Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 182 Pertanyaan Ami yang membuat Rudi harus berbohong.


__ADS_3

Setelah berita tentang jatuhnya pesawat, yang belum di temukan sampai sekarang. Dimana di dalam pesawat itu ada korban yang tak lain Dodi dan Alan.


Rudi masih berdiam diri, pikirannya seakan kosong. Apa yang harus ia katakan pada sang istri, jika Ami sadar dan sudah mengingat tentang Dodi.


Apa Rudi harus berbohong seperti kemarin? Kebohongan seakan melekat pada tubuh Rudi. Membuat Rudi seakan lelah harus terus membohongi sang istri walau itu demi kebaikan Ami.


Tapi tetap saja pada hati Rudi, ia tetap salah. Karna terbiasa melakukan kebohongan, hingga kebohongan-kebohongan kecil terus datang silih bergantian.


Bu Sumyati datang mendekat ke arah Rudi yang tengah melamun sendiri, di ruangan Ami.


Wanita tua itu membawa air minum dan juga nasi beserta lauk pauknya.


“ Rudi, ayo makan dulu, nak. Dari semalam ibu perhatikan kamu. Kamu belum makan apa-apa,” ucap Bu Sumyati menyodorkan makanan ke pada Rudi.


Rudi masih saja melamun, tatapannya seakan kosong. Ucapan yang di lontarkan sang ibu, seakan tak terdengar oleh telinganya.


“ Rudi, nak.”


Bu Sumyati menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan sikap Rudi yang begitu lemah. Ia sering melamun ketika ada masalah, tidak seperti biasanya.


“ Rudi, ayo makan nak. Ibu kuatir dengan kesehatan kamu.”


Rudi tetap saja tak menjawab ucapan sang ibu. Saat itulah.


Tangan Bu Sumyati langsung menepuk bahu Rudi, membuat Rudi menatap kearah sang ibu dan berkata,” Eh ibu, kapan ke sini?”


Bu Sumyati tidak menyangka, jika Rudi sampai separah ini. Iya melamunkan anaknya dan juga istrinya sampai tidak menjaga kondisinya sendiri.


Bu Sumyati mulai duduk disebelah Rudi, menaruh piring dan juga gelas berisikan makanan untuk Rudi. “ Cepat makan loh, takut keburu dingin nanti enggak enak,” ucap Bu Sumyati kepada anak semata wayangnya.


“ Ibu bawakan Rudi makanan,” balas Rudi, yang baru saja sadar dengan kehadiran sang ibu.


Padahal dari tadi Bu Sumyati berdiri di hadapannya dan terus bertanya kepada sang anak.


“Iya Ibu bawakan makanan, untuk kamu makan, sekarang ayo kamu makan. Soalnya dari tadi malam Ibu belum lihat kamu makan. Ibu kuatir dengan kesehatan kamu, Rudi,” ucap sang ibu.


“Tak usahlah, Bu. Ibu tak usah repot-repot lagi, Rudi belum lapar kok,” balas Rudi menolak makanan yang di bawakan sang ibu.


“ jangan begitu Rudi, bagaimanapun ,musibah apapun yang menimpa keluarga kamu. kamu harus tetap makan, kamu harus tetap jaga kesehatan mu, itu yang paling penting. Jika kamu sakit siapa nanti yang akan mengurus Ami dan Dodi.”


Rudi terdiam, saat Sang Ibu menasehati dirinya, ia bergumam dalam hati,” benar juga ucapan Ibu, aku harus tetap sehat dan kuat. Dengan apa yang menimpa keluargaku saat ini.”


“Ayo cepat makan, Ibu spesial beliin kamu makanan yang kamu sukan. Coba lihat ayamnya masih hangat, nasinya.”

__ADS_1


“Ya sudah, Bu. Rudi makan dulu ya.”


“ Iya sudah, sekarang Ibu pergi dulu ya, kamu makan yang lahap, jika kurang. Nanti ibu tambahin lagi.”


“Iya bu. Terima kasih Bu.”


“Iya.”


Bu Sumyati langsung pergi, meninggalkan Rudi yang tengah menikmati makanan yang baru saja ia bawa. Hatinya sedikit lega melihat sang anak mau juga makan.


Pak Gunandi datang menghampiri Bu Sumyati dan bertanya,” bagaimana, Rudi mau makan?” tanya sang suami kepada istri.


“ Iya, saat aku bujuk Rudi sekarang, dia mau makan!” jawab Bu Sumyati


“syukurlah, kalau begitu.”


“ Iya Pak, Mama sangat mengkhawatirkan keadaan Rudi yang akhir-akhir ini sering melamun karena berita tentang Dodi.” Keluh Bu Sumyati kepada sang suami.


Pak Gunandi langsung menenangkan sang istri berucap dengan lembut,” yang sabar ya. Ini semua adalah ujian untuk Rudi.”


Bu Sumyati hanya menganggukkan kepala, setelah mendengar ucapan sang suami.


@@@@


“Pah.”


Mendengar Ami menyebut nama panggilan yang biasa ia panggil pada dirinya, membuat Rudi bergegas menghampiri sang istri.


“Sayang, kamu sadar.”


Rudi melihat pada wajah Ami, ia tersenyum lebar mengusap pelan jidat sang istri.


“ Pah. Mamah ada di mana?” tanya Ami. Masih sulit untuk membuka lebar kedua matanya.


“ kamu masih di rumah sakit!” jawab Rudi.


Rudi tak menyangka operasi berhasil, ingatan Ami kembali normal seperti dulu.


“Pah, ke mana anak kita, Dodi?”


Deg .... Pertanyaan Ami membuat Rudi enggan mengatakan kejujuran, dengan terpaksa Rudi berbohong lagi.


“ Kamu jaga dulu ke sehatanmu, jangan dulu pikirkan Dodi. Dia lagi di rumah,” ucap Rudi berbohong.

__ADS_1


“ Memangnya papah tidak bisa panggilkan Dodi, mamah rindu sekali dengan anak kita,” ucap Ami yang bersikeras ingin bertemu dengan Dodi.


Rudi mulai mencari Alasan yang kuat, agar Ami tak harus bertemu dengan Dodi.


“Pah, kenapa papah malah diam saja. Ayo panggilkan Dodi. Mamah ingin bertemu dengannya.”


Tiba-tiba dokter datang, membuat Rudi bisa beralasan dengan kuat.


“ Ibu Ami sudah sadarkan diri?”


Pertanyaan Dokter Ami abaikan, ia tetap bersikeras ingin bertemu dengan Dodi. Tapi Rudi belum memberitahu tentang keadaan Dodi yang sekarang, ia takut tubuh Ami melemah.


Rudi mulai memberi isyarat pada Dokter di sampingnya, agar menenangkan Ami yang terus ingin bertemu dengan Dodi.


“Ibu, tenang dulu ya. Kesehatan ibu belum membaik sebaiknya ibu istirahat dulu,” ucap sang dokter berharap Ami langsung tenang dan mengerti.


“ Tapi, dok. Saya ingin bertemu dengan anak saya,” balas Ami.


“ Nanti ya, setelah keadaan ibu cukup membaik untuk bertemu dengan orang-orang yang ibu sayang,” ucap sang dokter.


Ami mulai terdiam ia tak bertanya lagi tentang keadaan Dodi. Setelah dokter menyuruhnya untuk sabar.


saat itulah Ami hanya pasrah dan menurut kepada dokter yang menanganinya. kini Rudi sedikit lega dengan sang istri yang terus menanyakan keadaan Dodi.


saat itu dokter langsung menyuntikan obat penenang agar Ami tidak terlalu gelisa.


Ami kini tertidur, ia mulai tenang. Sedangkan Rudi datang menghampiri sang ibu yang tengah menunggu di kursi depan rumah sakit.


"Rudi, kamu kenapa? Tanya Bu Sumyati pada anaknya. yang mengacak rambutnya sendiri


Rudi mulai menjawab pertanyaan sang ibu dengan wajah muramnya," Ami sudah sadar sepenuh nya."


Mendengar berita dari Rudi, Bu Sumyati langsung tersenyum senang dan berucap," syukurlah kalau begitu. terus kenapa dengan wajahmu yang muram seperti itu, nak?"


pertanyaan sang ibu membuat Rudi menangis memeluk Bu Sumyati.


" loh, kenapa menangis."


" Ami sudah mengingat semuanya, ingatannya kembali seperti dulu."


" Terus, jika ingatan Ami kembali lagi seperti dulu. Otomatis yang ia.tanya pasti Dodi?"


Rudi menjawab dengan hati tak kuasa kepada sang ibu," iya. bu."

__ADS_1


Bu Sumyati mulai memikirkan cara bagaimana agar Ami tak tahu jika Dodi mengalami kecelakaan dalam pesawat dan jasadnya belum di temukan?


__ADS_2