Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 229Masa lalu Tama. Berubahnya Sarah


__ADS_3

Sarah masih terduduk termenung, memikirkan perkataan Pak Anton yang mengajaknya untuk menikah.


Lelaki tua itu terus merayu Sarah agar mau menikah dengannya, ia mencoba membisikan rayuan yang begitu menggiurkan.


“Kamu harus tahu Sarah, jika kamu mau menikah denganku. Kemungkinan besar kamu bisa merubah nasibmu dan keluargamu.”


Deg ....


Kata-kata itu yang selalu diinginkan Sarah, di mana dirinya ingin merubah nasibnya yang sengsara menjadi bahagia.


Apalagi tidak ada tulang punggung keluarga selain Sarah, yang harus memenuhi kebutuhan keluarga yang tak habis-habisnya.


Saat itu Pak Anton, mulai memegang dagu Sarah membuat wajah Sarah yang menunduk menatap ke arah Pak Anton.


Tatapan mata mereka saling berpandangan, membuat Pak Anton berucap,” aku akan membuat kamu seperti tuan putri.”


Jantung Sarah berpacu lebih cepat dari sebelumnya, saat Pak Anton berkata seperti itu.


Saat itulah bibir tipis Sarah mulai berucap secara perlahan,” apa bapak bisa menjamin ucapan bapak.”


Pak Anton kini melepaskan dagu Sarah, dia tertawa sembari kedua tangannya merogoh saku celana.


Saat itulah ia berjalan mundur ke arah kursi, yang menjadikan dirinya seorang bos besar pemilik perusahaan. Meletakan tangan di atas meja.


“Tentu Sarah, aku bisa menjamin ucapanku. Kenapa? Kamu masih tidak percaya denganku. HEM.”


“Bukan begitu pak, saya tidak ingin ketika setelah saya menikah dengan bapak. Janji bapak tidak sama dengan yang pertama bapak ucapkan.”


“Hem, jadi begitu ya. Kamu tenang saja, akan kubuktikan dari sekarang, sebelum kita menikah. Tapi ....”


Sarah mengerutkan dahi, seraya berucap,” Tapi ... Apa?”


Senyuman lebar terlihat dari ujung bibir Pak Anton, ia mulai berucap dengan beraninya di depan Sarah,” apa kamu bisa menjamin. Bahwa dirimu itu masih perawan, aku juga takut, jika kamu menipuku dengan wajah polosmu.”


Sarah kini mulai berucap dalam hati,” jadi yang di inginkan tua bangka ini, seorang perawan.”


“Bagaimana, Sarah? Apa kamu bisa menjamin bahwa kamu masih perawan?”


Pertanyaan Pak Anton, membuat Sarah berdiri dan berucap,” tentu saja. Aku masih perawan, karna aku belum pernah pacaran.”


Pak Anton tertawa dengan ucapan Sarah yang polos itu,” baik kalau begitu. Jadi kamu setuju menikah denganku.”

__ADS_1


Pak Anton kini mulai memberikan tanda ucapan dengan menyodorkan tangannya, mengajak Sarah untuk di setuju.


Tanpa berpikir panjang saat itu Sarah mulai menggenggam tangan Pak Anton, bersalaman dengan lelaki itu.


Pak Anton merasa sangat puas dengan apa yang ia lakukan saat ini, keinginannya akan terpenuhi beberapa hari lagi.


Setelah perjanjian itu, kini Sarah mulai melanjutkan pekerjaannya. Langkah kakinya terasa ringan saat keinginannya akan terpenuhi.


Baru saja membuka pintu menuju keluar ruangan Pak Anton, tiba-tiba saja Tama sudah berdiri di depan pintu. Wajah tampannya menatap ke arah Sarah. Namun Sarah hanya menundukkan pandangan berjalan melewati Tama, karna Sarah tak kenal dengan wajah Tama yang sebenarnya.


Setelah Sarah sudah berjalan lebih jauh, pada saat itulah Tama masuk ke dalam ruangan ayahnya.


“Tama, ada apa. Nak?” tanya lelaki tua itu dengan senyum penuh bahagia.


“Ayah, aku hanya ingin memberikan dokumen yang sudah aku buat untuk meeting hari ini!” jawab Tama menyodorkan berkas dokumen kepada sang ayah.


“Kerja yang bagus,” ucap sang ayah melihat isi dari dokumen itu.


“Oh, ya. Tumben sekali Sarah datang ke ruangan ayah? Sebenarnya apa yang kalian obrolkan?” tanya Tama dengan rasa penasaran pada hatinya.


“Tama, dia kan pekerja di kantor ini. Jadi itu terserah Ayah dong kalau Ayah mau panggil dia kapan saja!” jawab sang ayah.


“Aku harap ucapan ayah itu benar. Aku takut ayah mengobrolkan hal-hal yang lain dengan Sarah, hal di luar perkerjaan,” sindir Tama.


Membuat sang ayah hanya mengangkat kedua alisnya, seakan semua harus ia rahasiakan dari anaknya. Jika ia berkata akan kejujuran, kemungkinan Tama tak akan menerima.


“Kamu ini ngomong apa Tama?” tanya sang Ayah.


Tama hanya terdiam, saat itulah tak ada pembahasan apa-apa lagi antara ayah dan sang anak. Tama mulai berpamitan melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Pak Anton hanya tersenyum melihat kecurigaan anak yang begitu besar terhadap dirinya.


“ Maafkan ayah Tama, sebelum kamu mencicipi Sarah. Ayah yang akan terlebih dahulu mencicipi wanita itu.”


@@@@@


Tama kini berjalan, melewati ruangan Sarah. Terlihat wanita sederhana itu Tengah Menatap layar komputer dengan begitu khusyuk.


Membuat Tama sedikit terpesona dengan wajah polosnya, Tama mulai mencuri pandang lewat jendela ruangan Sarah.


Namun pada saat itu, Sarah tiba-tiba membalikan wajah ke arah jendela melihat lelaki tampan Tengah memperhatikan dirinya.

__ADS_1


Tama yang kaget langsung membalikkan wajah, Iya Sedikit grogi ketika Sarah menatap dirinya secara tiba-tiba.


Pada saat itulah ia melangkahkan kaki lebih cepat dari sebelumnya, agar Sarah tidak curiga kepada dirinya. Iya malu akan dirinya yang menyukai Sarah.


Tama takut jika Tama mengatakan rasa cintanya kepada Sarah, untuk kedua kalinya. Dirinya akan di tolak mentah-mentah seperti kemarin.


@@@@@


5 hari sudah berlalu, Pak Anton menuruti apa kemauan Sarah. Beberapa uang selalu Pak Anton transfer untuk Sarah.


Sarah begitu senang dengan janji Pak Anton, Iya memanfaatkan uang itu dengan merubah wajah penampilan.


Membuat Tama sedikit heran, penampilan Sarah yang sederhana kini berubah menjadi wanita yang terlihat glamor.


Padahal Sarah baru saja beberapa hari kerja di sini.


“Dari mana Sarah mendapatkan uang untuk mempercantik diri.” Gumam hati Tama.


@@@@@


Namun di suatu ketika, Tama tanpa sengaja melihat sang Ayah tengah bercakap mesra dengan Sarah di ruangan kantor ayahnya.


"Sarah, tumben sekali pagi sekali dia ada di ruangan ayah."


Tama mulai melihat kedekatan di antara mereka bedua, kedekatan yang tak seperti pekerja dan juga sang Bos Pada umumnya, mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih.


Apalagi dengan sang ayah yang berani merangkul bahu Sarah, mencubitnya terus menerus. sesekali mencium kedua pipi nya.


Apa yang dilakukan sang ayah, Sarah tetap diam saja. biasa akan menerima apa yang diperlakukan Pak Anton kepada dirinya.


"Sarah, apa kamu ada hubungan dengan ayahku?"


pertanyaan kini mulai menyelimuti hati dan pikiran Tama, membuat hati Tama tiba-tiba sakit hati.


"Sarah, apa semudah itu kamu terlena karna uang."


Tama kini mulai berjalan menjauhi ruangan sang ayah, ia seakan tak sanggup melihat kemesraan Pak Anton dan Sarah yang terlihat oleh kedua mata Tama.


Kini Tama berjalan gontai, tubuhnya serasa lemas.


"Aku harus menemui ayah setelah ini, aku tak ingin Sarah menjadi ibu tiriku."

__ADS_1


__ADS_2