
#Istriku_kumel
#Bab_11
Saat mata ini mulai terpejam.
"Mba, akhirnya mba sadar juga." ucap pria berkulit putih dan berwajah tirus itu.
"Aw, sakit kepalaku."
Kepala ini masih terasa sakit.
"Mba, jangan dulu duduk, berbaring saja dulu." ucap pria berseragam putih itu, aku tidak mengenal siapa dokter yang memeriksaku, penglihatanku masih samar.
"Dimana aku ini? Kamu siapa?" Tanyaku kepada sang dokter yang terseyum manis dihadapanku.
"Aku, Al, mba." ucapnya meraih tanggan kanan ku.
"Al, sejak kapan mba ada di sini?" Tanyaku cemas, sembari menayakan Dodi anakku ada dimana.
"Tenang mba, mba, sekarang ada di rumah sakit, Dodi sudah di titipkan di ruang penitipan anak." ucapnya menenangkan keresahanku.
"Kenapa dengan mba, Al?" Tanyaku kepada pria yang menjadi sepupuku, ku lihat Alan, hanya terdiam, dan seperti enggan berkata apa-apa.
"Sudah, lebih baik mba dirawat dulu di rumah sakit ya, selama 3 hari ini saja." ucap Alan, aku sedikit curiga dengan sepupuku ini seperti dia menyembunyikan sesuatu dariku.
"Ga bisa, mba harus pulang, Mas Rudi pasti menunggu mba." jawabku sembari memohon agar Alan mengantarkan aku pulang.
"Ta-pi ..."
"Kalau tidak, mba akan pulang sendiri." ucapku memotong perkataan Alan, dan segera melepaskan jarum infusan yang ada di tanganku.
"Oke, oke, aku antarkan Mba, ta-pi ada syaratnya." ucap Alan menghentikan pegerakan badanku dengan kedua tanggannya.
"Apa syaratnya?" ucapku menatap lekat pria berseragam putih itu.
"Mba, harus sering ikut kontrol ke rumah sakit ini, denganku! gimana?" jawabanya membuat aku semakin bertanya-tanya, bukanya tadi dia bilang, aku enggak kenapa-kenapa.
"Jadi selama ini, Mba sakit? Coba jelaskan mba sakit apa?" ku tarik kerah baju Alan hingga wajahnya berhadapan denganku, tatapan kami beradu, membuat nyali Alan menciut di buatku.
"Maafkan Al, mba, sebenarnya dalam pemeriksaan tadi, Al meyakinkan bahwa sudah ada tumor yang menjalar di otak mba." ucapnya membuat aku terhentak kaget, terdiam pilu, memang sudah lama aku merasakan sakit di kepalaku, sampai, beberapa obat yang aku konsumsi tapi tidak menghasilkan apa-apa.
Air mataku sudah tidak bisa terbendung lagi.
Alan memeluku, menenangkan rasa ketidak percayaan hati ini bahwa aku, terkena tumor otak.
Seketika Alan melepaskan pelukanya, dan memegang kedua pundakku.
"Mba, liat Al, tidak ada yang tidak mungkin, dengan namanya penyakit, yakinlah mba pasti bisa sembuh." ucap Alan, sembari mengusap air mata yang tiada henti terjatuh.
Aku hanya mengangguk pasrah mendengar tutur kata, sepupuku.
__ADS_1
"Sekarang kita pulang dan ceritakan semua masalah yang mba hadapi saat ini, kepada Mas Rudi." ucap Alan, sembari meraih tanganku, mengajak aku untuk berdiri.
"Sebaiknya jangan Al, mba takut Mas Rudi akan sedih mendengar semua ini, mba gak mau Mas Rudi terbebani oleh penyakit mba saat ini."
Aku berusaha berbicara dengan Alan, agar dia tidak membeberkan masalah tentang penyakit yang aku derita selama ini.
"Ta-pi mba, Mas Rudi harus tau, bagaimana pun dia adalah suami mba." ku lihat Alan tak setuju dengan perkataanku.
"Al, yakin sama mba, suatu saat mba akan memberitahu penyakit mba kepada Mas Rudi, kalau mba sudah siap."
"Mba yakin,"
"Yakin sekali."
"Baiklah, kalau menurut mba itu yang terbaik, aku akan menjaga rahasia ini."
Kami sama-sama melempar senyum, tanda Alan setuju untuk menyimpan semua rahasia penyakitku.
"Mba, aku sudah beri resep obat untuk mba minum." ucapnya sembari memapah aku ke luar dari rumah sakit.
"Ta-pi ...."
Ada sedikit keraguan tentang biaya berobatku, di tambah lagi penebusan obat yang bukan harga murah, melainkan ratusan ribu, mana sanggup aku bayar."
Terlihat sekali, pria yang memapahku, menghelap nafas, seraya berkata.
"Mba, tak usah memikirkan, biaya apapun, yakinlah, semua biaya sudah aku yang tanggung, cukup mba, berusaha untuk yakin bisa sembuh."
Aku dan Alan segera pergi menuju rumah, untung saja suamiku belum pulang.
Tadinya aku akan mengenalkan Alan, kepada Mas Rudi, tapi karna Alan sedang sibuk, biarlah, bisa kapan-kapan.
Banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan, setelah pulang dari rumah sakit, membuat aku tak sanggup mengerjakan pekerjaan rumah, masih terasa lemas tapi harus aku tahan.
Untung Dodi anteng, jadi aku bisa. merebahkan tubuhku, sedikit berkurang rasa sakitnya.
Tid .. Tid ..
Suara mobil suamiku datang ...
Segera ku hampiri Mas Rudi, ta-pi kulihat wajahnya yang seperti kelelahan, dan melihat seisi rumah seperti kapal pecah, menatap kesal kearah wajahku.
"Sudah pulang pah," ucapku sembari mencium punggung tangan suamiku.
Dia menatap ke arah tampilanku, sehabis pulang dari rumah sakit, aku lupa mebenahi diriku, semejak sakit kepala yang aku rasakan akhir-akhir ini membuat malas sekali berdandan.
Baru saja aku ingin menjelaskan semuanya, suamiku langsung membereskan semua mainan Dodi yang berserakan, awalnya aku melarang.
Namun, dia tidak mengubris laranganku, Mas Rudi terus saja mengerjakan pekerjaan rumah, yang belum aku selesaikan dari tadi pagi.
Pagi hari ...
__ADS_1
Aku sudah berusaha, bagun dari tempat tidurku, tiba-tiba sakit kepala ini menyerang, sakit sekali.
Yang tadinya akan membuatkan sarapan untuk suami, ku urungkan lagi dengan tertidur di tempat tidur.
Jam sudah menujukan pukul 7 pagi, suamiku memanggilku, berteriak-teriak, hingga harus memaksa untuk bangun, dan menghampiri Mas Rudi, wajahnya yang teramat kesal menatapku lekas, dan kata-kata, yang ia lontarkan sedikit menyakiti perasaanku.
"Dasar kamu pemalas, lebay." aku terdiam ketika tutur kata Mas Rudi seperti itu, ku anggap mungkin dia kelelahan karna aku.
Dia memberiku uang gaji sebesar 5 juta, yang membuat aku menohok, dia menyuruhku, untuk membenahi diri pergi ke salon, jujur saja awalnya aku senang, ta-pi aku teringat ibu, yang selalu datang tanpa di undang meminta jatah.
Aku hanya terdiam dan mengangguk, sempat akan aku lontarkan kata-kata, tapi terlihat sekali suamiku sudah di rendungi dengan emosi.
Benar saja baru Mas Rudi pergi, ibu datang ke rumah, meminta jatah uang bulanan.
"Ami ... Ami ..." teriak wanita tua itu, membuat kupingku sakit.
"Ibu, ada apa yah?" ucapku menghampiri wanita tua itu.
"Mana, jatah ibu," jawabnya sambil menyodorkan tangannya di hadapanku.
"Ada baiknya ibu minta ke Mas Rudi saja, soalnya ..."
Belum sempat perkataan yang aku lontarkan wanita tua itu langsung menggegam tanganku dengan kencang.
"Heh, kamu, wanita tidak tahu diri, kamu bisa hidup enak dari siapa? Kalau bukan dari anakku," cecarnya mendorongkan tubuhku hingga ke lantai.
Ibu menghampiri meja dan kebetulan di atas meja ada uang pemberian Mas Rudi yang belum aku simpan.
"Lalu ini apa wanita bodoh, ibu ambil tiga juta sisanya buat kamu, masih untung kamu bisa hidup sama anakku." ucapnya sembari menyugingkan bibir atas dan bawahnya..
"Bu, tapi itu jatah untuk keperluan di rumah, belum lagi, aku butuh untuk keperluan diriku." ku coba menarik paksa uang itu, tapi sayang ibu malah, mendorong tubuhku, yang lemah ini hingga kepalaku membentur meja.
"Dasar lemah, sudah ibu mau shoping. dah."
Aku segera mengejar ibu hingga ke jalan raya, aku terlupa, baru saja meninggalkan Dodi anakku, yang tengah bermain di depan rumah, pagar belum aku kunci, segera aku berlari, menghampari rumah, Dodi anakku menghilang.
Aku panik dibuatnya, segera menelpon Mas Rudi.
Tagisanku pecah di kala itu, kemana kamu nak, maafkan mamah nak.
Akhirnya Mas Rudi pulang, dan menanyakan kemana Dodi.
Namun, Mas Rudi malah menamparku, sakit sungguh sakit, hati dan pikiranku.
Untung saja, ada tetangga mengantarkan Dodi pulang, hatiku sungguh lega.
Maafkan mamah nak, gara-gara mamah mengejar nenek kamu hingga lupa dengan kamu.
Setelah kejadian itu, suamiku memarahiku, habis-habisan, awalnya aku ingin berkata jujur tentang kedatangan ibu, tapi ku urungi niat itu, pasti dia tidak akan mempercayai perkataan ku.
Jangan lupa like Komen terus ikuti ceritanya yah.
__ADS_1