
Di abaikan oleh Irene, Felix memberanikan diri untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
" Daripada aku harus menikah dengan Maudy, aku sama sekali tidak mempunyai perasaan terhadap nya. Apa yang aku lakukan dengan nya, itu hanya cinta satu malam saja."
Felix keluar dari kamar nya, sekarang Felix lebih sering berada di rumah dari pada di luar rumah bersama dengan teman-teman nya.
Semenjak sudah mengetahui mempunyai dua anak dari wanita berbeda, membuat Felix tidak mau lagi bermain cinta.
" Felix kamu mau pergi ke kantor se pagi ini,? biasanya kamu pergi ke kamar di saat jam 8 pas."
Felix duduk di samping Mama nya.
" Hari ini aku ingin bertemu dengan orang tua Irene, aku ingin menikah dengan Irene."
Kedua orang tua merasa kagum dengan Felix.
" Pergilah, bicara dengan baik dengan keluarga Irene. Anak lelaki mu begitu sangat tampan sekali, dia sangat mirip dengan mu."
Felix pun langsung pergi dia berharap orang tua Irene mau menerima kehadiran nya.
Felix masuk ke dalam mobil nya, dia menjalankan mesin mobil nya dan fokus pada kendaraan nya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Felix sampai di depan perusahaan milik orang tua Irene.
" Perusahaan yang lumayan sukses dan sangat besar, kenapa aku dulu begitu sangat bodoh sekali tidak mau bersama dengan Irene."
Felix keluar dari mobil nya, dia masuk ke dalam dan meminta satpam untuk mengantarkan nya ke ruangan orang tua Irene.
Orang tua Irene bekerja sama di satu perusahaan, sehingga Felix bisa langsung bertemu dengan Ayah dan Ibu nya.
Felix mengetuk pintu ruangan tersebut, dan dia di persilahkan untuk masuk ke dalam.
Felix sedikit menundukkan kepalanya dia merasa sangat deg-degan sekali.
" Felix Felio,? benarkah itu adalah nama mu."
Felix menganggukkan kepalanya tapi dia tidak berani menatap wajah orang tua Irene.
" Kamu yang menghamili Irene,? Kamu yang meminta Irene untuk menggugurkan kandungan dan lepas tanggung jawab. Tapi cobalah kamu lihat anak lelaki mu yang sangat tampan sekali, dan juga mirip sekali dengan mu."
Felix masih saja terdiam karena dia memang salah.
" Apa mungkin kedatangan mu ke Felix,?"
Felix mulai memberanikan diri untuk bicara di depan orang tua Irene.
" Saya ingin meminta maaf, saya sangat menyesal sekali dengan apa yang sudah saya lakukan kepada Irene. Sekarang saya ingin bertanggung jawab atas semua perbuatan saya. Saya ini menikah dengan Irene, saya ingin berumah tangga bersama dengan Irene."
Felix sampai memejamkan mata nya dia begitu sangat bersungguh-sungguh dalam berbicara.
" Apa alasan kamu ingin bertanggung jawab atas semua nya,? Kenapa kamu ingin bertanggung jawab sekarang kenapa tidak dari dulu saja."
Ayah Irene mulai terbawa emosi dengan Felix.
" Saya mengakui jika saya bukan lelaki yang baik, tapi sekarang saya akan berusaha demi Irene dan anak lelaki saya."
Ayah Irene mengambil handphone nya, dia mencoba untuk mengetahui Irene.
Irene yang sedang sibuk dengan anak nya dia mendengar suara handphone nya berdering.
" Suster tolong jaga dulu yaa, saya mau mengalami handphone saya."
Irene berlari mengambil handphone nya, dia melihat panggilan telephone masuk dari Ayah nya.
" Ayah, ada apa yaa."
Irene langsung menjawab panggilan telephone tersebut.
* Hallo Ayah ada apa*
* Irene bisakah kamu datang ke kantor Ayah Sekarang juga*
__ADS_1
* Ada apa ya Ayah, aku malas sekali Ayah*
* Ada Felix di kantor Ayah*
* Hah Felix, untuk apa di ada di sana*
* Sudahlah jangan terlalu banyak bertanya, cepat datang sekarang juga*
* Baiklah Ayah*
Irene menyimpan handphone nya.
" Felix dia benar-benar membuat aku marah yaa, dia berani sekali datang ke kantor Ayah."
Irene mengetahui apa maksud dari kedatangan Felix.
Dia pun langsung segera pergi ke kantor Ayah nya.
" Sampai kapan pun aku tidak mau bersama dengan Felix, dia sudah mempunyai anak dari perempuan lain."
Irene masuk ke dalam mobil nya dia menyalakan mesin mobil dia ingin secepatnya sampai di kantor Ayah nya.
Felix duduk dia harus menunggu Irene.
" Hanya Irene yang bisa menjawab semuanya, Irene yang akan menjalani kehidupan bersama dengan mu bukan kami sebagai orang tua nya. Kebahagiaan Irene adalah kebahagiaan kami juga, jika Irene tidak mau bersama dengan mu silahkan pergi dari kantor ini."
Felix sudah berpikiran negatif terhadap Irene yang tidak mungkin mau bersama dengan nya.
Irene pun akhirnya datang dia membuka pintu dan melihat Felix.
" Aku tidak mau menikah dengan mu Felix, aku sudah tahu maksud kedatangan mu ke sini."
Dengan penuh emosi Irene menghampiri Felix.
" Aku minta maaf atas segala nya Irene, aku janji aku akan berubah aku akan fokus pada keluarga kita berdua."
Irene tersenyum tipis ketika mendengar perkataan Felix.
Irene sampai berteriak kencang ketika mengatakan hal tersebut.
" Kamu sudah tidak bisa lagi berkata apapun, aku sudah melihat hasil tes DNA. Dan sekarang kamu tahu kondisi Maudy seperti apa,? Maudy depresi dia tidak mau berpisah dengan suaminya, dia juga tidak mau mengakui bayi nya yang baru lahir."
Felix tidak menyangka jika Maudy sampai seperti itu.
" Jika kamu ingin bertanggung jawab atas segala yang sudah kamu lakukan, lebih baik kamu nikah saja dengan Maudy karena suami tidak mau melanjutkan kehidupan bersama dengan wanita yang sudah tidur dengan lelaki lain apalagi sampai hamil."
Felix merasa dia sudah tidak berarti berada di kantor tersebut, dia hanya di permalukan oleh Irene di depan orang tua nya saja.
" Sekarang pergi, temui Maudy dan bawa anak lelaki mu itu jika kamu ingin bertanggung jawab."
Felix yang merasa sudah tidak di hargai dan di permalukan dia langsung pergi dari kantor tersebut.
Felix sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Irene.
Irene pun seketika dia langsung menangis dia merasa jadi korban Felix.
" Aku benci Felix, aku tidak perlu suami seperti Felix. Aku bisa menjadi singel mother, aku tidak perlu kehadiran Felix, dia sangat jahat sekali."
Kedua orang tua Irene mencoba untuk menenangkan perasaan Irene.
" Sudah yaa Irene, kamu kuat kamu hebat yaa, sudah yaa jangan menangis lagi."
Irene pun langsung terdiam ibu nya memberikan tissue untuk Irene.
Di saat Irene sedang sedih, Zivanna selalu bahagia di setiap hari-hari nya bersama dengan Baby Zivilia.
Zivanna menghabiskan hari-hari di rumah saja, sedikit pun dia tidak memikirkan untuk bisa bekerja kembali.
Sesilia membawa teh manis hangat untuk Zivanna, Sesilia bisa di bilang sebagai Mama mertua yang baik untuk Zivanna.
" Zivanna minum teh manis hangat ini yaa."
__ADS_1
Zivanna langsung meminumnya.
" Terimakasih banyak Mama."
Zivanna menidurkan Baby Zivilia.
" Mama, bagaimana dengan perasaan Bianca jika sampai dia mengetahui Mama kembali depresi aku merasa kasihan dengan Bianca."
Sesilia pun memikirkan hal tersebut.
" Maudy sekarang sedang menanggung kesalahannya sendiri, dia tidak bersyukur mendapatkan suami seperti Sebastian yang sangat cinta kepada tapi Maudy malah bermain api."
Zivanna pun tidak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang di lakukan oleh Maudy.
" Aku tidak menyangka ku pikir Maudy itu akan berhasil mendapatkan kembali Mas Samuel, tapi ternyata dia terperangkap dalam cinta seorang lelaki yang lebih muda dari umur nya."
Sesilia memegang tangan Zivanna.
" Mama tidak akan pernah membiarkan Maudy kembali hadir dalam rumah tangga mu dengan Samuel, Mama pasti akan ikut campur jika Maudy ingin bersama dengan Samuel. Mama sangat sayang kepada mu Zivanna, kamu bukan menantu Mama tapi ini adalah anak Mama."
Zivanna merasa sangat beruntung sekali mendapatkan Mama mertua seperti Sesilia.
Di tempat yang lain di sekolah Bianca, Bianca keluar dari gerbang dia berjalan lemas menuju ke Suster Vina.
" Bianca, kamu kenapa sayang? kamu seperti lemas seperti ini."
Suster Vina memeriksa suhu tubuh Bianca.
" Astaga Bianca kamu demam sayang, bagaimana yaa ini."
Suster Vina membawa Bianca ke dalam mobil.
" Sebentar yaa sayang, Suster Vina mau menelephone Omah dulu yaa."
Suster Vina mencoba untuk menghubungi nomer handphone Omah Sesilia.
Omah Sesilia yang sedang mengobrol dengan Zivanna dia mengambil handphone nya berdering.
" Sebentar yaa Zivanna, Suster Vina menelephone."
Di saat Mama Sesilia sedang menelephone, Zivanna memindahkan baby Zivilia ke dalam kamar nya.
* Hallo Suster Vina*
* Bu Sesilia, Bianca pulang sekolah dia merasa sangat lemas sekali*
* Yasudah kamu langsung bawa saja yaa ke Rumah Sakit Permata yaa, nanti saya ke sana*
* Baiklah Ibu Sesilia*
Sesilia tidak memberitahu Zivanna dia langsung pergi ke Rumah Sakit Permata.
Suster Vina terus saja memegang tangan Bianca.
" Sabar yaa sayang, sebentar lagi kita sampai yaa."
Suster Vina menyuruh supir nya untuk mempercepat mobil nya, karena melihat Bianca yang sudah sangat lemah.
Akhirnya sampai di Rumah Sakit Permata, Bianca pun langsung di periksa oleh pihak medis.
Suster Vina menuggu Bianca, tiba-tiba saja Suster Vina teringat jika Maudy yang juga sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit yang sama.
Suster Vina berharap Bianca tidak bertemu dengan Mama yang dalam keadaan seperti itu.
Sesilia akhirnya sampai dia pun langsung mencari Suster Vina, Sesilia akhirnya bertemu dengan Suster Vina.
" Ibu Sesilia, bisakah menuggu Bianca sendiri. Saya ingin melihat kondisi Ibu Maudy, saya merasa penasaran dengan Ibu Maudy."
Sesilia pun mengijinkan Suster Vina untuk melihat kondisi Maudy.
Sesilia merasa sangat hawatir sekali dia takut Bianca sampai ingin melihat Mama nya, karena Bianca mengetahui jika Maudy di rawat di Rumah Sakit yang sama dengan nya.
__ADS_1