Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 58 Teror itu ternyata


__ADS_3

Pagi hari ...


Tok ... tok ... tok.


Ketukan pintu dari kamar Delia, wanita bermata sipit itu membuka matanya. Begitu susah tubuhnya digerakan, ternyata Alan menghempit tubuhnya.


Akh. Alan ini benar-benar ya, gerutu hati Delia.


Delia langsung meraih kuping suaminya dan meneriaki." Banguunnnnn."


Sepontan Alan terkejut dan bangun, mengusap-ngusap telinganya yang memerah.


Delia terkekeh seyum, melihat telinga sang suami memerah.


"Bisa gak, kalau bangunin suami itu dengan kata-kata lembut. Bangun sayang sudah pagi. Nah, kan gitu enak," ucap Alan.


"Ogah," jawab Delia. Memanyunkan bibirnya.


Dengan sigap Alan langsung mencium bibi istrinya itu.


"Alan," teriak Delia.


Alan terkekeh ketawa, Delia langsung memukul-mukul dada bidan suaminya, hingga tatapan mata mereka saling beradu.


Pipi Delia kian memerah, melihat ketampanan Alan yang memancar di pagi hari. Membuat jantung Delia berpacu lebih cepat.


Hening, tatapan itu kian berlanjut. Hingga Alan mencium kening sang istri.


Ceklek ...


"Ya, ampun maafin ibu," ucap wanita tua yang tak lain ibu Delia masuk tiba-tiba.


Dekapan tubuh mereka langsung memencar, membuat mereka menjadi salah tingkah.


"Bu, ko gak ketuk pintu?" tanya Delia. Ada rasa malu menghantui dirinya.


"Loh, ibu dari tadi ngetuk-ngetuk pintu. Sampai pintunya terbuka. Jadi ibu kira kalian masih tidur!" jawab ibu. Membawa nampan berisi minuman.


"Loh, ibu ko repot-repot segala. Bawain kami minuman," ujar Alan.


"Engga sama sekali, ibu sengaja bikinin kalian jamu, biar kalian seger. Kan semalam habis bertempur," ucap wanita tua itu. Membuat Delia dan Alan saling menatap satu sama lain.


"Ya sudah, ibu letakin di sini ya. Awas minum jamunya. Biar bisa bertempur lagi nanti malam, pengantin baru masih seger-segernya."


Tawa wanita tua itu berlalu pergi begitu saja.


Alan dan Delia hanya menggangukan kepala, ketika sang ibu berbicara.


"Apa liat-liat," ucap Delia. Matanya memalingkan ke arah kiri. Alan yang melihat raut wajah Delia ia langsung terkekeh ketawa.


"Galak amat," goda Alan. Membuat pipi Delia begitu memerah.


"Apa sih," ketus Delia.


Alan langsung meraih tangan Delia, menarik kedalam kasur hingga tubuhnya wanita bermata sipit itu terbaring.


"Apaan sih kamu Alan, minggir gak."


Alan meraih dagu istrinya itu, memegang kedua tanganya Delia keatas kepala.


"Lepaskan gak."


Alan mengeleng-gelengkan kepalanya, tanda ia tidak mau melepaskan Delia begitu saja.


"Aku lepaskan kamu, tapi kamu harus aku gigit dulu," ucap Alan. Menumpangi tubuh Delia.

__ADS_1


"Engga mau," teriak Delia.


Nafas Alan semakin terasa oleh Delia saat itu juga.


Delia meronta-ronta seperti kucing yang tengah tertangkap oleh tuannya.


"Engga bisa kabur," ucap Alan. Terseyum kecil, bibirnya hampir menyentuh leher Delia.


Dan Brug ....


Alan terguling dari kasur, karna tendangan kaki Delia mengenai burungnya.


"Rasain emang enak," ucap Delia.


Saat itu, Delia langsung meminum jamu dari ibunya itu.


"Haus kamu?" tanya Alan terbagun dari teras.


Delia tak memperdulikan perkataan Alan ia berlalu pergi untuk segera mandi.


Air mengalir mengenai tubuhnya, ia terseyum sendiri memikirkan kejadian baru saja. Memegan bibir dan berkata. " Ada apa dengan hatiku ini."


"Delia, lama sekali. kamu pingsan ya," teriak Alan menggedor-gedor pintu kamar mandinya.


Delia terbangun dari lamunananya.


"iya, bentar. Bawel banget sih," teriak Delia.


Alan terkekeh ketawa." Jangan lama-lama. Aku mau ke rumah sakit."


"Iya, Alan ini juga udah mau selesai ko."


"Ayo, buruan. Atau aku dobrak ini pintu!"


Delia kaget hingga ia mempercepat mandinya.


"Ini udah."


"Tunggu," tangan Alan meraih telinga Delia.


Delia menyingkirkan tangan itu." kamu."


Alan menunjukan gumpalan busa, dia meperlihatkan pada istrinya. Seraya berkata." Mandi itu yang bersih."


Alan mendorong tubuh Delia ke kamar mandi.


"Mau apa kamu?" tanya Delia.


"Mau mandiin kamu lah?"


Delia menghempaskan tubuh Alan dan berlari dengan perasaan takut.


Alan tertawa terbahak-bahak.


"Delia ... Delia."


************


"Luky, apa kamu baik-baik saja?" tanya Sisi. Menegok Lelaki bertubuh gendut itu di penjara.


"Sisi, loe!" jawab Luky.


"Keadaan gue sekarang seperti ini, menunggu polisi menyelidiki apa benar gue pembunuh Fairus," ucap Luky memegang jeruji besi.


"Tenang, gue bakal bantu loe keluar dari sini. Sebisa mungkin. Gue udah bikin rumah loe jauh dari penyelidikan polisi!" jawab wanita berwajah bulat itu. Membuat Luky sedikit bernafas lega.

__ADS_1


Ia berbisik dari hati, bisa diandalka juga ini cewek.


"Kenapa mereka punya barang bukti seperti pisau berdarah?" tanya Sisi.


"Tenang ko, itu hanya darah hewan. Aku sengaja memancing detektif murahan itu, membuat jejak palsu," ucap Luky. Sisi nampak senang dengan jawaban itu.


"Berarti aku tak usah, bersusah payah mengeluarkan kamu Luky?" tanya Sisi terseyum lepas.


"Tenang saja, kamu enggak usah khuatir. Aku lebih handal mengecoh mereka semua," ucap Luky.


"Bagus."


"Sekarang tugas kamu, hanya meneror mereka semua. Membuat mereka merasa ketakutan," perintah Luky. Pada wanita berwajah bulat itu.


"Baik," Sisi berlalu pergi. Dengan topi yang sedikit menutup wajahnya.


Brug ...


Seseorang telah menabrak Sisi saat tengah berjalan keluar dari penjara.


"Mba, mba tidak apa-apa?" tanya sosok lelaki itu. Memegang tangan Sisi.


Sisi menatap sekilas, yang ia lihat ternyata Rudi.


Pegangan tangan itu membuat gemuruh jiwa kian meresah.


"Maafkan suami saya ya, Mba," ucap Ami. Membuat sisi mencibik bibirnya.


Rudi dan Ami tak menyadari wanita itu adalah Sisi, karna penyamarannya yang begitu terlihat sempurna.


Sisi tak menjawab, karna takut suaranya akan dikenali oleh Ami dan Rudi. Wanita berwajah bulat itu berlalu pergi menghiraukan Ami dan Rudi yang meminta maaf.


"Mba maaf," teriak Rudi.


Ami dan Rudi saling menatap satu sama lain.


"Ko aneh ya, pah. Tu orang?" tanya Ami pada suaminya itu.


Rudi mengangkat kedua pundaknya.


"Ami, Rudi," panggil Delia tergopoh-gopoh berlarian menghampiri Rudi dan Ami.


Mereka berdua berbalik arah melihat Delia memanggil nama mereka.


"Delia."


"Kalian sudah ada di sini?"


"Barusan baru datang!


"Kemana Alan, suamimu?


"Dia ada jadwal untuk oprasi pasien di rumah sakit, jadi gak ikut."


"Ya, udah kita barengan."


Berjalan beriringan, Delia melihat Ami dan Rudi saling bergandengan membuat dia seakan cemburu. Menepak hati agar ingat pada Alan. Untuk segera berusaha menerima Alan sebagai suaminya.


Saat di dalam sel tahanan, Luky melihat siapa yang menengok dirinya membuat dia mengamuk secara tiba-tiba.


"Kalian datang juga, apa kabar."


Tawa Luky terdengar begitu nyaring. Membuat Rudi menatap tajam kearah sahabatnya itu.


"Kalian tidak akan bisa membuat aku bertahan di penjara ini. Asal kalian tahu, bentar lagi aku akan keluar," ucap Luky. Sembari tetawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Saat itu polisi menjelaskan semuanya.


Apa benar Luky akan dikeluar dari penjara?


__ADS_2