Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 169 season 3 Bu Sumyati curiga


__ADS_3

Rudi menundukkan pandangan, bibirnya keluh


tak mampu berucap. Sedangkan Bu Sumyati terus menekan sang anak untuk berkata kejujuran.


"Kenapa anakku tiba-tiba diam seperti itu sebenarnya apa yang sudah terjadi," gerutu hati Bu Sumyati.


Bu Sumyati menatap tajam ke arah sang anak, berharap akan kejujuran Dodi. Ia tak mau jika anaknya mempunyai rahasia yang bisa membuat anaknya sendiri tertekan.


Tangan yang sudah berkerut itu memegang tangan sang anak," kenapa kamu diam Rudi? Ayo katakan. Ada apa dengan Dodi?"


Di ruangan Ami, kini hanya ada ketegangan dimana sang ibu ingin mendengar kejujuran dari mulut anaknya sendiri.


"Nak, ayo katakan. Ibu tahu kamu tengah tertekankan?"


Rudi benar-benar tak mampu mengatakan kejujuran tentang Dodi, dimana anak itu yang tiba-tiba berubah seketika, tak ingin menemui Ami dan tak ingin mengaku bahwa Rudi dan Ami adalah kedua orang tuanya.


"Apa yang harus aku katakan, apa ibu akan terluka setelah mendengar kejujuran tentang Dodi yang tak mau menemui Ami." Gumam hati Rudi.


" Rudi Ibu bertanya sama kamu? kenapa kamu diam saja, sebenarnya apa yang sudah terjadi."


Rudi melepaskan tangan tua itu dari tangannya, ia membalikan badan ke arah Ami. Tak sanggup untuk mengatakan keadaan Dodi yang berubah.


"Apa jangan-jangan Dodi tak ingin menemui Ami?" tanya Bu Sumyati yang asal berucap.


Sedangkan hati Rudi tiba-tiba tak karuan, ia tak menyangka ibunya sendiri menyadari apa yang terjadi pada cucunya.


"Tolong jawab pertanyaan ibu, Rudi. Apa benar itu?" tekan Bu Sumyati.


Rudi bingung, dengan apa yang harus ia jawab, karna jika ia mengatakan dengan jujur, ibu akan marah dan kecewa terhadap Delia dan Alan.


"Bu, semua tidak seperti yang ibu katakan. Ibu tenang dulu, ya. Nanti Rudi akan jelaskan," ucap Rudi. Dengan harapan jika Bu Sumyati tak akan bertanya lagi.


Pak Gunandi menghampiri Bu Sumyati dan berkata," sebaiknya kamu tenang dulu. Rudi butuh ketenangan untuk menjawab semua pertanyaanmu."


Pak Gunandi mulai mengajak sang istri untuk pergi ke luar ruangan, ia ingin menenangkan suasana agar tidak ada keributan antara Bu Sumyati dan Rudi.

__ADS_1


"Tapi pah," keluh Bu Sumyati.


"Sudah sebaiknya kita bicaranya nanti saja, biarkan anakmu tenang dulu," balas Pak Gunandi.


Pada akhirnya Bu Sumyati menurut apa pekataan suaminya, mereka pergi tanpa bertanya kembali.


Sedangkan Rudi duduk di atas kursi, sembari memijit-mijit kepalanya yang memang terasa sakit, karna kurangnya tidur dan banyaknya masalah yang ia hadapi.


"Untung saja Pak Gunandi membawa ibu keluar rumah segera," ucap pelan Rudi.


@@@@@


Sedangkan di luar ruangan, Pak Gunandi terus menenangkan sang istri. Dengan mengajak Bu Sumyati untuk pergi ke cafe hanya untuk minum kopi.


"Ibu tak habis pikir pah, Kenapa Rudi tak mau jujur tentang Dodi. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Sampai ibu tanya tentang Dodi, Rudi malah diam begitu saja," ucap Bu Sumyati dengan nada sedikit meninggi.


Wanita tua itu terlihat kesal sekali dengan sang anak yang tak mau jujur.


Pak Gunandi mulai angkat bicara dengan nada lembutnya." Kamu sebagai seorang ibu harus tenang, jangan sampai emosi seperti tadi."


Bu Sumyati tanpa sadar malah membentak sang suami dengan berkata," bagaimana aku sebagai seorang ibu bisa tenang, jika wajah anakku terlihat tertekan seperti itu, saat aku bertanya gimana keadaan Dodi."


"Iya makanya aku bilang kamu harus lebih sabar sedikit. Berikan waktu untuk Rudi agar bisa tenang dan bisa menjelaskan semuanya."


"Tetap saja aku emosi sekali pah, aku jadi kesal dengan Delia dan Alan. Pasti mereka sudah mecuci otak cucuku," gerutu Bu Sumyati. Membuat Pak Gunandi tertawa.


Sedangkan Bu Sumyati malah mendelik kesal, saat suaminya tertawa begitu renyah.


"Papah kenapa sih ketawa begitu?" tanya Bu Sumyati.


Pak Gunandi baru merasakan lagi, kemarahan seorang wanita. Hatinya begitu senang, melihat sang pujaan hati mengamuk tanpa henti dan tak lupa dengan ocehan yang mungkin di dengar orang mengganggu.


"Kamu tahu tidak?" tanya Pak Gunandi. Terkadang lelaki tua itu bisa memanggil istrinya mesrah atau terkadang hanya kata-kata kamu.


"Apa sih!" jawaban Bu Sumyati membuat PaK Gunandi senang. Bagaimana tidak wajah tua Bu Sumyati memerah seketika, saat lirikan mata menusuk pada mata Bu Sumyati.

__ADS_1


"Kamu cantik kalau marah," gombal Pak Gunandi.


Membuat Bu Sumyati tersenyum kecil, hatinya seakan berbunga-bunga saat mendengar rayuan dari seorang suami.


"Malu ya, saat aku katakan begitu?" tanya Pak Gunandi. Membuat kedua mata Bu Sumyati menatap kearah mejah, ia begitu malu dengan kata-kata lembut dan kedipan mesra sang suami.


"Kita ini sudah tua, ngapain coba. Gombal-gombal begini," cetus Bu Sumyati. Dalam hatinya ia sangat senang dengan perlakukan suaminya sendiri.


Pak Gunandi meraih dagu Bu Sumyati, membuat Bu Sumyati malu dan menyingkirkan tangan yang memegang dagunya.


"Sudah ah, kita ini sudah tua bukan anak muda lagi, jadi enggak pantas beginian," ucap Bu Sumyati.


Pak Gunandi tertawa pelan, melihat sang istri salah tingkah tak seperti biasanya. Sepertinya Bu Sumyati sudah tak marah lagi, ia langsung menikmati kopi dan cemilan yang sudah di pesan Pak Gunandi dari tadi.


Pak Gunandi bisa seperti itu berkata Dodi, ia melakukan apa yang selalu di katakan Dodi, jika neneknya tengah marah bujuklah dengan rayuan.


Dan semua itu berhasil.


Pak Gunandi berharap setelah ini Bu sumyati bisa tenang, tak memikirkan tentang Dodi yang belum datang melihat ibunya sendiri.


Beberapa jam menikmati kopi dan cemilan, kini Bu sumyati memesan beberapa makanan untuk Rudi.


Ia tak tega melihat keadaan Rudi yang begitu berantakan, dengan badan yang terlihat kurus. Hatinya rasanya sakit. Anak satu-satunya harus melewati semua ujian yang begitu berat dan bertubi-tubi hingga sekarang.


"Semoga Rudi menyukai cemilan yang ibu berikan, ya. pah."


Saat berjalan menuju ruangan, Pak Gunandi mengigatkan sang istri agar tidak bertanya lagi masalah tadi.


" Jangan bertanya lagi masalah tadi, papah kasian pada Rudi. kamu jangan tekan lagi dia untuk menjawab pertanyaanmu ya. Mah."


"Iyah, pak mamah mengerti, mamah tak akan bertanya lagi."


Pada akhirnya Bu Sumyati menurut dan tak akan menekan lagi Rudi. Ia akan berusaha bersikap tenang saat berada di ruangan dan tak akan bertanya lagi seperti tadi.


Setelah langkah kaki sudah mendekat ke ruangan, Bu Sumyati mendengar suara Rudi yang tengah mengobrol pada ponsel.

__ADS_1


Apalagi dalam. Obrolan itu Rudi menyebut nama Alan.


Apa yang sebenarnya mereka obrolkan?


__ADS_2