
Arpan mendekat ke arah Sisi yang tengah duduk, seakan memikirkan sesuatu. Melihat wanita yang tengah terduduk di soroti terik matahari, membuat wajahnya terlihat berseri. Pagi hari dimana udara masih segar disaat itu matahari mulai menghangatkan tubuh.
Rasa ragu menghantui lelaki yang tengah berjalan itu, menyelimuti hati membuat pikirannya seakan bingbang. Menarik nafas pelan memberanikan diri untuk sekedar mengobrol. Awal pertama yang ia ucapkan pada sang wanita, ialah kata sapaan," Hai ...."
Mendengar sapaan itu, raut wajah Sisi berbalik arah. Mencari sumber suara yang baru saja terdengar oleh telinganya. Kata sapaan itu apakah untuk dirinya yang terduduk di atas ranjang rumah sakit, atau hanya sapaan pada pengunjung lainnya.
Karna ruangan itu tercampur dengan beberapa pasien,
"Apa kamu mendengar sapaanku," ucap sosok lelaki yang tiba-tiba duduk di kursi dekat ranjang Sisi.
Sisi bergumam dalam hati, suara ini? seperti aku pernah mendengar suara ini.
"Siapan kah anda?" tanya Sisi. Raut wajahnya berbalik arah pada suara sang lelaki.
"Apa kamu masih ingat dengan suaraku?" tanya Arpan membuat Sisi mengangkat kedua bahunya, ia ragu dengan tebakannya sendiri.
"Kenapa? Coba tebak saja. Siapa aku ini?" pertanyaan itu membuat Sisi seakan bingung dengan asal ucapnya dia mengatakan." Apa anda pemuda yang pernah menolong saya dari segerobolan pereman!" jawab wanita berwajah bulat itu. Lelaki di sampingnya seakan terseyum, ketika sang wanita yang ia tolong mengigat dirinya.
"Kenapa anda diam? Apa saya salah menebak ya?" tanya Sisi, raut wajahnya begitu manis. Membuat Arpan merasakan debaran pada hatinya, ia segera menahan debaran itu agar rileks dan sedikit tenang.
"Waw, kamu hebat!" jawab Arpan bersorak sembari bertepuk tangan.
Semua pasien yang berada di ruangan, membuka gordeng sembari berkata," jangan teriak-teriak. Ini rumah sakit, bukan hutan."
"Maaf." ucapan kata maaf terlontar dari mulut Arpan dan tak lupa menempelkan kedua tangannya. Menunduk menyadari kesalahanya.
Sisi sedikit terseyum kecil, di kala pasien lainnya memarahi Arpan.
"Loh ko kamu seyum, Sisi?" tanya Arpan. Merayu wanita dihadapanya, matanya terus menatap ke arah raut wajah Sisi.
Tiba-tiba tangan Sisi meraba, ia berniat mengambil air minum. Namun, bukan air minum dalam gelas yang ia pegang melainkan wajah Arpan.
"Loh, maaf aku kira gelas," Sisi tertawa kecil.
Arpan menggeleng-gelengkan kepala, senang dengan tingkah Sisi yang polos.
__ADS_1
Melihat semua itu, Delia dan Alan tertawa. Mengintip di luar ruangan.
"Apa ini akan berhasil?" tanya Alan pada istrinya.
Delia terseyum seraya menjawab!" yakin 100 persen."
Dipa mencari-cari sosok kakanya, entah kemana kakaknya, ia seakan bingung. Karna sang kakak pergi begitu saja.
Gadis berumur lima belas tahun itu, berniat menemui wanita yang sering di ceritakan oleh kakaknya.
Benar saja, saat Dipa datang ke ruangan Sisi. Gadis itu melihat kedua suami istri sedang mengintip, karna penasaran Dipa menghampiri mereka.
"Ko kalian ada di sini? Kenapa hanya mengintip?" tanya Dipa. Delia langsung membalikan tubuh gadis yang baru saja datang, " coba kamu lihat?"
Dipa terseyum melihat pemandangan kakaknya. Ia tak menyangka Kakaknya bisa berdekatan dengan wanita, karna selama ini, Arpan selalu di jauhi oleh beberapa wanita. Karna mayoritas yang selalu mementingkan Dipa.
Bertapa sayang nya Arpan pada adiknya, hingga ia lupa mencari seorang istri. Ditambah lagi sang adik memang sudah mempunyai riwayat penyakit sejak kecil.
Air mata Dipa mengalir, melihat kebahagian kakak nya saat itu, Delia melihat Dipa menangis seakan ingin bertanya pada Gadis disampingnya itu
"Ko, kamu menagis?" tanya Delia mengusap bulir bening yang sudah jatuh pada dasar pipi gadis itu.
Delia semakin bingung dengan jawaban sang gadis, kenapa? Apa selama ini Arpan belum mempunyai pasangan? Itulah yang terlintas di pikiran Delia.
"Apa kakak mu tidak pernah punya pacar?" tanya Delia rasa penasarannya semakin menggebu-gebu saat itu. Ia seakan ingin mengoreksi semua masa lalu sang Dipa dan Kakaknya.
Dipa mengeleng-gelengkan kepalanya, membuat Delia sontak kaget," ko bisa kenapa?"
"Kakak, terlalu sibuk mengurus aku. Yang penyakitan ini!"
Mendengar penuturan kata itu, Delia memeluk erat sang gadis, mengusap rambut hitam sang gadis yang terurai panjang.
"Aku ingin ketika ajal ku datang, kakak menikah dengan wanita pilihannya," ucap Dipa.
Alan mendengar penuturan kata sang gadis, tak sadar pelipih matanya mengeluarkan air mata. Sesak rasanya melihat gadis kecil itu berbicara seperti itu.
__ADS_1
Alan mengusap pundak sang gadis seraya bertanya," apa om, boleh tahu. Kamu sakit apa?"
Dipa membukam mulutnya rapat-rapat. Ia seakan tak ingin membahas penyakitnya dari bawaan sejak lahir.
"Kenapa Dipa diam?" tanya Alan. Mendesak sang gadis.
Saat itu Arpan mendengar suara tangisan Dipa, ia menghampiri sumber suara itu.
"Dipa, kamu kenapa sayang?" tanya sang kakak. Memeluk gadis yang tengah menangis terisak-isak.
"Kakak," ucap Dipa menyebut sang kakak. Tanganya mengusap bulir bening yang terus mengalir itu.
"Dipa, ko kamu nagis sayang. Apa ada yang sakit, coba bilang sama kakak," suara lembut sang kaka. Terlontar pada adiknya. Mengelus pipi yang basah karna air mata.
"Dipa enggak kenapa-napa ko!" jawab Dipa. Pemandangan itu membuat Alan dan Delia tak bisa menahan air mata. Mereka tak sanggup melihat kedua insan di depan mata, bagaikan sakit terasa pada ulul hati. Karna sang gadis begitu sayang pada sang kakak.
"Aku ingin pulang ka," ucap Dipa. Pada Arpan, dengan sigap sang kakak mengiyakan ucapanya.
"Ya, ayo kita pulang."
Arpan pamit pada Delia dan juga Alan, tak lupa pada Sisi, Arpan tak tega melihat Dipa menangis.
Ketika melangkah pergi, Dipa menyodorkan sebuah kertas yang telah ia lipat pada Alan. Terseyum seraya berkata," tolong kabulakan permintaan Dipa ya dok."
"Loh, Dipa ko tahu Om Alan Dokter?" tanya Delia membukukan badannya. Terseyum lebar.
"Dipa tahu, karna dulu kita pernah ketemu di rumah sakit!" jawab Dipa, dengan mata berbinar-binar membuat Alan mengangukan keinginan yang di pacarkan dari sorot matanya.
"Dokter akan usahakan, oke," ucap Alan. Mengusap kepala sang gadis.
Saat itu Arpan memanggil nama sang adik Dipa. Gadis itu menarik lengan Alan yang bediri dihadapannya, seketika membuat tubuh Alan sedikit membungkuk. Membuat Dipa membisikan sesuatu.
Alan setuju dengan perkataan Dipa saat itu. Melambaikan tangan.
Delia, menghampiri suaminya, ia seakan penasaran dengan kertas yang terlipat kecil itu.
__ADS_1
"Apa isi dari surat itu?" tanya Delia.
Alan segera membuka lembaran surat itu, saat di buka. Isi surat itu membuat air mata mereka berdua mengalir.