Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 71 Pak Hendra menceraikan Sisi


__ADS_3

Melihat bulir bening Sisi berjatuhan, membuat Delia menghampiri wanita berwajah bulat itu.


"Kamu menangis Si," ucap Delia memeluk Sisi saat itu


Yang kian Sisi rasakan adalah, kehangat pelukan itu. Selama ini dia tidak pernah mendapatkan perhatian,


dari sang sahabat maupun keluarga.


Dia seakan ingat kejadian di masa lalu bersama suaminya Andi. Pukulan dan hinaan dari seorang lelaki membuat kepala Sisi terasa sakit.


"Delia, kepalaku sakit."


"Sisi, kamu bertahan ya. Akan aku panggilkan dokter.


Apa ada keajaiban di hati Sisi, sehingga ia menangis dalam pelukan Delia. Apa Sisi berubah.


Sisi meronta kesakitan terus menerus, memegang kepalanya dengan ke dua tangan menjerit.


"Sakit ... sakit."


Itulah yang terucap dari mulut Sisi, wanita berwajah bulat itu, tebayang sosok Ami wanita yang pernah ia jahati.


"Sisi kamu harus sabar," Alan berusaha menenangkan Sisi agar pikirannya.Tenang.


"Tolong aku, sakit rasanya," teriak Sisi. Menggengam erat lengan Alan. Melihat Sisi seperti itu Alan tak kuasa, rasanya ingin menolong. Namun dia tidak ada hak di rumah sakit ini.


Alan tahu, kepala Sisi sakit karna dia berusaha keras mengigat masa lalunya dan kesalahanya.


"Si, jangan berpikir keras. Tenang kan otakmu dan pikiranmu."


Tanpa terasa air mata Alan menetes melihat kesakitannya Sisi saat itu. Dia teringat Ami. Bagaimana yang di alami Ami saat itu hampir sama.


Dokter datang menyuntikan obat pereda nyeri dan juga penenang.


"Pasien terlalu berpikir keras. Mengakibatkan kesakitan yang luar biasa," ucap Dokter. Bernafas lega.


Saat itu Sisi terbaring lemah, Delia yang melihatnya sungguh tak berdaya. " Si, kamu harus kuat."


Wanita berwajah bulat itu membuka perlahan matanya memaksakan diri, agar terbagun.


"kamu istirahat dulu, jangan paksakan."


Delia mendengar ucapan Sisi yang terlontar dari mulutnya kata Ami. dan Ami.


Dari sana Delia mencoba menghubungi Ami. Tapi tetap saja. Tidak di angkat juga.


Semua nampak panik.


Saat itu, Pak Hendra datang membawa lembar surat.


"Papah," ucap Alan.

__ADS_1


"Ada apa Alan, kenapa kalian ko panik?" tanya Pak Hendra.


Alan menjelaskan semuanya membuat Pak Hendra terduduk lemas. Dia menatap lembar surat perceraian antara dirinya dan juga Sisi.


"Baru saja ingin menceraikan Sisi, dia malah terbaring di rumah sakit," ucap Pak Hendra pelan sembari mengusap kasar wajahnya.


**********


Pemuda yang bernama Arpan datang tiba-tiba.


"Loh, bukanya ini. Saudar ya Sisi ya?" tanya Arpan dengan terseyum lebar.


"Kamu yang nolong Sisi kan," ucap Delia.


"Iya, gimana keadaanya?" tanya Arpan


Delia menujuk ke ruangan dimana Sisi di rawat.


Arpan mendengar penuturan kata Delia, merasa ingin menemui wanita yang terbaring di ruangan itu.


"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Delia.


Arpan menujuk seorang gadis, mengenalkannya kepada Delia dan juga Alan.


"Kenalkan ini Dipa, adik ku. Kebetulan Dipa ini sedang sakit. Jadi aku mengantarnya ke sini."


Dipa berlari melihat ke ruangan Sisi, dia berteriak.


Arpan tertohok kaget, menghampiri Dipa dan menarik tangannya keluar dari ruangan Sisi.


Pak Hendra seakan cemburu mendengar tutur kata anak gadis itu, "Dia istriku ada apa?" tanya Pak Hendra membuat Arpan kaget.


"Papah, Sisi mantan istri papah. Bukanya papah telah menceraikannya," timpal Alan.


Pak Hendra seakan salah tingkah.


Dipa tertawa," Masa iya, suaminya om-om."


Arpan menutup mulut Dipa, membawa pergi anak itu.


"Maafkan ke nakalan adik saya."


Semua memaklumi, tapi Delia seakan sadar ternyata ada lelaki yang mengagumi Sisi.


********


Resah gelisa yang di Alami Pak Hendra, hatinya benar-benar di liputi rasa cemburu.


"Nanti setelah Sisi siumam, papah harus segera memberikan surat itu. Pokonya Alan engga mau tahu. Papah tepati janji papah sendiri."


Pak Hendra hanya menunjuk pasrah, mendengar penuturan sang anak. Hatinya masih berharap pada Sisi.

__ADS_1


Mata Alan membulat, ia mendengkus kesal. Rasanya ingin memarahi ayahnya yang plin plan ini.


Delia berpamitan untuk pergi ke toilet pada Alan dan Pak Hendra. Sebenarnya alasa yang sebenarnya ingin menemui Arpan saat itu, ada sesuatu yang Delia rencanakan lewat Arpan.


Delia berniat menghampiri pemuda bernama Arpan itu. Tanpa Alan dan Pak Hendra tahu.


Saat Delia berhasil menemukan Arpan. Delia langsung memanggil lelaki berkulit sawo matang itu, untuk saja pemuda bernama Arpan itu langsung membalikan wajah, seraya berkata.


"Loh, ada apa ya?" tanya Arpan


Ada keraguan di hati Delia, tapi ini terbaik untuk Sisi.


"Arpan, apa kamu mau membantuku?" tanya Delia


Arpan bingung dengan perkataan Delia saat itu," Maksud kamu apa ya?"


Delia membisikan sesuatu ke telinga Arpan. Ada sesuatu hal yang ia ingin bicarakan. Mengenai Sisi.


Entah kenapa setelah berbicaran mengenai Sisi Arpan begitu semangat.


Delia benar-benar yakin bahwa lelaki bersamanya itu bisa bekerja sama dengannya.


Dimana Sisi terbangun, Pak Hendra langsung menghampiri Sisi saat itu. Rasa di hatinya seakan tak karuan, ia mencoba memberanikan diri karna Alan terus saja membisikan sesuatu.


"Cepat temui Sisi. Dan bicara semuanya, Alan tidak suka, papah yang mengulur-ngulur keadaan. Papah harus ingat mamah di rumah."


Saat itu Sisi terduduk, Pak Hendra memanggil namanya.


"Si, apa kamu merasakan mendingan sekarang?" tanya Pak Hendra. Tangan Lelaki tua itu mengusap pundak Sisi.


Sisi terseyum seraya berkata," aku baik-baik saja."


Pak Hendra terhentak kaget, dia seakan berubah, tingkah dan cara bicaranya.


"Baiklah, sekarang. Aku talak kamu Si," ucap Pak Hendra pada Sisi.


"Terimaksih, Pak Hendra telah. Memberikan talak kepadaku. Aku sadar semua kesalahanku, aku ingin merubah diriku yang jahat ini menjadi baik!" jawab Sisi.


Apa benar yang di bicarakan Sisi itu. Pak Hendra sedikit tak percaya, karna takut Sisi hanya membuat kebohongan. gumam hati Pak Hendra


"Kenapa bapak diam?" tanya Sisi.


"Oh tidak, bapak tidak menyangka. Kamu bisa menyesali perbuatanmu!" jawab Pak Hendra dengan keraguan hatinya.


"Ya sudah sekarang kamu bukan istriku lagi Sisi," ucap Pak Hendra.


Ada ras sedih menyelimuti hati Sisi, kalau Pak Hendra menceraikan dirinya, bagaimana dengan nasib hidup Sisi yang buta dan tidak punya apa-apa. Apa dia akan menjadi gembel jalanan. Atau pengemis.


Alan mendengar penuturan kata ayahnya sedikit bernafas lega. Bagaimana pun Alan tidak mau Pak Hendra menjadi suami Sisi, walau pun niat Pak Hendra hanya balas dendam, tapi bisa saja malah ayahnya ini berbalik pikiran.


Dengan keadaan Sisi seperti ini, Alan memberikan fasilitas memadai untuk Sisi bisa melihat lagi, entah apa ada orang yang akan sudi mendonorkan mata untuk Sisi atau keadaan Sisi akan terus seperti ini. Menjadi wanita buta selamanya.

__ADS_1


__ADS_2