
Setelah percakapan dengan Ami, Rudi langsung naik lagi ke dalam mobil.
" Maaf ya. Arsyla, kamu jadi nunggu lama, tadi istriku Ami menelpon," ucap Rudi. Raut wajahnya terlihat sekali bahagia saat sang istri menelpon dan menanyakan keadaannya.
"Senang amat ditelpon sama istri," ketus Arsyla. Bibirnya seketika mengkerut, hatinya merasa kesal dengan ucapan yang terlontar dari mulut Rudi.
Rudi terseyum seraya berkata," tentu senanglah, dia kan bidadari duniaku. Tanpa Ami istriku, mana mungkin aku sekarang sebahagia ini, memangnya kenapa?"
Arsyla, seakan kaget dengan pertanyaan Rizki karna dia tiba-tiba menjawab seperti itu.
"Enggak kenapa-napa. Cuman aku iri sama Mba Ami yang bisa mendapatkan Mas Rudi yang baik ini," ucap Arsyla memuji Rudi.
Tangan Rudi tiba-tiba mencubit kedua pipi Arsyla saat itu, ia berkata. "Kamu juga akan mendapatkan lelaki yang baik dan perhatian. Jika kamu selalu baik pada ibumu dan juga orang lain."
Arsyla, mengusap kedua pipinya. Yang terlihat sedikit memerah karna cubitan Rudi.
"Hah, mulai lagi, apa hanya orang baik yang mendapatkan pasangan yang baik?" tanya Arsyla menatap pada kaca mobil.
Rudi langsung menyalakan mesin mobil untuk segera pulang ke rumah.
"Tentu saja. Jangan jadi orang baik saja. Tapi jadilah orang yang selalu ikhlas menerima semuanya!" jawab Rudi. Arsyla, langsung mengekerutkan bibirnya, tak suka dengan perkataan Rudi yang menasehati dirinya.
Yang dia pikirkan hanyalah, orang baik tak jauh dari orang munafik.
Arsyla hanya menatap kaca mobil, tak berani lagi menatap ke arah Rudi. Karna ucapan Rudi yang selalu memuji istrinya itu.
"Loh, ko diam. Adik kecil," ucap Rudi. Menggoda Arsyla.
Arsyla tetap saja diam mengabaikan godaan Rudi. Ia tak suka jika dibilang adik kecil. Karna dirinya sudah dewasa.
"Oh, ya. Mba Ami juga pake hijab ya. Arsyla mau tanya, cantikan Arsyla apa Mba Ami?" tanya Arsyla. Rudi langsung tetohok kaget saat Arsyla bertanya sedemikian. Membuat dirinya seketika ingin tertawa.
"Tentu saja cantikan, Mba Ami lah! Karna dia kan istri Mas Rudi!" jawab Rudi membuat Arsyla melipatkan kedua tangannya. Arsyla seperti anak kecil yang tengah marah.
"Berarti Arsyla tidak cantik?" tanya Arsyla. Yang semakin penasaran dengan jawaban Rudi.
"Cantik lah!" jawab Rudi.
Arsyla tidak puas dengan jawaban Rudi karna dia terus memuji istrinya.
Diperjalanan menuju pulang Arsyla tetap saja diam, ia seakan marah dan kesal karna Rudi. Yang tak memujinya.
" Kamu ko cemberut, Arsyla?" tanya Rudi.
Arsyla membalikan wajah, seraya berkata." Aku ngambek sama Mas Rudi."
"Loh, kenapa?" tanya Rudi, terseyum kecil.
Rudi mulai merasa Arsyla menyukai dirinya, karna dengan ngelagatnya juga sudah kelihatan, seperti wanita yang jatuh cinta dengan seorang pria.
__ADS_1
"Mas mau nanya sama kamu?" tanya Rudi. Berharap Arsyla menjawab dengan jujur.
"Nanya apa!" jawab Arsyla sedikit ketus.
"Apa kamu menyukai Rafa?" tanya Rudi. Membuat Arsyla nampak syok dan kaget.
"Tentu saja aku tidak menyukai dia dari dulu!" jawab Arsyla. Dengan nada sedikit meninggi.
"Kenapa?" tanya Rudi. Karna keingin tahunya.
"Dia bukan tipe aku!" jawab Arsyla. Terlihat gadis berhijab biru itu begitu kekanak-kanakan.
"Coba untuk belajar mencintai. Orang yang kamu tidak cintai," ucap Rudi. Memberi nasehat untuk gadis berhidung mancung itu.
"Namanya hati tidak bisa dipaksakan," jawab Arsyla sedikit membentak.
"Emh, emang tipe kamu seperti apa?" tanya Rudi. Berharap Arsyla menjawab.
"Seperti Mas Rudi!" jawab Arsyla.
Rudi tertawa terbahak-bahak dan menjawab." Masa tipe kamu om-om."
Arsyla semakin kesal dengan jawaban Rudi saat itu, Iya semakin mengerutkan bibir atas bawahnya. dan memalingkan muka ke arah jendela luar.
"Akh, Mas Rudi enggak seru, di ajak bicara serius malah bercanda," ucap Arsyla ketus.
Rudi tak henti tertawa terbahak-bahak, sementara Arsyla semakin kesal melihat Rudi yang terus tertawa tiada henti.
"Justru yang udah om-om itu, orangnya perhatian dan juga dewasa. Belum lagi Mas Rudi udah om-om juga masih terlihat tampan," ucap Arsyla.
Lelaki berbadan kekar itu langsung mengusap kasar wajahnya seraya beristigpar dan memohon ampun kepada sang maha kuasa. Karna sudah tertawa keterlaluan.
"Kan Mas Rudi udah punya istri, kalau tipe kamu kaya Mas, cari yang duda. Atau cari pria dewasa yang belum menikah," ucap Rudi. Ia menatap ke luar jendela, menatap pada cermin seraya bergumam dalam hati," udah kaya aki-aki gini. Masih disukai gadis."
Rudi bergidik ngeri melihat dirinya sendiri didepan kaca mobil.
"Mas Rudi. Memang enggak mau punya istri dua?" tanya Arsyla.
Rudi tersentak kaget, saat Arsyla berkata seperti itu. Ia menelan luda. "Kenapa pertanyaan Arsyla semakin panjang," gumam hati Rudi. Dengan bijaknya Rudi berkata.
"Mas lebih suka punya istri satu. Karna mas sadar diri belum bisa membahagiakan satu istri mas sampai ajal menjemputnya!" jawab Rudi.
Arsyla seakan kesal dia seakan tak punya peluang untuk bisa membuat hati Rudi luluh.
Arsyla sangat senang dan suka dengan lelaki dewasa.
"Pertanyaan kamu ini, membuat mas ingin terus tertawa," ucap Rudi.
Dreet ....
__ADS_1
Suara ponsel Rudi bergetar, tanda Arpan menelpon.
"Loe masih dimana, Rud?" tanya Arpan dalam sambungan telepon.
"Gue masih di jalan!" jawab Rudi.
"Loe harus hati-hati, sepertinya Rafa menyusul," ucap Arpan.
"Oke."
Telepon pun langsung dimatikan sebelah pihak.
Arsyla yang penasaran dengan percakapan Arpan langsung bertanya?" Kenapa?"
"Sepertinya calon suamimu ingin bertemu denganmu, Arsyla."
"Maksud Mas Rudi? Rafa!"
"Emh."
Arsyla nampak ketakutan, ia takut jika Rafa melakukan sesuatu padanya.
"Kamu takut, Arsyla?" tanya Rudi. Terseyum kecil padanya.
"Aku takut sekali, Mas Rudi!" jawab Arsyla.
"Kamu jangan takut, mungkin saja Rafa. Ingin menjelaskan semuanya padamu," ucap Rudi.
Arsyla yang mendengar Rudi berkata seperti itu, mendengkus kesal. Rasanya tak percaya jika Rudi berbicara yang seakan mendukung Arsyla dengan Rafa.
"Jadi Mas, ingin mempertemukanku dengan Rafa," ucap Arsyla."
Rudi menganggukan kepala seraya berkata," kamu tak usah takut, Rafa pasti anak baik. Sepertinya dia tulus padamu!"
"Mas Rudi, apa-apaan sih. Sudah tahu dia sudah menyentuh tubuhku. Dia itu tak jauh dari lelaki tidak tahu diri dan tidak punya perasaan."
Arsyla terlihat begitu marah pada Rudi.
"Kamu harus tenang, bagaimana pun Rafa kan ingin bertanggung jawab."
"Pokonya aku tidak mau. Walaupun dia mau bertanggung jawab tidaknya, aku tidak mau menikah dengannya."
"Arsyla, jangan egois. Semua sudah terjadi. Kamu menikahlah dengan Rafa. Terima dia apa adanya."
"Tapi aku tidak mencintai dia."
Rudi mempunyai cara agar, Arsyla sadar akan dirinya.
Lelaki berbadan kekar itu malah memutar balikan mobil.
__ADS_1
Kemanakah Arsyla akan dibawa?"