Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 283 Keluhan Sisi.


__ADS_3

Pada saat itulah Sisi terpaksa melangkah pergi, karna Sarah yang terus berteriak dan memarahinya. Bagi Sisi sekarang hatinya sudah lega, tapi dirinya juga tak tega. Melihat Sarah di penjara.


Rudi yang menunggu di luar, kini mulai menghampiri Sisi yang berjalan dengan wajah muramnya. Rudi bertanya pada Sisi dengan memegang ke dua bahunya,” Bagaimana, Sisi?”


“ Aku sudah menjelaskan semuanya, Tentang Kesalahanku di masa lalu,” ucap sisi pada Rudi.


“ Terus, apa jawaban salah padamu saat itu?” tanya Rudi pada Sisi yang terlihat sedih.


“ Sarah memarahiku, mengusirku. Dia tak ingin lagi melihat wajahku. Aku sangat menyesal Rudi, karna telah membuat Sarah menderita,” ucap Sisi.


“Sudahlah, tak perlu menyesali masa lalu. Yang terpenting kamu sudah menyadari apa yang kamu lakukan dan bertanggung jawab,” balas Rudi.


“Iya, hanya saja ....”


Belum perkataan Sisi terlontar, panggilan telepon pun menyala, di mana Rudi langsung mengangkat panggilan telepon itu.


“Halo.”


“Halo, papah.”


Ternyata suara Dodi begitu menggema di telinga Rudi, membuat ia tersenyum senang.


“Dodi.”


“Papah kapan pulang?”


“ Sekarang papah pulang kok!”


“Ya udah, papah hati-hati pulangnya. Dodi tunggu di rumah sakit sama mamah.”


Rudi mulai berpamitan pada Sisi untuk pulang , ia tak sabar menemui keluarga yang ia dambakan dari dulu. Di mana Rudi menginginkan kebahagiaan bersama keluarga kecilnya yang utuh.


@@@@@


Di tengah kebahagiaan Rudi, Sarah menjerit seakan tak menerima dengan apa yang di katakan Sisi. Ia mengacak rambutnya kesal.


“Ahhk, kenapa malah menjadi seperti ini.” Teriak Sarah. Membuat para tahanan wanita yang berada di ruangan Sarah terganggu, mereka terbangun dari tidur siang mereka.


“Ba”gs*t tuh, cewek ngapain dia teriak- teriak seperti itu.” Gerutu tahanan wanita yang duduk dengan menyilangkan kakinya.


“Biar gua beri pelajaran dia, biar enggak berisik,” ucap wanita berambut pendek, dengan tato yang menempel pada tangannya.


Wanita bertato itu sanggatlah di takuti di ruangan tahanan itu, membuat mereka tak berani dan hanya bisa menurut saja apa yang diperintahkan. Sebut saja namanya Yesi


Wanita berambut pendek dengan tato di tangannya, mulai berdiri menghampiri Sarah yang menangis keras.

__ADS_1


“He.” Tangan Yesi mulai memukul pelan bahu Sarah.


Sarah yang masih saja menangis, mengabaikan Yesi.


Yesi yang kesal, malah mendorong tubuh Sarah. Sampai di mana Sarah tersungkur jatuh. Membuat para tahanan di sana tertawa melihat wajah Sarah basah dengan air mata.


Yesi langsung menghentikan tawa para sahabatnya yang berada di ruangan penjara itu, dengan mengangkat tangan membuat mereka langsung diam seribu bahasa.


Sarah kesal, ia berdiri dan langsung mendorong tubuh Yesi begitu saja. Membuat para tahanan membulatkan kedua mata mereka, tak percaya Sarah berani melawan orang yang di takuti di dalam penjara.


Yesi tersenyum kecil, ia mengusap hidungnya dengan punggung tangannya dan berkata,” jadi kamu mulai berani padaku, anak baru?” Tanya Yesi, berdiri dan mendekat ke arah Sarah.


Yesi mengepal-ngepal kedua tangannya, yang sudah bersiap- siap memukul wajah mulus Sarah. Sedangkan Sarah sudah tahu apa yang akan dilakukan wanita yang berani mendorong tubuhnya. Sarah hanya menatap tajam wajah Yesi.


“Memang ya, kalau aku berani kamu mau apa?” tanya Sarah pada Yesi.


Semua orang yang berada di ruangan itu, benar- benar takjub dengan Sarah, orang pertama yang berani melawan wanita yang di takuti di penjara.


“Banyak ngomong kamu.”


Kini Yesi mulai melayangkan satu pukulan ke arah wajah Sarah, namun dengan sigap Sarah menahan tangan yang akan memukulnya.


“Kamu mau memukulku?”


Sarah tersenyum kecil, sedangkan Yesi berusaha. Melepaskan genggaman tangan Sarah yang akan memukul wajahnya.


“kamu.”


Sarah tertawa pelan, saat itulah ia mulai membalikkan tangan Yesi, hingga wanita itu meringis kesakitan.


“Aw.”


“Kenapa sakit?”


Sarah semakin menjadi- jadi, ia terus membalikkan tangan Yesi, hingga tangan wanita bertato itu mengeluarkan suara tulang yang seakan patah.


“Ahhk.”


Jeritan Yesi terdengar oleh para penjaga di dalam penjara, membuat para penjaga menghampiri suara jeritan itu.


Sarah dengan liciknya, melepaskan tangan Yesi dan mendorong tubuh Yesi begitu saja.


“Aw.”


Saat itulah Sarah duduk dengan posisi seperti biasa, agar para penjaga tak mencurigainya.

__ADS_1


“Ada apa ini, kalian berkelahi?” Tanya salah satu penjaga menatap para tahanan di ruangan itu.


Mereka tidak ada yang berani mengatakan apa yang sudah di lakukan Sarah pada Yesi, karna rasa takut mereka.


Yesi, mulai merasakan tangannya seakan lemas dan begitu sakit.


“Kamu kenapa?” tanya polisi penjaga itu pada Yesi.


Yesi mulai mengatakan apa yang terjadi, tapi saat ia melihat wajah Sarah. Saat itulah ia tak berani mengatakan apa yang sudah terjadi pada dirinya.


Saat itulah Yesi, hanya bisa menggelengkan kepala dan diam dengan rasa sakit yang ia rasakan pada saat itu.


“Jangan ada keributan lagi di ruangan ini. Jika kalian ribut, kami tak segan- segan menghukum kalian semua.” Tegas polisi penjaga.


Semua tahanan di sana mulai menjawab dengan bersamaan,” baik.”


Saat itulah para polisi penjaga, mengunci kembali sel tahanan.


Saat mereka pergi dan tak terlihat lagi, Sarah tertawa terbahak- bahak membuat Yesi melangkah mundur menjauh dari hadapan Sarah.


Dengan tangan yang benar benar terasa sakit, kini Yesi meminta bantuan pada sahabatnya.


Saat sahabatnya ingin membantu Yesi, menyembuhkan rasa sakit pada tangannya. Pada saat itulah Sarah mulai berucap,” Jika ada yang membantu dia, aku yakin kan orang itu akan sama seperti dirinya.”


Ucapan Sarah membuat para tahanan sangatlah ketakutan, tidak ada yang berani membantu Yesi pada saat itu. Walaupun sahabatnya yang dekat sekalipun dengan Yesi, ya malah menjauh Yesi.


“Lisa kenapa?” Tanya Yesi.


“Maaf, Yesi. Aku tak bisa bantu kamu!” jawab Lisa sahabat yang begitu dekat dengan Yesi saat di dalam tahanan.


Sarah sangat senang dengan apa yang ia lihat, di mana Yesi di jauhi oleh semua tahanan dan tak di takuti lagi. Kini yang berkuasa adalah Sarah.


“Kurang ajar, dia sudah membuat harga diriku jatuh di dalam penjara ini. Awas saja, aku tidak akan tinggal diam.” Gerutu Yesi dalam hati.


@@@@


Sisi kini mulai pulang ke rumahnya, dengan wajah cemberut. Ia mulai menghadapi suami yang tengah menunggunya di depan rumah.


Di mana Arpan, kini duduk di kursi roda. Karena kedua kakinya yang belum pulih, akibat siksaan yang dibayangkan Sarah.


Arpan melihat mobil sang istri yang sudah di terparkir di depan, membuat bibir tersenyum senang.


“Istriku sudah pulang.”


Melangkah menuju Arpan, membuat Arpan heran dengan wajah istrinya yang seakan tak bersemangat.

__ADS_1


“Kamu kenapa, sayang?” tanya Arpan.


“Aku tidak kenapa- napa kok, mas!” jawab Sisi. Ia mulai mendorong kursi roda suaminya untuk masuk ke dalam rumah.


__ADS_2