersenyum manis kepada Bianca.
" Sudah ku bilang pergilah, Bianca tidak menginginkan kehadiran mu."
Sesilia seperti mengusir Maudy, perkataan Sesilia membuat Maudy pergi masuk ke dalam mobil nya.
Sesilia pun masuk ke dalam rumah nya bersama dengan Suster Vina.
" Ahhhh, sialan sekali. Kenapa semua tidak seperti yang aku bayangkan, aku hanya bisa masuk dalam gerbang saja tidak ke dalam rumah."
Sesilia dengan penuh emosi dia pun langsung pergi begitu saja dari rumah tersebut dengan marah-marah di dalam mobil.
Bianca memeluk erat tubuh Papa nya, dan Samuel melihat Mama nya membawa Suster baru untuk Bianca.
" Kenapa Omah membiarkan Mama masuk ke rumah ini, aku tidak suka melihat Mama."
__ADS_1
Bianca marah besar kepada Omah nya.
" Tidak sayang Mama Maudy tidak masuk ke rumah ini, Mama Maudy sudah Omah usir. Mama Maudy hanya mengantarkan Suster Vina ke sini, untuk menemani Bianca di saat Suster Zivanna belum kembali."
Suster Vina pun mencoba untuk mendekatkan diri nya kepada Bianca.
" Hallo sayang perkenalkan nama Suster Stevina, Bianca bisa memanggil Suster Vina."
Bianca hanya terdiam saja dia tetap hanya menginginkan Suster Zivanna, Bianca belum bisa menerima kehadiran Suster yang baru.
" Suster Vina teman dekat Suster Zivanna, jadi Bianca bisa mengobrol tentang Suster Zivanna. Atau Suster Vina bisa menceritakan semua tentang Suster Zivanna, Suster Zivanna adalah Suster terbaik."
Mendengar Suster Vina mengenal Suster Zivanna membuat Bianca melepaskan pelukan erat nya dari Papa nya.
" Benarkah Suster Zivanna mengenal Suster Vina, aku merasa tidak percaya."
Suster Vina mengeluarkan handphone dan dia mencoba untuk panggilan video call dengan Suster Zivanna.
Zivanna yang sedang berada di dalam rumah dia pun langsung berlari ke luar rumah, Zivanna memilih untuk menjawab panggilan video call tersebut di pinggir rumah nya dengan pemandangan bunga-bunga.
Karena Zivanna mengetahui Suster Vina yang sudah sampai di rumah Bianca.
* Hallo Suster Zivanna, aku sangat merindukan sekali Suster Zivanna*
Bianca langsung menangis ketika dia video call bersama dengan Suster Zivanna.
Samuel dan Sesilia yang merasa tidak tega mereka berdua pun memilih untuk pergi meninggalkan Bianca dengan Suster Vina.
* Suster Zivanna juga sangat merindukan Bianca, sekarang Bianca baik-baik yaa bersama dengan Suster Vina. Karena Suster Vina itu sangat baik sekali dengan Bianca, Suster Zivanna harus bertugas kembali ke Rumah Sakit*
* Tapi many kita akan bertemu kan Suster Zivanna, aku sangat merindukan Suster Zivanna*
* Nanti jika Suster Zivanna libur di Rumah Sakit, kita bertiga akan bertemu yaa sayaaaaang*
* Benarkah itu Suster Zivanna*
* Iya sayang, seminggu sekali kita akan bersama yaa. Sekarang Bianca harus bisa menerima kehadiran Suster Vina ya, karena Suster Vina baik sekali. Bianca tidak boleh menangis lagi yaa sayang harus janji dengan Suster Zivanna*
* Iya Suster Zivanna, aku tidak akan menangis lagi*
* Yasudah yaa sayang sekarang Suster Zivanna harus segera pergi dari Rumah Sakit*
Zivanna seketika menangis tiada henti dia merasa sangat sakit sekali ketika dia harus melihat Bianca bersama dengan orang lain.
" Apakah ini juga yang di rasakan oleh Maudy, sesakit ini melihat anak yang kita sayangi bersama dengan orang lain. Tapi beda nya Maudy dia memang lebih memilih untuk meninggalkan secara sadar, sedangkan aku meninggalkan secara terpaksa. Bianca sayang Suster Zivanna rindu sekali, Suster Zivanna sudah tidak bisa kembali ke sana."
Zivanna terus-menerus menangis sedangkan Lollyta mencari keberadaan Zivanna yang tiba-tiba saja lari dari dalam ketika mereka berdua sedang sarapan pagi.
" Kemana yaa pergi nya Zivanna, dia benar-benar membuat aku kaget sekali."
Lollyta mendengar ada suara tangisan dan dia pun yakin jika itu adalah suara Zivanna.
" Zivanna sedang apa kamu di sana, menangis lagi menagis terus."
Zivanna memeluk erat tubuh Ibunya.
" Tadi aku sudah melakukan panggilan video call dengan Bianca, dan aku merasa sangat sedih sekali Buuu. Sekarang Bianca bersama dengan Suster yang lain, yang mengantikan aku."
Lollyta sudah tidak tahu harus berkata apalagi kepada Zivanna, Lollyta merasa Zivanna lebih berlebih-lebihan dari pada Maudy.
" Maudy saja ibu kandung nya tidak seperti kamu, yang terus-menerus menagis seperti ini. Cepat cuci muka bermake-up kembali ikut dengan Ibu ke kantor, kita lakukan pemotretan selanjutnya."
Lollyta tidak peduli dengan Maudy, karena hasil pemotretan Zivanna jumlah terjual sangat banyak sekali, bahkan lebih banyak dari produk yang memakai photo Maudy.
Zivanna pun mengikuti apa yang di katakan oleh Ibunya, dia memilih untuk cuci muka saja untuk makeup dia lakukan di dalam mobil.
Zivanna kelihatan sangat bersemangat sekali.
" Aku sangat bersemangat sekali karena akan bertemu dengan musuh ku yang tersayang, yaitu Maudy Larissa yang membuat ku berpisah dengan Bianca."
Lollyta melihat Zivanna yang begitu sangat emosional sekali, Lollyta pun lebih membiarkan jika mereka berdua sampai bertengkar di dalam kantor.
__ADS_1