Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 68 Mengerjai Sisi.


__ADS_3

Delia menggandeng tangan Sisi masuk ke dalam rumah, melangkah kan kaki pelan-pelan takut Sisi tiba-tiba menabrak tembok.


Tiba-tiba terlintas di pikiran Delia mengerjai Sisi dari sekarang, Alan menaruh kursi di hadapan Sisi yang akan melangkah maju ke depan.


Dan brung, kaki kanan Sisi menendang kursi yang berada di hadapanya.


"Aw, sakit."


Sisi meringis kesakitan, Alan dan Delia tertawa kecil. Melihat Sisi menjerit-jerit. Mengusap pelan kakinya.


"Maafkan aku Si, aku engga sengaja. Maaf ya," ucap Delia. Ada rasa puas mengerjai Sisi saat itu.


"Aku lupa sekarang kan kamu adalah ibu mertuaku. Berarti aku panggil kamu, jadi Emak Sisi, atau Mamah Sisi ya?" tanya Delia. Alan menutup mulutnya dengan tangan kiri, karna takut Sisi mendengar tawanya.


"Terserah kamu!" jawab Sisi. Sedikit bernada tinggi.


Sial, sepertinya aku masuk ke liang harimau. Mereka seperti ingin mengerjaiku habis-habisan, gerutu hati Sisi.


"Kamu engga marah kan Si, jika aku panggil emak saja karna, rasanya. Itu enak di lidahku," ucap Delia. Alan mendegar Delia berbicara seperti itu. Membuat bibir Alan terasa gatal ingin ikut berbicara.


"Sayang, Sisi itu masih muda masa kamu panggil dia dengan sebutan emak. Dia kan belum tua," timpal Alan. Membuat Sisi mendengkus kesal. Terlihat sekali rahang wanita berwajah bulat itu mengeras.


"Ups, aku salah ya sayang. Panggil apa dong, soalnya Sisi masih muda. Kenapa juga dia mau menikah dengan papahmu," sindir Delia. Membuat hati Sisi memakin memanas, mengepal kedua tangan.


Seakan ingin mencengkram mulut Delia saat itu.


"Oh, iya. Ya. Kenapa kamu mau nikah sama papahku Si, jadi istri kedua lagi?" tanya Alan.


Medengar pertanyaan itu, Sisi mencambik kesal bibirnya. Ia seakan ingin menelan mentah-mentah kedua insan yang berada di hadapanya.


"Boleh aku tidur," ucap Sisi. Mengabaikan pertanyaan Alan saat itu.


Alan langsung mengangkat kedua pundaknya.


"Oke, aku antar ya," ucap Delia. Memapah Sisi menuju kamar tidurnya.


Setelah sampai di dalam kamar tidur, Sisi terduduk dan meraba-raba ranjang kasurnya. Apa ada benda aneh yang di simpan oleh Delia dan Alan, Sisi seakan curiga. Karna bisa saja mereka berdua menaruh sesuatu.


"Aman," ucap Sisi. Merebahkan tubuhnya perlahan, di atas kasur berwarna putih bersih. Membuat tubuhnya seakan nyaman dan sedikit rileks.


Saat mata Sisi mulai menutup secara perlahan. Mamasuki alam mimpi.


"Ahkkkkkkk ...."


Sisi terperanjat kaget mendengar suara teriakan, " suara apa itu."


Wanita berwajah bulat itu mendengar suara teriakan itu dengan sekasama. Ternyata suara Alan dan Delia yang sedang bernyanyi.


Sisi seakan geram dengan kelakuan mereka, membuat wanita berwajah bulat itu seakan stres dengan keadaanya sekarang.


"Sial kenapa mataku malah tidak bisa melihat, kalau saja aku bisa melihat ku bunuh saja dia," gerutu Sisi.


Suara nyayian itu terus terdengar, bagaimana bisa Sisi betah di rumah, kalau mereka berdua mengacaukan istirahatnya.

__ADS_1


"Awas kalian, ku balas perbuatan kalian malam ini," ucap Sisi mengepal erat satu tanganganya.


**********


Saat itu Alan dan Delia tertawa terbahak-bahak. Mereka tahu pasti Sisi menderita dan tidak bisa istirahat dengan tenang.


Rencana mereka berhasil.


Malam hari dimana Alan memadu kasih dengan Delia, menikmati kemesraan mereka.


"Ahk."


Sura jerit dari kamar Sisi, mereka asik melanjutkan kemesraan mereka, mengabaikan jeritan itu.


Sisi mendengkus kesal, rencananya gagal. Dengan segera meraba-raba setiap dingding, berjalan pelan. Menuju kamar Alan dan Delia.


"Liat saja, aku kerjain kalian sekarang."


Sisi membuka pintu kamar Alan dan Delia, kebetulan saat itu kamar tidak terkunci dengan rapih.


"Sisi," ucap Delia. Tertohok kaget, Delia langsung menghentikan aktivitasnya bersama Alan.


"Maaf Delia, aku kira ini dapur," ucap Sisi tertawa dalam hati. Merasa puasa telah membuat mereka kaget.


"Loh, engga papah. Sini kita main catur bareng," ucap Alan.


"Maksud kalian, bukanya ...,"


Belum Sisi berucap Alan menarik ibu tirinya untuk duduk di ranjang kasur miliknya. Alan menempelkan catur pada tangan Sisi saat itu.


Delia mengedipkan sebelah matanya.


"Emang kamu pikir kami sedang apa?" tanya Delia.


Sisi sedikit malu, rencananya gagal.


Sisi ini bodoh apa gimana ya, jelas-jelas kalau kita sedang bercinta yang di kunci kamar. Mana Mungkin enggak, gerutu Delia.


"Maaf aku engga bisa main catur, kan aku buta. Aku pergi dulu ya," ucap Sisi.


Berlalu pergi bergitu saja. Delia dan Alan tertawa terbahak-bahak, melihat Sisi berlalu pergi dengan wajah merah seperti kepiting rebus.


"Syukurin, emang enak," ucap Delia.


**********


Pagi hari, dimana Sisi turun dari tangga Delia dengan segaja menaruh air bekas lap di bawah lantai. Dimana Sisi tengah menurini anak tangga.


Ketika langkah kakinya mengijak lantai, Sisi malah terjatuh tergelincir.


Semua bajunya basah, karna jatuh tergelincir.


Delia yang melihat pemandangan itu, tertawa bersama Alan.

__ADS_1


"Kayanya Sisi sakit tulang deh, lama -lama di sini," ucap Alan.


"Bisa jadi tulangnya remuk!" jawab Delia.


Wanita bermata sipit itu berpura-pura polos membantu Sisi yang tejatuh di lantai.


membantu perlahan agar Sisi berdiri lagi.


"Ya, bajuku basah," rengek Sisi.


"Oh, sepertinya kamu harus mandi lagi. Mau aku antar!" jawab Delia.


"Pasti ini gara-gara kamu kan," hardik Sisi. Memarahi Delia.


"Ya, mana aku tahu. kalau ada air lap mungkin sudah aku singkirkan. Ya kamu jalan pake mata liat kedapan makanya," sindir Delia.


Sisi yang mendengar perkataan itu, mendorong tubuh Delia.


"Kamu ini, aku buta sekarang tapi kalau nanti sudah sembuh aku hajar kamu," ancam Sisi.


Mendengkus kesal Sisi berlalu pergi. Berjalan pelan.


*******


Sisi berencana menelpon Pak Hendra saat itu, mengadukan kelakuan Alan dan Delia pada ayahnya.


Dengan berpura-pura menangis.


Sudah sepuluh kali menelpon tapi tak ada jawaban, " kemana tua bangka itu."


"Untuk apa kamu menelpon papahku Sisi, percuma saja. Sebentar lagi kamu akan di talak oleh papahku," ujar Alan. Datang tiba-tiba.


Sisi mendengar perkataan itu langsung membantah dengan keras." Tidak mungkin Alan."


Alan mendekat ke arah Sisi, memperlihatkan rekaman suara Pak Hendra. Sisi yang mendengar semua itu, seakan tak percaya.


"Gimana sudah percaya tidak?" tanya Alan. Menatap pada wajah Sisi saat itu.


Kedua tangan Sisi mengepal dengan erat, dia seakan merencanakan sesuatu.


"Mana mungkin, Pak Hendra akan menceraikanku. Dia pasti akan mempertahankan ku," teriak Sisi pada Alan.


"Delia, Delia. Bertobatlah. Apa kamu tak ingin berubah," Nasehat Alan terus terlontar.


"Jangan harap," hardik Sisi.


Alan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tak paham dengan hatimu yang seperti batu Sisi."


"Aku tak perduli, lihat saja nanti apa yang akan aku perbuat."


Tok ... tok ..

__ADS_1


Siapa yang mengetuk pintu?


__ADS_2